Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Jodoh Buat Anakku Part1 (tagur hari ke 106)

#tantangangurusia

 

Sekali lagi  aku pandangi perempuan yang dibawa anakku. Perempuan yang akan mendampinginya seumur hidup. Wajahnya cantik, kulitnya putih dan hidungnya mancung. Tapi entah mengapa aku tidak suka dengan penampilannya. Bajunya yang kurang bahan, dan dandanannya yang mencolok membuat mataku  kurang nyaman.

Jujur di hati kecil aku sangat kecewa, karena aku sudah punya calon untuk Yudha, putra sulungku ini. Dia anak teman sepengajiannku  Aisyah, namanya. Asiyah memang tidak secantik  perempuan ini.  Tapi anak itu tahu adat dan agama. Bajunya selalu sopan, tutur katanyapun lembut.

Dan yang membuat aku kagum dia sangat fasih membaca Al Quran dan berbahasa Arab. Yah... Aisyah tamatan pesantren. Dari kecil sampai remaja Aisyah sudah mondok di sana. Umi dan Abinya Aisyah juga sudah sangat aku kenal. Bibit, bobot dan bebet dari Aisyah usah diragukan.

“Ini Bundaku, Nindi. Beliau perempuan yang sangat berjasa dalam hidupku. Beliau yang membesarkan aku dan Rayhan setelan ayah kami meninggal.” Yudha mengenalkan aku pada perempuan yang dibawanya.

Perempuan itu menyalamiku. Aku membalas salamannya. Dari ceritanya aku tahu kalau dia anak seorang pengusaha terkenal di kota ini.

Satu lagi yang membuat aku tidak respect kepadanya dia seperti sangat membanggakan orang tuanya yang kaya raya itu. Sebagai pensiunan seorang guru di sekolah menengah aku masih bisa menilai mana pribadi yang baik dan mana yang kurang baik. Perkenalan sore itu memberikan kesan kalau Nindi seorang gadis yang kurang baik sebagai calon menantuku.

Yudha bekerja di sebuah perusahaan swasta terkenal. Anak sulungku itu seorang sarjana teknik. Otaknya yang cerdas membuat jenjang akademik ditempuhnya tanpa hambatan. Tamat dengan prediket cum laude dunia kerja sudah menunggunya. 

Semangat kerja yang tinggi dan pintar membuat dia memegang jabatan yang tinggi di kantornya. Wajahnya yang tampan seperti mendiang ayahnya membuat dia incaran gadis-gadis. Tak salah kalau gadis secantik Nindi juga mengejar anakkku.

*****

Malam itu aku dan kedua putraku duduk berbincang di ruang keluarga. Rayhan putra keduaku sedang mengoreksi kertas ulangan siswanya. Rayhan mengikuti jejakku dan almarhum ayahnya menjadi seorang guru.

Berbeda dengan abangnya, Rayhan tidak terlalu pintar. Prestasi akademiknya biasa-biasa saja. Rayhan tidak pernah jadi juara olimpiade sampai ke tingkat nasional seperti Yudha. Aku tahu kemampuan putra keduaku. Aku tidak pernah memaksakan agar dia menjadi seperti yang aku inginkan.

Kuliah di jurusan Pendidikan Jasmani dan Olahraga adalah keinginannya. Walaupun tidak bisa tamat tepat waktu aku cukup bersyukur.

Sekarang Rayhan mengajar di sebuah sekolah swasta yang cukup bergengsi di kotaku. Disamping mengajar Rayhan juga aktif dalam berbagai klub olah raga. Tenaga dia sering digunakan sebagai pemain atau wasit dalam perlombaan.

Yudha dan Rayhan memiliki sifat yang berbeda. Yudha anaknya keras hati, sedangkan adiknya lebih lembut.

Malam itu aku bermaksud membicarakan calon istri yang dibawa Yudha tadi sore. Aku berusaha memilih kata-kata yang tepat agar Yudha tidak merasa aku melarangnya dengan Nindi.

“Bunda, bagaimana pendapat bunda dengan Nindi?” pertanyaan Yudha yang tiba-tiba mengagetkanku. Aku tidak menyangka kalau dia akan memulai pembicaraan duluan.

“Menurut bunda, Nindi anaknya cantik. Tapi sikapnya agak sombong. Kamu yakin akan menikah dengan dia, Yudha?” Aku bertanya hati-hati.

“Bunda, tidak keberatan kalau aku menikah dengannya, bukan?” pertanyaan Yudha membuatku terdiam.

“Yudha harap bunda merestui kami. Karena aku mencintainya, Bunda.” Lanjut Yudha sambil memegang tanganku.

“Tapi Yudha....”

“Yudha mohon  Bunda merestui kami. Yudha hanya perlu restu dari Bunda. Masalah kedepannya itu akan menjadi tanggung jawab Yudha sepenuhnya.” Yudha memotong ucapanku.

Aku terdiam, aku paham sikap anak laki-lakiku. Kalau sudah seperti ini, tidak akan ada yang sanggup melarangnya.

Ya Tuhan.... bagaimana ini feeling seorang ibu selalu benar. Aku merasa Nindi tidak cocok buat anakku. Tapi anakku begitu keras ingin menikah dengannya.

“Sebenarnya Bunda kurang suka dengan sikapnya. Bunda berharap kamu masih memikirkan rencanamu menikah dengannya. Bunda sudah punya calon untukmu. Insha Allah anaknya baik dan sholeha.” Aku mencoba bicara dengan hati-hati.

“Apa Bunda ? Bunda mau mencarikan calon untukku ? Tidak Bunda. Aku tidak setuju. Aku sudah punya pilihan. Aku hanya mau menikah dengan Nindi.” Suara Yudha terdengar agak keras.

Aku kaget, tidak penah biasanya Yudha bicara seperti itu adaku. Walaupun dia keras hati, kepadaku selalu dia bersikap lembut. Tapi tadi ?  Apa aku tidak salah dengar?

“Mas.... Bisa bicara lebih pelan sama Bunda?” Rayhan yang dari tadi diam ikut bicara.

Yudha yang ditegur adiknya memandang dengan wajah marah. Rayhan membalas tatapan abangnya dengan sorot mata yang tajam. Mereka berdua nampak seperti  orang yang mau bertengkar. Tuhan..., aku tidak mau kedua buah hatiku itu berselisih paham.

.                                                         bersambung

Dumai , 13-07-2020

 

 

 

 

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post