Cinta Masa Lalu (Tagur hari ke 100)
@tantangangurusiana
Menjadi single parent dengan dua orang anak yang masih kecil betul-betul sangat melelahkan. Lelahnya lahir dan batin. Tapi ini pilihanku. Pilihan yang aku ambil setelah berpikir cukup matang.
Menggunakan jasa ART aku belum sanggup. Kemampuan finansiaku belum mencukupi untuk menggajinya. Jadilah semua pekerjaan rumah aku yang mengerjakan. Aku harus bisa membagi waktu sebaik mungkin, jadi ibu,mengurus rumah tangga, dan mencari uang.
Tapi setidaknya batinku tidak tersiksa seperti dulu sewaktu aku masih menjadi istrinya Bang Riko, mantan suamiku. Bagiku biarlah capek bekerja, asal tidak capek batin. Mengingat Bang Riko ada perih yang mengoyak hatiku. Luka yang diciptakan laki-laki itu sungguh sangat pedih. Luka yang aku tak tahu apakah bisa disembuhkan.
Demi menikah dengannya aku rela meninggalkan keluargaku. Papa dan mama sangat kecewa dengan keputusanku menikah dengan Bang Riko. Aku tidak diakui anak lagi oleh mereka. Laki-laki itu yang menurut papa tidak punya tanggung jawab dan sopan santun.
Menikah tanpa restu keluarga ternyata tidak mendatangkan kebahagian. Papaku benar, Bang Riko laki-laki yang tidak bertanggungjawab. Bang Riko laki-laki pembohong.
Sebelum menikahiku, aku sudah berterus terang kepadanya bahwa aku sudah tidak perawan lagi. Kesalahan di masa lalu membuat aku kehilangan kesucianku. Bang Riko meyakinkaku bahwa baginya kesucian itu tidak terlalu penting. Dia akan menerimaku apa adanya. Sikapnya inilah yang membuat aku mencintainya. Mau menerimaku dengan segala kekuranganku.
Hanya di awal pernikahan Bang Riko bersikap baik dan manis kepadaku, setelah Yasmin anak pertama kami lahir Bang Riko mulai bersikap kasar. Keadaanku yang tidak suci lagi waktu menikah dengannya sering diungkit laki-laki itu. membuatku sangat merasa tertekan.
Setahun berikutnya aku melahirkan putri kedua, Yumna. Aku kira sikapnya bisa berubah setelah kelahiran anak kedua kami, tapi ternyata tidak. Sikap Bang Riko malah semakin menjadi-jadi. Tak jarang dia memukulku kalau aku protes dengan sikap kasarnya. Hampir setiap hari aku menerima cacian darinya. Cacian dan pukulan sudah menjadi makananku sehari-hari.
Tak terima dengan sikap kasarnya aku melaporkan Bang Riko ke atasannya di kantor. Bang Riko kena tegur oleh kantornya. Tapi laki-laki tak bertanggung jawab itu sangat marah kepadaku. Dia mengamuk dan memukulku, beruntung para tetangga menyelamatkanku.
Gugatan cerai akhirnya aku layangkan kepada laki-laki itu. Proses perceraian di pengadilan berlangsung sangat cepat, karena nampaknya Bang Riko menginginkan juga perceraian ini. Resmilah aku menyandang prediket janda diusiaku yang ke-30 tahun. Hak asuh anak-anak memang jatuh kepadaku, karena laki-laki itu memang tidak menginginkan anak-anak bersamanya.
Usai bercerai dengan laki-laki itu mulailah aku membanting tulang untuk memenuhi kebutuhanku dan kedua putriku. Janji bang Riko mau menafkahi anaknya setelah perceraian hanya isapan jempol. Tidak pernah sekalipun dia mengirim uang untuk anak-anaknya.
Jangankan berkirim uang, menelponpun tidak pernah. Khabar yang aku dengar laki-laki itu sudah menikah dan pindah ke kota tempat istri barunya. Beruntung anak-anak tidak pernah menanyakan papanya, karena Bang Riko memang tidak dekat dengan anak-anaknya.
Berbekal dengan ijazah sarjana yang aku miliki, aku mulai mencari pekerjaaan. Aku diterima jadi salah seorang staf akunting di sebuah kantor. Aku mulai bekerja. Yasmin dan Yumna aku titipkan di Tempat Penitipan Anak yang dekat dengan rumah kami.
Gaji yang aku terima cukup lumayan, aku bisa membayar cicilan rumah, mobil, dan biaya keperluan kami. Tapi untuk mengaji ART belum cukup, kecuali cicilan rumah atau mobil sudah lunas. Tapi tak megapa, hatiku senang menjalaninya, tanpa harus tertekan batin sewaktu masih jadi istri laki-laki jahat itu.
“Mama, ayo dong kita berangkat. Katanya mau antar Yasmin mau daftar sekolah.” Rengekan Yasmin membuyarkan lamunanku.
Bayangan laki-laki itu ambyar dari pikiranku. Aku menatap Yasmin. Yasmin yang sudah berusia lebih enam tahun hari ini akan mendaftar masuk SD. Aku sudah berjanji kepadanya untuk pergi mendaftarnya hari ini.
“Dedeknya juga sudah rapi, kami sudah siap.” Lanjutnya. Aku memandang Yumna, adiknya. Aku tersenyum. Yasmin anak yang pintar dan cerdas.
Di usianya yang belum genap tujuh tahun dia sudah bisa membantuku. Menyapu, mencuci piring,dan mengurus adiknya dia sudah bisa melakukannya sendiri. Dia anak yang mandiri.
Aku peluk kedua putri cantikku. Aku gandeng tangan mereka menuju garasi. Bertiga kami naik mobil dan melaju ke sekolah tempat Yasmin akan mendaftar.
*****
Sekolah tempat Yasmin mendaftar adalah sekolah swasta terkenal. Sekolah yang biayanya “lumayan” untuk ukuran kantongku. Tapi walaupun begitu sekolah ini selalu ramai peminatnya. Fasilitas yang lengkap dan kurikulumnya yang berdasarkan agama menjadi daya tariknya.
Aku menuju loket 1, aku meminta formulir pendaftaran. Aku duduk di sebuah kursi dan meja yang disediakan untuk calon orang tua siswa. Aku mulai mengisi formulir itu. Selesai mengisi formulir aku menyerahkan kembali ke panitia. Aku menoleh ke tempat Yasmin dan Yumna tadi duduk.
Aku melihat kedua anakku bermain dengan seorang anak laki-laki yang sebaya dengan Yasmin. Yasmin dengan siapa, batinku. Aku menuju ke tempat mereka. Anak laki-laki yang duduk dekat Yasmin menegurku. Wajahnya mengingatkanku pada seseorang, seorang di masa laluku yang sangat aku sayangi. Yang terpaksa aku tinggalkan karena dia telah membuat aku menyesal mengenalnya.
“Apa khabar Tante ?” dia menegurku sambil tersenyum. Deretan gigi-gignya yang putih dan rapi nampak mempesona.
“Baik, Sayang. Kamu temannya Yasmin, ya.” Aku membalas tegurannya.
“Mama ini, Sandi. Sandikan teman sekolah Yasmin.” Putriku menjawab.
Pantas mereka nampak akrab. Aku tidak terlalu mengenal teman-teman anakku. Kesibukanku membuat aku tidak punya banyak waktu untuk mengenal teman-teman Yasmin.
TK tempat Yasmin bersekolah tidak jauh dari kantorku. Setiap pagi Yasmin berangkat denganku, aku menurunkanya di depan pagar sekolah. Pulang sekolah aku kembali menjemputnya di tempat yang sama. Tidak pernah telat. Tidak perneh aku bisa kumpul-kumpul dengan orang tua siswa seperti orang tua siswa TK lainnya.
“O ya, kamu mau sekolah di sini juga?” aku bertanya. Anak itu menanggukan kepalanya. “Dengan siapa kamu, ke sini ?”lanjutku.
“Itu papaku, tante.” Anak itu menunjuk ke belakangku. Aku melihat ke belakang. Jantungku seperti mau copot, dia adalah Mas Rey, laki-laki di masa laluku. Dugaanku benar, ternyata anak ini putra laki-laki yang baru saja aku lamunkan.
Mas Rey adalah cinta pertamaku. Laki-laki yang sangat menyayangiku. Laki-laki yang mengenalkan aku pada cinta. Laki-laki yang aku tinggalkan setelah semua yang ada pada diriku kuserahkan kepadanya. Yah... aku meninggalkan laki-laki ini. Aku sangat menyesal setelah melakukan perbuatan terlarang itu dengannya. Aku menjadi membencinya setelah peristiwa itu. aku tidak mau lagi menjumpainya. Beruntung aku tidak hamil oleh peristiwa itu. Aku menghindari laki-laki itu. Papa yang pindah tugas ke daerah ini membuatku berhasil lari dari laki-laki ini.
“Nadya... Kamu Nadyakan ?” Laki-laki itu mau merangkulku. Tangannya yang mau memegang bahuku aku tepis dengan kasar. Air mataku tiba-tiba tumpah. Aku menangis tanpa suara. Tiga bocah cilik yang ada di depanku nampak heran. Yasmin dan Yumna memelukku.
“Nadya, sepuluh tahun aku mencarimu. Aku punya salah kepadamu. Tapi jejak kamu tak bisa aku lacak. Kamu tidak tahu betapa tersiksanya aku. Tak disangka kita bisa bertemu di sini. Maafkan aku Nadya.” Dia berkata pelan.
“Mama kenapa menangis ?” Yumna putri bungsuku menegur.
“Mama terharu jumpa dengan Om. Kami teman masa kecil. O, ya bagaimana kalau kita rayakan pertemuan ini. Om mau traktir mama dan kalian semua makan es krim nanti setelah pendaftaran ini selesai.” Mas Rey memandang anak-anakku.
Aku kaget. Jujur aku tidak setuju ajakannya. Tapi melihat kedua putriku yang kegirangan aku tak tega menolak. Yasmin nampak sangat akrab dengan Mas Rey. Mungkin karena sudah pernah berjumpa sebelumnya. Anak itu tidak canggup berada dipangkuan Mas Rey. Dengan menggunakan mobil Mas Rey kami menuju kafe yang tidak jauh dari sekolah itu.
Suasana kafe yang nyaman dan bersahabat untuk anak-anak membuat ketiga anak itu sangat senang. Yasmin, Yumna, dan Sandi bermain di taman kafe. Aku dan Mas Rey duduk mengawasi mereka.
“Nadya, kamu mengapa lari dariku ? Aku mencarimu. Aku mau bertanggung jawab kepadamu. Kau membuat aku didera pentesalan mendalam setelah lari dariku. Aku sangat mencintaimu, Nadya. Kenapa Nadya?” Mas Rey menatapku. Tatapannya masih sama seperti dulu penuh cinta. Tatapan yang membuat aku yang masih lugu bersedia menyerahkan semua kepadanya.
“Sampai sekarang aku belum menikah, Nadya. Aku selalu mengharapkanmu.” Perkataan laki-laki itu mengagetkanku.
“Aku selalu berdoa agar berjumpa dengamu. Aku mau menebus kesalahanku. Aku trauma untuk menikah. Bayanganmu selalu menghantuiku. ” Ada getar disuaranya.
“Kamu bohong. Kamu katakan kamu belum menikah, lalu Sandi ?” aku menatapnya.
“Sandi, putrinya almarhum Kak Wiwin, Kakakku. Papanya Sandi sudah menikah lagi. Tapi istrinya Mas Dion, suami almarhum kakakku itu tidak mau menerima Sandi. Jadi dari bayi aku yang mengurusnya. Dia memanggilku papa. Mungkin karena dari kecil aku yang mengurusnya dan dia juga ponakanku, wajahku sangat mirip dengannya.” Mas Rey menjelaskan dengan suara lirih. Dia nampak sedih.
“Suamimu di mana, Nadya. Kamu bahagia sekali punya dua anak perempuan yang cantik-cantik.” Laki-laki itu menatapku.
“Aku sudah hampir dua tahun pisah dengan suamiku. Laki-laki itu selalu mempermasalahkan keadaanku yang tidak suci lagi setelah menikah dengannya.” Aku menjawab pelan.
“Maafkan aku Nadya, kalau kamu tidak keberatan aku mau menjadi papa buat anak-anakmu. Rasa dihatiku masih seperti dulu untukmu, Nadya. Izinkan aku menebus salahku. Aku janji akan membahagiakan kamu dan anakmu. Kita berdua akan membesarkan ketiga anak-anak kita.” Mas Rey menatapku hangat.
Ada desir di hatiku. Desir yang sudah lama hilang. Mas Rey memegang jemariku. Dia mengecup pelan.
“Papa mengapa mencium tangannya, Tante Nadya ?” Sandi dan dua putriku sudah berada di hadapan kami. Kami berdua kaget, kedatangan anak-anak ini yang tiba-tiba mengejutkan dan membuatku malu.
“Yasmin, dan Yumna, bagaimana kalau Om jadi papa kalian ?” pertanyaan Mas Rey mendadak kepada anak-anak mengegetkanku. Aku tidak menyangka dia akan menanyakan itu kepada anak-anakku.
Sambutan kedua putriku diluar dugaanku. Yasmin dan Yumna sangat gembira. Kedua anak itu tiba-tiba memeluk Mas Rey.
“Mau Om, Yasmin senang kalau Om jadi papa Yasmin.” Anak itu nampak bahagia sekali. Yumnapun nampak senang. Mereka berdua memeluk laki-laki yang ada di depanku.
“Sandi juga senang kalau nanti punya mama.” Bocah laki-laki itu menjawan tanpa ditanya, dia nampak senang sekali. “sudah lama Sandi mau punya mama, tapi papa tidak mau bawa mama pulang ke rumah.” Lanjutnya dengan wajah kanak-kanaknya.
Ketiga anak-anak itu nampak bahagia sekali, Aku tidak tahu harus bagaimana.
“Nadya, kamu tidak inginkan menghancurkan kebahagian mereka. Menikahlah denganku, Nadya. Aku akan menjagamu dan anak-anak kita.” Mas Rey menatapku penuh harap.
Aku hanya diam. Mas Rey merengkuhku kedalam pelukannya. Yah... aku akan menerima Mas Rey. Jujur masih ada rasa di hati ini untuknya. Mungkin perpisahanku dengan Bang Riko adalah jalan agar aku bisa bersatu dengan Mas Rey. Laki-laki di masa laluku.
.
tamat
Dumai, 6 Juli 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan