Jodoh Buat Anakku Part 2
#Tantanagngurusiana
Aku kaget, tidak pernah biasanya Yudha bicara seperti itu padaku. Walaupun dia keras hati, kepadaku selalu dia bersikap lembut. Tapi tadi ? Apa aku tidak salah dengar?
“Mas.... Bisa bicara lebih pelan sama Bunda?” Rayhan yang dari tadi diam ikut bicara.
Yudha yang ditegur adiknya memandang dengan wajah marah. Rayhan membalas tatapan abangnya dengan sorot mata yang tajam. Mereka berdua nampak seperti orang yang mau bertengkar. Tuhan..., aku tidak mau kedua buah hatiku itu berselisih paham
“Sudah...sudah jangan bertengkar. Rayhan, Masmu tidak sengaja tadi.” Aku berusaha menyabarkan anak bungsuku.
“Iya bunda. Rayhan tidak suka Mas bicara keras kepada Bunda.” Anak itu berkata sambil memegang tanganku. Matanya yang tajam menatap abangnya dengan pandangan tidak suka.
“Mas, jangan gara-gara perempuan itu Mas kasar kepada, Bunda. Bunda yang sudah membesarkan kita. Mas harus minta maaf kepada Bunda.” Rayhan berkata dengan tegas.
Yudha terdiam mendengar perkataan adiknya. Aku tahu Yudha tidak berani melawan adiknya. Rayhan seorang pelatih karate. Rayhan seorang Renshi, jabatan pelatih karate diatas sensei. Karate adalah olah raga yang sudah di geluti Rayhan sejak dibangku SMP.
“Maafkan aku, Bunda. Aku tidak sengaja bicara agak keras tadi. Aku Cuma tidak suka Bunda menjodoh-jodohkan aku. Sekarang bukan zaman Siti Nurbaya, Bunda.” Yudha meminta maaf kepadaku.
Rayhan berlalu meninggalkan kami berdua setelah abangnya minta maaf kepadaku.
“Bunda hanya bermaksud mencarikan pendamping yang baik untukmu. Tapi kalau kamu tidak menerima, Bunda mau berkata apa.” Aku menjawab pelan.
*****
Keinginan Yudha untuk memperistri Nindi tidak bisa dicegah. Aku hanya pasrah. Hanya doa yang dapat aku panjatkan buat mereka berdua semoga rumah tangga yang akan mereka bina berlangsung dengan bahagia.
Malam ini aku, Rayhan, dan beberapa orang keluarga dekat kami pergi ke rumah Nindi. Kami mau melamar Nindi buat Yudha.
Rumah keluarga Nindi memang sangat besar. Ruang tamunya sangat megah. Rombongan kami ada sekitar delapan orang yang datang ke sana. Mereka adikku dan istrinya serta paman dan bibi Yudha dari ayahnya berikut suami dan istri mereka.
Aku sempat heran waktu mau memasuki rumah megah ini, tidak ada aku melihat orang yang menyambut kedatangan kami. Seorang pembantu mempersilahkan kami duduk. Tak berapa lama Nindi dan kedua orang tuanya keluar. Aku melihat ada sedikit keterkejutan di mata mereka melihat kedatangan kami.
“Mohon maaf, kami kira yang datang mama Yudha dan adiknya saja. Tidak tahu seramai ini.” Perempuan yang memperkenalkan diri sebagai mamanya Nindi berkata pelan.
Aku melihat ada keterkejutan di mata paman dan bibinya Yudha. Mereka nampak kurang senang mendengar perkatan calon besanku. Kedatangan kami yang hanya delapan orang mereka bilang ramai. Bukankan biasa dalam lamaran seperti ini?
Acara lamaran berlangsung lancar. Acara ini sebenarnya seremonial saja. Tidak banyak yang mereka tanyakan. Bahkan terkesan acara lamaran ini mereka ingin supaya berlangsung cepat.
Aku merasa keluarga Nindi walaupun kaya raya terkesan pelit. Kedatangan kami hanya disuguhi teh hangat dan sedikit cemilan. Aku hanya heran apa seperti itu mereka menyambut kedatangan orang yang mau melamar anaknya. Nampak mereka tidak ada persiapan untuk menerima kami. Apakah karena kami orang miskin ? batinku.
Aku merasa malu kepada adik dan ipar-iparku. Tapi aku melihat mereka berusaha bersikap wajar. Selesai lamaran Yudha kembali ke kantornya, karena ada pekerjaan yang belum terselesaikan.
Rayhan mengajak kami mampir di sebuah restoran. Rayhan anak bungsuku tahu kalau kami pergi tadi ke rumah calon istri abangnya sebelum makan malam.
“Tadi Mas Yudha meminta Rayhan membawa Bunda, Om, Paman, Bibi, dan Tante mampir di sini dulu untuk makan malam.” Anak itu berkata waktu kami semua sudah duduk dalam restoran.
Aku terharu. Alangkah baiknya Rayhan. Aku tahu, tidak pernah abangnya meminta dia untuk membawa kami semua makan malam, tapi dia pandai menjaga nama baik abangnya.
Aku malu selama ini aku selalu membanggakan Yudha karena kepintarannya. Ternyata Rayhan lebih dewasa dibanding dia. Aku menyesal selama ini telah berlaku tidak adil kepada Rayhan. Ternyata kecerdasan dan kepintaran seorang anak saja tidak bisa membuat kita bahagia, harus diiringi dengan akhlak yang mulia. Bahkan kalau disuruh memilih biarlah punya anak yang berakhlak mulia dibandingkan anak yang cerdas dan pintar.
Kami makan dalam diam. Semua anggota keluargaku makan dengan lahap. Makan malam yang telat membuat mereka seperti orang yang kelaparan. Tadi kami semua membayangkan ada jamuan makan malam di rumah keluarga Nindi, ternyata tidak. Aku tersenyum miris.
*****
Pesta pernikahan Yudha dan Nindi berlangsung dengan mewah di sebuah hotel terkenal. Kembali aku dibuat malu oleh tingkah Nindi. Seluruh keluarga Nindi memakai pakaian seragam yang indah dan cantik. Warna kuning keemasan. Aku tahu harga pakaian itu sangat mahal.
Sementara aku, Rayhan dan angota keluargaku mereka belikan pakain seragam juga. Warna kuning keemasan juga. Tapi bahan yang kami pakai berbeda dengan yang dipakai keluarganya.
Aku mengira bahan pakaian yang dibelikan untuk keluargaku sama dengan keluarganya, ternyata tidak. Pakaian yang dikenakan keluargaku bahannya lebih murah dari pakaian keluarga Nindi.
Aku merasa sangat malu sekali. Tidak pernah selama ini orang tua pengantin laki-laki dan perempuan pakaianya berbeda. Apalagi aku dan Rayhan juga duduk mendampingi anakku di pelaminan.
Kalau tidak mengingat Yudha aku mau meninggalkan ruangan resepsi ini.
*****
Setelah menikah Yudha tinggal di rumah yang dibelikan orang tua Nindi untuk mereka berdua. Aku pernah diajak oleh Yudha ke sana. Tapi jujur aku tidak kerasan. Aku merasa ada perasaan tidak senang di mata menantuku melihatku di rumah mereka. Tapi aku berharap perasaanku salah.
Beralasan kasihan dengan Rayhan tinggal sendiri di rumah aku meninggalkan rumah mereka.
*****
Kedatangan Umi Salamah dan putrinya bertamu sore itu membuatku sangat senang. Mereka berdua datang bersilahturahmi. Mereka tidak enak hati karena selama ini aku saja yang berkunjung ke rumah mereka. mereka membalas kunjunganku.
Aku menatap Aisyah, wajahnya yang teduh membuat tenang jiwa memandangnya. Aku jadi sedih mengingat karena dia tak jadi menantuku. Padahal sangat besar harapn di hati ini menjadikan dia menantu.
“Bunda, jangan menatap Aisyah begitu. Aisyah jadi malu nih.” Suaranya yang lembut mengagetkanku.
Umi Salamah tertawa mendengar perkataan putrinya.
“Bunda kepingin dahulu Aisyah jadi menantu, tapi...” Aku menggantung ucapanku.
“Bunda nggak usah sedih. Jodohkan sudah diatur oleh Allah. Aisyah kan masih bisa jadi anak Bunda.” Aisyah ketawa memamerkan giginya yang putih. Manis sekali.
Suara salam mengagetkan kami yang sedang bercerita. Rayhan yang baru pulang turnamen futsal sore itu tegak di depan pintu. Semua mata memandang putra bungsuku.
“Ini putra saya, Rayhan. Rayhan ini teman Bunda, Umi Salamah dan putrinya.” Aku mengenalkan Aisyah dan uminya.
bersambung
Dumai, 14-07-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan