Ibu Julia part 2 (Tagur hari ke-143)
#tantangangurusiana
Anton menatap tajam Roy yang sedang duduk di meja makan. Anak lak-laki itu cuek saja melihat kakaknya yang marah-marah melihat kelakuannya. Bukan sekali ini Anton menegur Roy, hampir setiap hari Anton dipusingkan oleh kelakuan Roy. Telepon dari wali kelasnya yang meminta dia untuk datang ke sekolah membuat Anton sangat kesal kepada Roy.
“Sebenarnya kamu niat nggak sih mau sekolah, Roy?” Anton menatap Roy tak berkedip.
“Menurut Kakak bagaimana?” anak itu tidak menjawab pertanyaan kakaknya, malah mengajukan pertanyaan balik.
“Kamu mau nggak sekolah, kalau nggak mau kamu boleh berhenti. Kamu boleh pegang cabang supermarket kita salah satu.” Anton menatap serius adiknya.
Semenjak kedua orang tua mereka meninggal Anton yang mengambil alih semua usaha keluarga. sebagai kakak tertua dia bertanggung jawab terhadap kedua adik-adiknya. Anton sudah berusah sebaik mungkin untuk mendidik kedua adiknya. Tapi Roy sangat susah di atur. Adik bungsunya ini terlalu keras kepala. Beda dengan adiknya yang nomor dua. Anne sangat penurut. Tidak pernah membuat masalah yang memusingkan kepalanya..
“Roy, Kakakmu itu sangat sibuk. Jangan ditambah lagi dengan urusan yang lain.” Airin istri Anton ikut nimbrung.
Kelakuan Roy sudah membuat dia sangat kesal. Hampir setiap hari selalu saja Roy membuat ulah. Terkadang Airin yang harus datang ke sekolah mewakili suaminya. Rasanya kesabarannya sudah habis melihat kelakuan adik iparnya iitu. Airin bersikap manis karena hanya menghargai suaminya. Dia tahu bahwa suaminya sangat menyayangi adik-adiknya.
“Kalau kalian semuanya sibuk nggak usah saja datang.” Anak itu berlalu cuek dari hadapan kedua orang kakaknya tersebut.
Anton hanya geleng kepala melihat kelakuan adiknya. Sampai kapan anak itu bisa bersikap dewasa, batin Anton.
*****
Roy berhenti disebuah rumah bercat putih itu. Rumahnya kelihatan asri. Tanaman yang nampak sangat terawat tersusun rapi.
Dengan langkah yang mantap Roy mengetuk pintu. Pintu terbuka. Seorang wanita yang sudah berumur nampak berdiri di depan pintu. Sorot matanya yang ramah membuat Roy menjadi bersemangat untuk bertamu.
“Kamu mau mencari siapa, Nak?” perempuan itu menegur Roy.
“Saya mau cari Ibu Julia, Bu.” Roy menjawab sopan.
“Silahkan masuk. Julia ada di dalam. Duduklah dulu. Biar dipanggilkan.” Perempuan itu menjawab ramah.
Roy duduk di ruangan tamu. Ruangan tamu yang sangat sederhana. Roy menatap dinding di sebelah kiri dia duduk. Sebuah foto terpajang di sana. Foto Ibu Julia dengan seorang gadis yang lebih muda darinya. Mungkin adik Ibu Julia, pikir Roy.
“Ada keperluan apa kamu ke sini, Roy?” sebuah suara mengagetkan Roy yang lagi menatap foto di dinding.
Anak itu menatap Ibu Julia. Ibu Julia hanya memakai pakaian rumahan dari stelan batik. Tanpa make up. Wajahnya nampak lebih muda dari usianya. Roy terkesima melihat penampilan ibu wali kelasnya itu. Panampilan Ibu Julia seperti ini membuat dia seperti gadis dua puluh tahunan.
“Kamu bisa mendengar pertanyaan saya, Roy?” Ibu Julia mengagetkan Roy.
“Bi... bisa Bu.” Roy menjawab gugup. “Saya hanya mau silahturahmi.” Roy menjawab sopan.
Ibu Julia duduk dihadapan Roy. Wajahnya nampak kurang senang melihat kehadiran Roy. Tapi dia berusaha bersikap baik kepada siswanya ini.
“Maafkan saya karena menganggu waktu istirahat ibu. Saya hanya bingung saja mau kemana. Tiba-tiba mobil saya behenti di depan rumah ibu.” Anak itu berkata polos.
Ibu Julia tahu Roy berkata jujur. Tapi tetap dia merasa terganggu oleh kehadiran Roy.
“Saya tahu ibu kurang berkenan dengan kehadiran saya. Tapi saya hanya butuh teman untuk bercerita, Bu. Kakak saya dan istrinya selalu sibuk dengan pekerjaannya. Kakak perempuan saya jarang pulang ke sini. Sekarang dia lagi kuliah di luar kota.” Roy berkata sedih.
Ibu Julia terdiam. Tiba-tiba hatinya iba melihat siswanya ini. Ada yang menyesak didadanya mendengar perkatann Roy. Roy sebenarnya anak yang pintar. Tetapi nampaknya anak ini kurang mendapat perhatian. Semoga dengan sedikit perhatian yang aku berikan anak ini bisa lebih baik, batin Ibu Juila. Hatinya sedikit melunak menerima kehadiran Roy.
Perempuan yang tadi mempersilahkan Roy masuk mengantarkan dua gelas minuman. Dia menangguk ramah kepada Roy.
“Makasi, Bik.” Bu Julia mengucapkan terima kasih kepada perempuan itu.
Bibik ? Berati dia bukan orang tua perempuannya Ibu Julia. Mana orang tua Ibu Julia, batin Roy.
bersambung
Dumai. 21-08-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan