Wali Kelas Putriku (Tagur hari ke 119)
#tantangangurusiana
Keinginan Mas Dion untuk gabung di grup Whatsapp ortu di kelas putri kami yang baru masuk SMP membuatku heran. Selama ini tak pernah Mas Dion peduli dengan urusan anak-anak. Suamiku itu tahunya kerja dan kerja. Urusan rumah tangga semua diserahkan kepadaku. Sikapnya ini sering menuai protes dariku. Tapi Mas Dion tidak pernah peduli, alasannya urusan mencari uang itu tanggung jawabnya sedangkan urusan rumah tangga dan anak-anak tanggung jawabku.
Bersyukur aku memiliki tiga orang anak yang baik dan patuh. Pola didikan yang diterapkan almarhum kedua orang tuaku aku cobakan untuk mendidik ketiga buah hati kami, aku berhasil, anak-anak kami tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri dan tidak pernah membuat masalah. Zacky putra tertua kami yang sekarang sudah kelas XI adalah siswa berprestasi di sekolahnya.
Kehidupan rumah tanggaku dan Mas Dion tergolong harmonis. Rumah tangga kami tidak pernah mengalami goncangan. Masing-masing kami tahu tugas dan fungsi masing-masing. Aku tahu apa yang disenangi suamiku dan apa yang tidak. Suamiku tidak menyukai perempuan yang tidak suka berdandan. Maka aku berusaha tampil prima di depannya. Merawat badan adalah hobbiku. Jadi walaupun sudah berumur hampir empat puluh tahun aku masih nampak sangat muda.
“Mama, nanti sosialisasi PJJ Zaskia, biar papa yang datang ya.” Ucapan Mas Dion pagi itu membuatku heran.
“Tumben....” Aku menyahut lirih.
“Iya. Papa kasihan Mama kan sangat sibuk. Biar Papa bantu Mama, ya ?” suamiku menjawab lembut.
“Silahkan. Makasi ya Pa. Sudah mau peduli.” Aku menjawab sambil tersenyum walaupun ada yang janggal di hati ini.
Pendaftaran Zaskia ke SMP kemarin memang semua Mas Dion yang menghandle. Pendaftaran yang online dan paket data yang sedang kosong membuaku meminta Mas Dion yang mendaftarkan putri kami. Walau sedikit terpaksa Mas Dion membawa semua berkas Zaskia ke kantornya. Aku tahu wifi di kantor Mas Dion sangat lancar.
Mungkin karena Mas Dion dari pertama yang mendaftarkan Zaskia, membuat nomor kontak Mas Dion yang tersimpan di sekolah. Biasanya nomor kontakku. Aku merasa tak keberatan. Dan sudah sepantasnya Mas Dion terlibat dalam pendidikan anak-anaknya.
*****
Akhir-akhir ini Mas Dion aku lihat asyik di gawainya. Kebiasaan yang tidak pernah sebelumnya. Aku heran apa yang membuat dia betah berlama-lama memegang gawai. Tak jarang aku lihat dia tersenyum-senyum sambil mengetik. Ada yang aneh, batinku. Aku harus mencari tahu.
Gawai yang terletak di nakas sore itu membuat rasa kepoku kepada Mas Dion tak terbendung. Tanganku dengan cepat membuka gawai itu. semua percakapan yang ada di sana aku lihat. Tak ada yang aneh. Keinginanku mau menyadap aplikasi WA Mas Dion timbul. Tapi suara Mas Dion yang menuju kamar membuatku mengurungkan niat. Aku tidak enak. Aku takut Mas Dion salah tanggap.
*****
Sebuah pesan whatsapp masuk ke aplikasi hijau di gawaiku. Dari Mamanya Jeni. Jeni adalah teman Zaskia di SD. Mama Jeni temanku. Foto yang dikirim Mama Jeni membuat mataku membesar. Foto Mas Dion dengan seorang perempuan . Foto itu diambil dari jarak jauh, tak jelas gambar perempuannya. Tapi pakaian yang dikenakan perempuan itu seperti pakaian dinas PNS. Dadaku berdebar. Apakah ini ada hubungan dengan sikap Mas Dion selama ini?
[Maaf ya Mama Zaskia, saya melihat papanya Zaskia dengan seorang wanita, tapi saya tak jelas nampak wajahnya] tulis Mama Jeni.
[Tapi jangan emosi dulu, selidiki aja dulu ya Say] tulisnya lagi.
[Makasi ya Mama Jeni, infonya] aku membalas chat Mama Jeni.
Hatiku hari ini tidak tentram, foto yang dikirim Mama Jeni masih bermain-main di pikiranku.
*****
“Mama itu, Papa!” Zaskia menarik tanganku dan menyuruhku menatap arah yang ditunjuknta.
Aku kaget. Aku melihat suamiku dengan seorang perempuan. Perempuan yang posturnya mirip dengan perempuan di foto yang dikirim Mama Jeni.
“Itu kan Ibu Laras, wali kelas Zaskia. Ngapain Papa dengan Ibu Laras ?” Zaskia menatapku heran
Deg. Jantungku berdegup kencang. Laras. Aku tidak akan pernah melupakan perempuan itu. Laras sahabat kami dahulu. Aku, Mas Dion dan Laras dulu adalah tiga orang sahabat di SMA. Setamat SMA Laras melanjutkan kuliah ke Jawa. Aku dan Mas Dion tetap kuliah di kota ini. Ya.. Aku pernah dengar Laras jadi seorang guru. Berarti Laras sekarang wali kelas anakku.
Jadi Mas Dion mau bergabung di grup gara-gara Laras yang jadi wali kelas Zaskia ? Ada apa ini ?
Dumai, 26/07/2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan