Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Adikku sayang (Tagur ke 113)

#tantangangurusiana

Tubuh kurus itu terduduk lemas di kursi. Ya Allah kenapa Engkau uji aku dengan cobaan ini, batin Resty.

Lama Resty duduk menenangkan hatinya. Perlahan dia melangkah menuju kamar Winda. Kamar yang tidak terkunci didorong oleh Resty. Winda sedang asyik mencobakan baju-baju yang dikeluarkan dari paper bag yang tadi dibawanya.

“Winda, tolong jelaskan kenapa ini bisa terjadi?” bergetar suara Resty bertanya kepada Winda.

Winda tidak mengacuhkan pertanyaan kakaknya. Dia masih asyik mencobakan baju-baju barunya.

Resty duduk di pinggir tempat tidur Winda. Baju-baju yang di cobakan Winda baju-baju barnded dan harganya sangat mahal. Dimana Winda mendapatkan uang membelinya? Resty mau menanyakan itu. Tapi surat yang di kirim kampus harus terjawab dulu.

“Winda... coba jawab pertanyaan kakak. Kamu bisa dengar kakak kan?” Suara Resty terdengar agak keras.

“Apaan sih Kak? Menganggu keasyikan orang aja.” Winda menjawab kesal.

“Ini apa maksudnya? Kenapa ini terjadi?” Resty kembali mengulangi pertanyaannya.

“Kakak bisa baca kan? Itu surat peringatan agar aku melunasi uang semester!” ketus jawaban Winda.

“Tapi kakakkan sudah membayar uang semester kamu. Kenapa di dalam surat ini kamu belum bayar.” Resty menatap tajam adiknya.

“Kakak memang sudah bayar, tapi uangnya sudah aku pakai, Kak. Aku perlu uang juga buat beli keperluanku.” Winda menjawab santai.

“Tapi kamu kan sudah kakak kasi uang untuk beli keperluanmu. Kenapa harus menggunakan uang kuliah? Kakak kan tidak punya uang lagi untuk membayarnya” Sesal Resty.

“Mana cukup, Kak. Keperluan aku itu banyak. Lagian ngapain uangnya dibayarkan untuk uang kuliah, kan sayang uangnya. Aku juga tak mau lagi kuliah kok. Udahlah Kak. Aku capek mau tidur.” Winda menjawab ketus.

Winda buru-buru menyusun semua belanjaannya ke dalam lemari. Dia merebahkan badannya di tempat tidur dan memunggungi Resty.

Resty capek dan lelah lahir bathin melihat kelakuan adiknya. Percuma bicara malam ini, Resty akhirnya keluar dari kamar Winda.

*****

Kesibukan di toko hari ini membuat Resty sejenak bisa melupakan masalah yang dihadapinya. Toko kue Resty tidak terlalu besar, tapi pelanggannya cukup banyak. Rata-rata pelanggan adalah pelanggan lama di masa bunda masih hidup.

Penghasilan dari toko kue tidak besar. Tapi cukup untuk mebiayai kebutuhan mereka bertiga dan membiayai sekolah Winda dan Dodi. Winda kuliah di universitas swasta yang cukup mahal. Karena dulu dia yang meminta ke sana. Anak itu mengancam tidak mau kuliah kalau tidak di sana. Resty terpaksa memenuhi keinginan adiknya.

Untuk membayar uang kuliah sekarang, Resty tidak punya uang. Uang kuliah Winda tidak sedikit, dua belas juta persemester. Resty terdiam. Otaknya berpikir bagaimana mencari uang sebanyak itu.

*****

“Kak Winda buat masalah lagi ya, Kak ?” Dodi bertanya sore itu sewaktu membantu Resty di toko.

“Dodi dengar kakak bicara dengan Kak Winda malam tadi.” Lanjut anak itu.

Resty menantap adiknya. Resty tersenyum, Dodi beda dengan Winda. Anak ini selalu paham dan mengerti kesulitannya.

“Iya Dodi, kakak pusing memikirkan bagaimana mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat.” Resty berkata pelan.

“Kalau menurut Dodi usah dibayar aja Kak. Ntar kalau dibayar, Kak Winda tak mau kuliah. Kan sayang uangnya, Kak.” Dodi berkata tegas.

“Tak bisa begitu Dodi, Kakak sudah berjanji ke almarhum bunda untuk menguliahkan Winda. Kakak merasa bersalah kalau tidak bisa memenuhi amanah alamarhum Bunda.” Resty menjawab sedih.

“Kakak tak usah sedih. Kakak sudah berusaha memenuhi amanah Bunda. Cuma Kak Winda saja tak mau kuliah. Itu bukan salah Kakak.” Dodi menghibur kakaknya.

Resty tersenyum. Sikap Dodi jauh dewasa dibandingkan umurnya. Mungkin keadaan kehidupan mereka yang membuatnya seperti itu. Resty bersyukur Dodi paham keadaan mereka. Di dalam hatinya dia selalu berdoa semoga Winda juga seperti Dodi.

*****

Suara Winda yang baru sampai mengagetkan Resty dan Dodi yang sedang makan malam. Anak itu datang dengan membawa sebuah bungkusan di tangannya.

“Ini aku bawakan fizza untuk Kak Resty dan Dodi.” Winda berkata sambil mengeluarkan kotak fizza dari kantong yang dibawanya. Fizza berukuran jumbo terletak di atas meja.

“Kamu dapat darimana, Winda?” Resty bertanya lembut.

“Yealah Kak. Dimakan aja kenapa? Harusnya bersyukur dibawakan.” Anak itu berkata sambil memasukan sepotong fizza ke mulutnya.

“Tapi kakak berhak tahu kamu mendapatkannya darimana.” Tegas suara Resty.

“Pacar aku yang belikan.” Anak itu menjawab santai.

“Pacar ? Roy ?” Resty bertanya. Setahu Resty Roy pengangguran. Anak itu pasti tidak punya uang untuk membelikan fizza ukuran jumbo seperti itu.

“Roy udah ke laut, Kak. Ngapain pacaran sama laki-laki kere macam itu.” Winda menjawab santai.

“Aku tahu pacar Kak Winda, Kak. Bapak-bapak.” Dodi yang dari tadi diam ikut nimbrung.

Resty kaget mendengar perkataan Dodi. Matanya menatap tajam kepada Winda. Winda membalas tatapan kakaknya.

“Betul yang dikatakan Dodi, Winda? Kamu pacaran dengan bapak-bapak? Bukan suami orang bukan?” Resty bertanya tegas.

“Kalau memang iya kenapa, Kak? Apa aku salah? Lagian dia kaya banget, Kak. Dan dia janji mau menikahi aku.” Anak itu berkata tanpa dosa.

“Jelas kamu salah. Kamu bisa dituduh perebut suami orang. Kamu mau dituduh seperti itu ?” Resty menatap tajam adiknya.

“Kak, mencari laki-laki mapan itu sekarang susah, Kak. Lagian aku tidak bodoh, Kak. Aku hanya mau menikah dengan dia kalau dia sudah menceraikan istrinya. Kakak tak usah mencemaskan aku.” Winda menjawab sambil berlalu meninggalkan Resty dan Dodi.

Hati Resty sakit sekali mendengar perkataan adiknya. Tak pernah terbayangkan olehnya Winda akan seperti ini. Resty sedih sekali. Nafsu makannya jadi hilang. Nasi yang masih penuh di piringnya tak sanggup lagi dia telan. Bunda, maafkan Resty tidak bisa mendidik Winda dengan baik, batin Resty.

Bersambung

Dumai, 20-07-2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post