Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Wali Kelas Putriku (Part Terakhir) Tagur hari ke 120

#TAntangangurusiana

“Mama itu, Papa!” Zaskia menarik tanganku dan menyuruhku menatap arah yang ditunjuknya.

Aku kaget. Aku melihat suamiku dengan seorang perempuan. Perempuan yang posturnya mirip dengan perempuan di foto yang dikirim Mama Jeni.

“Itu kan Ibu Laras, wali kelas Zaskia. Ngapain Papa dengan Ibu Laras ?” Zaskia menatapku heran

Deg. Jantungku berdegup kencang. Laras. Aku tidak akan pernah melupakan perempuan itu. Aku, Mas Dion dan Laras dulu adalah tiga orang sahabat di SMA. Setamat SMA Laras melanjutkan kuliah ke Jawa. Aku dan Mas Dion tetap kuliah di kota ini. Ya.. Aku pernah dengar Laras jadi seorang guru. Berarti Laras sekarang wali kelas anakku.

Jadi Mas Dion mau bergabung di grup ortu gara-gara Laras yang jadi wali kelas Zaskia ? Ada apa ini ? Ada apa antara suamiku dengan wali kelas anakku?

“Mama.... Papa kok jalan dengan wali kelas Zaza? Mereka lagi membicarakan apa, ya Ma?” Putriku menatap penuh tanya kepadaku.

Zaskia anak yang pintar. Aku harus bisa memberi jawaban yang masuk akal agar putriku percaya dengan penjelasannku.

“Kamu yakin itu wali kelasmu?” Aku pura-pura bertanya kepada putriku

“Iya Mama. Itu Ibu Laras. Kan waktu sosialisasi PJJ kemarin Ibu Laras yang menyampaikan materinya di kelas. Terus selesai sosialisasi Papa di minta sama orang tua lain jadi ketua komite kelas.” Zaskia menjelaskan kepadaku.

“Begitu... Mungkin ada yang perlu dibicarakan oleh Ibu Laras kepada papa. Papakan ketua komite kelas. Mungkin papa yang minta Ibu Laras menjumpainya di sini.” Aku berusaha menjelaskan kepada Zaskia.

Jawabanku berhasil membuat Zaskia percaya. Bagaimanapun juga aku harus menjaga nama baik suamiku di mata anak-anaknya. Apalagi aku tahu betul bahwa Zaskia sangat mengidolakan papanya. Aku tidak mau jawabanku membuat dia tidak respect lagi kepada papanya.

“Zaza, temanin Mama ke supermarket dulu. Mama mau beli pesanan abangmu. Nanti baru kita ke makan. Takut nanti kita lupa.” Aku mengajak Zaskia menjauh dari restoran itu. Perutku yang tadi lapar tiba-tiba menjadi kenyang.

Zaskia mengikuti langkahku tanpa bertanya. Kami menuju supermarket yang berada di seberang jalan restoran tersebut. Jujur aku sangat penasaran kenapa Mas Dion dan Laras nampak sangat akrab. Perasaanku jadi tidak menentu. Aku berusaha setenang mungkin. Aku tidak mau Zaskia tahu kegundahanku.

*****

Tanganku dari tadi sibuk menscrool members grup alumni SMA kami. Tidak ada aku jumpai nama Laras di situ. Mataku menatap sebuah nama, Helen. Aku ingat disamping bershabat dengan kami, Laras juga berteman dekat dengan Helen. Karena Helan adalah teman SMPnya Laras. Aku yakin pasti Helen tahu banyak tentang Laras.

[Helen... Ini aku Dinda. Aku kok tidak ada lihat nama Laras digrup WA alumni SMA kita] sebuah chat aku kirim ke Dinda.

[Helen tak mau gabung, Dinda. Dulu pernah aku invite tapi Helen leave dari grup] Helen membalas chatku cepat.

[Kenapa? ] tanyaku.

[Laras mengatakan dia tidak nyaman aja berada dalam grup] Helen kembali membalas chatku.

[Kenapa menanyakan Laras kepadaku, Dinda. Bukankah kalian bersahabat?] lanjut chat Helen.

Tidak banyak keterangan yang aku dapat dari Helen. Aku harus menyelidiki dan mencari tahu. Ada apa antara suamiku dengan Laras?

*****

Sebuah rumah yang sederhana berada di hadapanku. Rumah yang tidak terlalu besar tetapi sangat asri. Seorang anak nampak sedang duduk di teras rumah. Seorang anak perempuan yang sangat cantik. Wajahnya mirip sekali dengan Laras. Aku mendekati anak tersebut. Aku kaget waktu melihat responnya. Ternyata anak itu tidak bisa melihat.

“Tante mau cari, siapa?” anak itu bertanya setelah menjawab salamku.

“Ibu Laras, ada ?” Aku bertanya dengan suara pelan.

“Bunda ke apotik, beli obat.” Anak itu menjawab sambi tersenyum. Senyumnya sangat manis.

“Silahkan duduk.” Dia menawari aku duduk.

Aku duduk di samping anak itu. Seorang perempuan separoh baya keluar dari dalam rumah. Dia memperkenalkan diri sebagai pengasuh putrinya Laras. Dari ceritanya aku tahu kalau Laras memilki dua orang anak. Anak tertuanya laki-laki tetapi tidak tinggal sama Laras, ikut suaminya. Mereka sudah berpisah. Suara motor mengalihakan percakapan kami. Aku melihat, Laras yang datang.

Laras terlihat sangat kaget melihat kehadiranku di rumahnya sore itu. Dia meminta pengasuh putrinya membawa anaknya ke dalam. Dia duduk di depanku.

“Apa khabar Dinda?” Laras menyapaku pelan.

“Baik. Kamu bagaimana ? Lama kita tak jumpa. Aku baru tahu kalau kamu kembali ke kota ini.” Aku menjawab sapaanya.

“Aku baru satu tahun pindah tugas ke sini. Aku merasa lebih nyaman di sini. Makanya aku kembali.” Laras menjawab sambil tersenyum.

“Aku tahu kenapa kamu datang ke sini, Dinda. Kamu mau menanyakan tenang suamimu, bukan?” Pertanyaan Laras membuatku kaget. Berarti Laras sudah tahu kalau aku istrinya Mas Dion.

“Dinda, maafkan aku. Aku sudah membuat kamu khawatir. Dinda sebenanya aku juga mau menemuimu. Aku tidak mau kamu salah duga terhadapku. Tapi kamu sudah menemuiku duluan.” Laras berkata tenang.

“Aku akan bicara terus terang padamu, Dinda. Walaupun nanti ceritaku akan menyakiti hatimu. Tapi ini tidak boleh disembunyikan. Aku tidak mau kamu salah menilaiku.” Laras diam sejenak.

“Sebenarnya dulu waktu kita SMA Dion mencintaiku, Dinda. Tapi aku tidak bisa menerima cintanya, karena aku cuma menanggapnya sahabat.” Laras mengawali ceritanya.

Dari cerita Laras aku tahu bahwa Mas Dion sangat mengharapkan Laras untuk jadi istrinya. Tapi Laras di sana sudah menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Selesai wisuda Laras diangkat jadi PNS dan tak lama kemudian dia menikah dengan teman satu kampus. Pernikahan mereka kandas setelah laki-laki itu tidak mau menerima kehadiran putri kedua mereka yang tuna netra. Mereka berpisah. Akhirnya Laras pindah ke kota ini.

“Mas Dion tahu kisah pernikahanku. Dinda. Baru saja aku pindah ke kota ini suamimu berusaha mendekatiku. Dia dapat nomor kontakku di grup alumni kita. Makanya aku tidak mau masuk grup dan ganti nomor. Jujur Mas Dion memang berusaha merayuku. Apalagi dia tahu kalau aku sudah janda. Tapi kamu jangan khawatir Dinda, aku tak akan menyakiti hatimu dan anak-anakmu. Aku tahu Mas Dion hanya terbayang masa lalu. Aku juga tidak mencintainya.” Laras menatapku.

"Maafkan aku terpaksa mengikuti ajakan suamimu menemaninya makan siang. Aku janji tidak akan mau lagi menerima ajakannya." Laras berkata dengan suara menyesal.

Penjelasan Laras membuatku kaget. Aku tidak tahu kalau selama ini Mas Dion mencintai Laras. Aku tahu Mas Dion tidak pernah dekat dengan wanita lain sejak SMA selain kami berdua. Waktu kuliahpun aku tahu tidak pernah ada wanita spesial di sampingnya. Selesai kami wisuda dia langsung melamarku. Kami menikah tanpa pacaran.

Aku juga tidak mencintai Mas Dion awalnya. Cintaku tumbuh ke laki-laki itu setelah dia menjadi imamku. Aku punya teman laki-laki waktu kuliah. Tapi hubungan kami tidak sampai ke pernikahan. Laki-laki itu meninggalkanku untuk menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.

Aku menerima lamaran Mas Dion karena aku tahu dia laki-laki yang baik. Aku tidak tahu kalau ternyata selama ini Mas Dion memendam cinta untuk Laras. Aku juga tak tahu kalau aku hanya pelarian baginya. Hatiku sangat sedih.

Aku menatap Laras. Wajar suamiku masih mengejar-ngejarnya. Laras sangat cantik. Cantik tanpa polesan. Otaknya yang cerdas dan tutur katanya yang lembut membuat orang betah lama-lama bercerita dengannya. Laras perempuan sempurna. Apa aku akan bersaing dengannya?

*****

Tidak ada suara yang keluar dari mulut Mas Dion sewaktu aku menceritakan pertemuanku dengan Laras. Laki-laki itu hanya diam. Aku menatap tajam kepadanya. Mas Dion mengalihakan tatapannya dariku.

“Mas, aku mau kamu menjawab dengan jujur. Apa kamu masih mencintai Laras?” dengan suara bergetar aku bertanya pada laki-laki yang sudah menikahiku lebih dari enam belas tahun itu.

“Aku tidak mau kamu mempermainkan hatiku, Mas. Aku tidak mau diduakan dengan perempuan lain. Hatiku sakit Mas. “ Lanjutku. Air mataku turun tanpa bisa dibendung.

Mata Mas Dion mengerjap. Tiba-tiba dia memelukku erat. Dadanya terdengar bergemuruh.

“Maafkan aku, Dinda. Perasaanku ke Laras mungkin terbawa masa lalu. Aku tahu aku salah. Laras adalah masa laluku. Kamu dan anak-anak adalah masa depanku. Aku janji Dinda, aku janji tidak akan menghubungi Laras lagi. Biarlah urusan Zaskia di sekolah kamu yang mengurus seperti biasa.” Suamiku berkata sambil masih memelukku.

Aku melepaskan pelukan darinya. Aku menatap netra Mas Dion. Aku lihat dia berkata jujur. Walaupun hati ini masih was-was aku berusaha mempercayainya. Aku harus percaya pada laki-laki yang sudah memberiku tiga buah hati. Aku tahu suamiku sangat sayang kepada anak-anak kami. Aku berharap Mas Dion memegang janjinya. Aku akan lebih berusaha jadi istri terbaik untuknya. Laras memang cantik. Tapi aku yakin ada nilai lain dalam diriku yang melebihi kecantikan Laras.

Mas Dion menghapus air mataku lembut. Mas Dion kembali memelukku. Pelukan erat seakan takut kehilanganku. Pelan aku mendengar gumamnya, “Aku sangat menyayangi kamu dan anak-anak kita, Dinda. Maafkan kekhilafanku. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Kalian semua adalah masa depanku.”

tamat

Dumai. 27/07/2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post