Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jangan Abai Tumbuh Kembang Anak (tagur hari ke 118)

#tantangangurusiana

 

Semua orang tua pasti menginginkan anak mereka terlahir dengan sempurna. Tetapi kalau Tuhan menitipkan kepada kita anak yang jauh dari kesempurnaan apakah kita akan menolak? Tentu tidak bukan?

Anak adalah anugerah yang wajib kita syukuri . Masih beruntung  Allah menitipkan anak kepada kita walaupun dengan keterbatasan, masih banyak orang yang tidak dianugerahi anak.

Tumbuh kembang anak adalah fase yang harus dicermati oleh setiap orang tua. Pada tulisan ini saya akan berbagi pengalaman kami memiliki anak berkebuthan khusus.

Anak kedua kami terlahir sempurna dengan berat 2,9 kg dan panjang 59 cm. Seorang anak laki-laki yang sangat ganteng dan lucu. Karena kesibukan kami bekerja anak-anak kami titipkan dengan seorang pengasuh anak.

Pengasuh anak kami sangat baik, seorang perempuan separoh baya yang sudah tidak punya suami dan anak-anaknya sudah besar semua. Setiap pagi dia datang ke rumah kami dan akan pulang ke rumah setelah kami balik dari bekerja.

Tidak ada yang aneh pada perkembangan anak kami.  Dia tumbuh seperti anak-anak lainnya. Cuma yang membedakan bicaranya tidak selancar anak di usianya. Di TK dia berteman  dengan  anak-anak lainnya.

Sebenarnya di usianya empat tahun kami pernah membawanya ke spesialis THT yang ada di kota kami. Karena kami pernah curiga melihat anak kami kalau bicara sering mengarahkan teinga kanannya ke  kami. Tetapi doklter spesialis THT mengatakan tidak ada keanehan dengan telinganya.

 Kami sempat ngotot pada dokter bahwa mungkin anak kami ada kelainan di telinganya. Dokter tersebut  malah berkata kalau dia lebih ahli dari kami. Sebagai orang awam kami percaya kepada dokter tersebut. Mungkin ini pelajaran  juga buat kami jangan hanya percaya hanya kepada satu dokter.

Di usia enam tahun sewaktu mau masuk SD, atas saran seorang sahabat kami membawa anak kami ke dokter tumbuh kembang anak. Di sanalah kami mengetahui bahwa ada masalah di pendengaran anak kami. Kami direkomendasikan kepada dokter ahli THT. Keputusan untuk melakukan tes berra kami ambil.

Hasil tes berra yang telah dilakukan membuat aku dan suami menangis. Ternyata  putra kedua kami menderita tuli pada kedua telinganya, dengan kondisi parah. Aku menangis mendengarnya. Dari cerita kami dan hasil pemeriksaan dokter mengatakan kemungkinan tuli yang di dengar  putra kami bawaan dari lahir. Dokter mengatakan sel syaraf di telinga anak kami dimakan virus rubella.

Aku sedih dan menangis. Aku sedih karena terlambat mengetahuinya. Kalau seandainya kami tahu lebih awal tentu kami akan mengambil tindakan lebih cepat.

Mulailah saat itu anak kami memakai alat bantu dengar. Alat bantu yang harganya cukup mahal bagi kami. Untuk pertama pasang kami harus mengeluarkan uang 17,5 juta untuk sepasang alat bantu dengar di optik Melawai.

Memakai alat bantu dengar apakah solusi teratasi ? Belum. Kami juga harus melatih dan menerapikan dia ke sebuah pusat terapi.

Sekarang sudah lebih tujuh tahun anak kami memakai alat bantu dengar . Sudah dua kali pula alat bantu dengarnya diganti.

Apakah sudah lancar seperti anak seusianya ? Belum. Tapi sudah lumayan dibandingkan dulu. Kadang aku menangis kalau dia bertanya kepadaku, “Mama telinga aku kok tidak mendengar?”. Kalau boleh memilih biarlah aku yang di posisinya.

Menghadapinya juga harus pandai-pandai. Dengan bertambah usianya  rasa sensitifnya semakin besar.  Dia gampang marah dan tersinggung. Terkadang kalau kita tertawa dihadapannya, dia sering marah. Karena dia beranggapan kita mentertawakannya.

Walaupun dokter mengatakan  ketulian yang diderita anakku permanen tak bisa disembuhkan, aku selalu berdoa untuk kesembuhanya. Aku yakin kekuatan doa . apalagi doa seorang ibu terhadap putra tersayangnya.

Kepada ibu-ibu muda, jangan abai dengan tumbuh kembang anak. Jangan mudah percaya dengan keterangan satu orang dokter saja. karena walaupun dia spesialis, dokter juga manusia biasa. Harus ada second opinian.

 

Dumai. 25/7/2020

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post