Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Istri Baru Papaku (tagur ke 101)

#tantangangurusiana

Aku heran entah apa yang ada dipikiran papaku. Belum cukup tiga bulan kematian mama, papa sudah meminta izin kepadaku dan Mbak Nana untuk menikah lagi. Kami berdua sungguh kaget, permintaan papa sangat mengejutkan kami berdua. Kuburan mama belum berubah warna tanahnya, papa sudah punya keinginan menikah lagi. Sungguh keterlaluan.

Sebagai anaknya kami tahu hubungan mama dan papa kurang harmonis. Papanya orang sangat keras, egois, dan pelit. Sering kami berdua mendengar pertengkaran mereka berdua. Masalah pertengkaran yang paling sering kami dengar adalah pelitnya papa memberi uang belanja keperluan sehari-hari.

Tidak kepada mama saja, kepada kami anak-anaknya papa sangat pelit. Padahal papaku seorang pejabat di pemerintahan. Papaku orang yang disegani. Kepada orang lain papaku pandai menunjukan diri kalau dia adalah suami dan ayah yang sempurna. Padahal kenyataanya tidak. Papa sangat pandai bermain peran. Kematian mama salah satu penyebabnya adalah karena tidak tahan melihat sikap papa. Mama sering menahan perasaan akibat ulah laki-laki itu.

Untunglah Mbak Nana sambil kuliah pintar mencari uang tambahan. Mbak Nana punya bisnis jualan online aneka produk kecantikan. Kakakku yang baik hati itu sering aku jadikan tempat untuk meminta tambahan uang jajan.

Aku diam menanggapi permintaan papa, hanya Mbak Nana yang menentang keras keinginan beliau. Mbak Nana tidak setuju dengan rencana papa.

Mbak Nana meminta papa mau menunda dulu keinginannya, Mbak Nana merasa terlalu cepat waktunya papa ingin menikah lagi. Tapi papa tetap keukeh pada keiginannya. Papa meyakinkan kami bahwa calon istri barunya sangat baik dan kami pasti akan menyukainya.

Penolakan Mbak Nana tidak ditanggapi papa. Beliau tetap pada keinginannya. Kami berdua tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jujur aku juga sama dengan Mbak Nana kurang setuju dengan rencana papa, tapi sebagai anak laki-laki aku tidak mengungkapkannya lewat kata-kata.

Telepon dari papa agar kami jangan kemana-mana sore ini membuat kami membatalkana rencana ke luar rumah. Kami tidak tahu apa maksud papa melarang kami keluar rumah sore ini. Aku terpaksa membatalkan latihan basket dengan teman-temanku.

Suara mobil papa terdengar memasuki pekarangan rumah. Aku yang lagi membaca buku di kamar mendengar langkah kaki Mbak Nana keluar dari kamarnya untuk membuka pintu depan. Tak ada suara yang terdengar. Rasa penasaran membuat aku melangkah keluar kamar juga menuju ruang tamu.

Aku tertegun, papa datang dengan seorang wanita muda hampir sebaya dengan Mbak Nana. Wajahnya cukup cantik. Kulitnya putih rambutnya tergerai indah. Make up dan pakaian yang dipakainya menambah cantik penampilannya. Siapa dia, batinku.

“Ini Nando dan Nana, anak-anak saya.” Papa berkata kepada perempuan itu sambil menunjuk ke arahku dan Mbak Nana.

“Nana, Nando, ini tante Windi calon mama kalian.” Lanjut papaku.

Aku dan Mbak Nana kaget mendengar papa mengenalkan wanita muda itu. What? Perempuan yang sebaya dengan Mbak Nana ini mau jadi istrinya Papa ? Apa papa tidak salah pilih ? batinku.

“Ayo anak-anak, salaman sama Tante Windi.” Papa menyuruh kami bersalaman dengan wanita itu.

Wanita itu mengulurkan tangan kepada kami. Malas kami menyambut uluran tangannya. Tapi karena dia sudah duluan mengulurkan tangan kami menyambutnya. Mbak Nana meletakan minuman untuk perempuan itu.

Kami duduk di depan papa dan perempuan itu dalam diam. Tingkah perempuan itu membuat kami muak. Sejak datang tadi duduknya selalu menempel pada papa. Minuman yang disuguhkan Mbak Nana tak diminumnya. Pemandangan mereka berdua membuat kami kurang nyaman.

Mbak Nana yang izin ke belakang dari tadi tidak kembali. Aku tidak tahan lagi diruangan ini. Beralasan ada PR aku meninggalkan mereka berdua di ruangan tamu.

Aku kecewa pada papaku. Wanita yang seharusnya jadi anaknya kenapa jadi istrinya. Apakah tidak ada perempuan lain? batinku. Yah... tapi kami bisa apa.

*****

Pesta pernikahan papa dan Tante Windi berlangsung meriah di sebuah hotel terkenal. Banyak tamu penting yang hadir. Tante Windi nampak sangat cantik sekali. Jujur dia tidak cocok bersanding dengan papaku yang sudah berumur. Aku heran entah apa yang diinginkan perempuan itu dari papaku.

“Nando, lihat bokap lo. Lo kalah sama bokap lo, bokap lo pandai cari istri. Cantik euy..... pantasnya dia jadi pacar lo bukan nyokap lo.” Handi satu-satunya sahabatku yang aku undang berkomentar sambil tertawa.

Aku tidak menanggapi komentar Handi. Tapi Handi benar. Semua orang pasti punya kepikiran seperti Handi. Aku saja anaknya juga punya kepikiran seperti itu. Mataku mencari kakak kesayanganku. Aku tidak melihat Mbak Nana. Kemana Mbak Nana ? batinku.

[Kakak ada di dekat kolam renang. Kamu ke sini ya] chat dari Mbak Nana masuk diaplikasi hijauku.

[Ya Mbak] Aku membalas cepat. Aku tarik tangan Handi agar mengikutiku.

Di samping kolam renang aku melihat Mbak Nana dan pacarnya Mas Yuda lagi bicara serius. Mereka nampak berdebat, aku tidak tahu apa yang mereka perdebatkan. Mereka berdua langsung diam melihat kedatangan kami.

“Kamu harus kasih tahu adikmu, Na.” Lirih terdengar suara Mas Yuda.

“Ada apa sich, Mbak? Aku menatap kaka tersayangku itu.

“Ada yang mau Mbak ceritakan kepadamu. Istri baru papa dulu mantan pacarnya Mas Yuda. Mbak tidak ingin setiap Mas Yuda menjumpai Mbak ke rumah, dia juga menjumpai Mas Yuda. Walau Mas Yuda sudah bersumpah dia tidak punya perasaan lagi, Mbak masih khawatir. Jadi Mbak mau kost saja.” Mbak Nana berkata pelan.

“Kamu bagaimana, Dek?” Mbak Nana menatapku.

Otakku berpikir keras, kalau aku ikut Mbak Nana aku kasihan nanti menambah bebannya. Aku kan anak laki-laki, aku merasa lebih baik aku tinggal bersama papa saja. Fasilitas dari papa aku bisa dapatkan gratis. Yang penting aku tidak menambah beban Mbakku.

“Nggak apa-apa Mbak, Nando tidak keberatan Mbak kos. Tapi Nando boleh main ke tempat kost Mbak, kan?” aku menatapnya.

Mbak Nana memelukku. Aku tahu, Mbak Nana sangat sayang kepadaku. dia mengusap rambutku pelan.

“Kamu harus tetap di rumah Papa, sambil mengawasi Papa, Dek.” Ucapnya setengah berbisik. Aku tidak tahu maksudnya apa.

*****

Semenjak Tante Windi tinggal di rumah, suasana rumah jadi berbeda. Perabotan-perabotan banyak yang digantinya. Foto almarhum Mama di dinding banyak diturunkannya, diganti dengan fotonya. Kelakukannya membuatku jengkel. Mbak Nana melarang aku ribut, Mbak Nana berpesan biarkan saja terserah apa yang mau dibuat wanita itu.

Papa sangat memanjakannya. Aku tidak tahu ilmu apa yang dimiliki perempuan itu sehingga papa patuh kepadanya. Tante Windi dimanjakan dengan uang oleh papa. Shoping dan ke salon adalah hobi istri papaku itu. kalau untuk istri nya papa tidak pernah perhitungan dengan uang. Untukku ? Papa sangat perhitungan. Uang bensin dan jajanku dijatah oleh laki-laki itu.

Hubunganku dengan istri papaku tidak harmonis. Aku tidak pernah bertegur sapa dengannya. Sikapnya selalu sinis padaku. Mbak Nana hanya sekali-kali ke rumah, itupun kalau perempuan itu lagi tidak ada di rumah.

Setamat SMA keinginanku untuk kuliah Jakarta dilarang oleh Papa. Padahal aku tahu dia mampu untuk itu. Tapi papa tidak menyetujui. Jadilah aku kuliah di kota ini. Satu kampus dengan Mbak Nana tapi beda jurusan.

Setelah jadi mahasiswapun pelitnya papa kepadaku tidak berubah. Aku betul-betul kesal dengan laki-laki yang aku panggil papa ini. Mau bekerja sambil kuliah terasa berat. Mbak Nanapun tak mengizinkan. Takut kuliahku berantakan.

******

Bunyi motor berhenti di garasi samping membuatku heran. Motor siapa yang malam-malam ini berhenti dirumahku ? batinku. Perasaanku tidak enak. Sebenarnya aku capek sekali. Aku baru satu jam sampai di rumah karena aku mengikuti kegiatan mendaki gunung bareng teman kuliah. Rumah yang sepi membuat aku masuk diam-diam dengan kunci cadangan yang ada padaku.

Tanpa menyalakan lampu aku mengintip lewat jendela. Seorang laki-laki muda aku lihat turun dari motor. Lewat pintu samping dekat garasi dia masuk ke dalam rumah. Lampu ruang makan tiba-tiba menyala. Tante Windi keluar dari kamar. Aku kaget, istri muda papaku memeluk laki-laki muda itu.

Refleks aku mengambil gawai yang sedang aku cas, tanpa suara aku merekam kelakuan mereka berdua. Tante Windi dan laki-laki muda itu berpelukan dan berciuman. Kelakuan mereka betul-betul sangat menjijikan.

Aku ingat papa berada di Jakarta mengikuti Rakor mewakili kantornya. Rumah kami memang kalau malam ini sepi, karena asisten rumah tangga tidak tinggal di rumah. Tante Windi berpikir mungkin aku masih ikut kegiatan kampus. Mereka berdua mungkin tidak sadar ada orang lain di rumah ini selain mereka berdua.

Lama aku merekam kelakuan mereka berdua. Hampir saja aku muntah melihat dua anak manusia itu. Tidak lama mereka berdua aku lihat pindah ke kamar. Terdengar suara pintu kamar mereka kunci. Aku tidak mempedulikan mereka lagi. Aku menyalakan laptop, video mereka berdua aku simpan rapi, dan cadangan videonya aku simpan di tempat yang aman untuk jaga-jaga. Aku tersenyum sangat puas. Suatu ide gila bermain di kepalaku.

*****

“Ini uangnya.” Sinis suara Tante Windi. Aku mengambil uang itu dari tangannya dengan tersenyum.

“Terima kasih tante, ini untuk bulan ini ya.” Aku berbisik di teliganya. Uang di dalam amplop berpindah ke saku celanaku.

Aku meninggalkan rumah sambil bersiul kecil. Video malam itu aku gunakan untuk memeras Tante Windi. Uang dua juta sebulan selalu aku terima dari mama tiriku itu. Perempuan itu tidak bisa mengelak, ancamannya kalau aku akan memberitahu video itu ke papaku membuatnya takut. Alhasil tawaran dua juta sebulan aku terima dari perempuan itu.

Mbak Nana sempat marah mendengar kelakuanku memeras Tante Windi. Tapi akhirnya Mbak Nana menyetujui juga setelah mendengar alasanku. Aku beralasan mungkin ini jalannya agar papa bisa memberi uang lebih kepadaku, lewat istri mudanya. Siapa suruh papa pelit kepadaku.

Tante Windi ? Sejak peritiwa itu perempuan itu berusaha menghindariku. Sikap sinisnya kepadaku sudah berkurang. Aku tahu dia takut kehilangan papaku. Aku tak peduli dia, yang penting aku bisa kuliah dengan lebih tenang tanpa harus meminta bantuan Mbak Nana lagi. Kasihan Mbak Nana. Dan aku membiarkan situasi ini minimal sampai kuliahku selesai

Aku yakin Allah tidak tidur, sifat Tante Windi pasti akan ketahuan lambat laun. Yang jelas kalau aku sekarang yang beritahu ke papa, laki-laki itu tidak akan percaya, karena cinta telah membutakan matanya walaupun ada bukti video di tanganku.

Tamats

Dumai, **(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post