Ibu Julia Part 4 (tagur hari ke 145)
#Tantangangurusiana
Roy memarkir mobil tidak jauh dari rumah Ibu Julia. Dengan langkah perlahan Roy menuju rumah ibu gurunya tersebut. Suara orang sedang berbicara terdengar sampai keluar. Suara mereka yang keras membuat Roy jadi tahu apa yang dibicarakan. Roy menajamkan telinganya. Dia menguping pembicaraan orang yang di alam rumah.
Roy mendengar yang suara seorang wanita membentak dan mengancam Ibu Julia. Terdengar sangat kasar. Roy kaget mendengarnya. Suara isakan Ibu Julia membuat Roy tidak bisa menahan diri lagi untuk melangkah masuk.
“Anda tidak boleh mengancam wanita seperti itu, Bung.” Kedatangan Roy yang tiba-tiba mengagetkan dua orang laki-laki dan satu orang wanita yang duduk di depan Ibu Julia. Roy menatap tajam kepada wanita yang barusan membenak Ibu Julia.
“Anda siapa ? Jangan ikut campur masalah keluarga kami.” Laki-laki yang lebih tua menatap Roy dengan pandangan yang tidak suka.
“Masalah Julia merupakan masalah saya. Karena Julia adalah kekasih saya. Berhenti anda untuk memaksanya menikah. Julia hanya akan menikah dengan saya.” Roy berkata tegas.
Semua di ruangan itu terkejut mendengar perkataan Roy. Ibu Julia nampak kaget. Tapi sorot mata Roy membuat dia menyembunyikan kekagetannya. Ibu Julia yakin ucapan Roy untuk melindunginya.
“Tidak bisa seperti itu, Bung. Bagaimana dengan segala utang keluarga Julia. Apa Anda akan sanggup melunasinya?” wanita cantik yang mirip dengan Ibu Julia nampak bertannya kepada Roy.
“Saya akan melunasinya. Anda tidak perlu khawatir.” Roy berkata yakin.
Orang yang berada diruangan tamu itu saling betatap pandang. Di mata mereka nampak ada keraguan mendengar ucapan Roy. Laki-laki yang tadi bicara dengan Roy menanggukan kepala kepada dua orang yang disampingnya. Dia berbisik dengan wanita disampingnya.
“Oke kalau anda menyanggupi membayar utang Julia, tidak ada paksaan bagi Julia untuk mengikuti keinginan kami. Kami akan mengirim nomor rekening. Mohon secepatnya Anda transfer.” Laki-laki itu bicara dengan suara yang tidak lagi meninggi. “Kami permisi dulu.” Lanjutnya.
****
Sepeninggal orang itu suasana hening. Ibu Julia masih nampak menangis. Joy membiarkan ibu gurunya itu tenang. Anak itu ingin mengusap air mata yang mengalir di pipi mulus ibu gurunya. Tapi dia tidak mau lancang. Roy tidak mau Ibu Julia mengaanggapnya kurang ajar.
“Kamu tidak harus melakukan itu Roy.” Suara ibu Julia terdengar setelah tangisannya mereda.
“Tidak apa, Bu. Saya hanya tidak ingin Ibu ditekan mereka.” Roy menjawab pelan.
“Mungkin sudah jalan hidup, saya seperti ini.” Suara Ibu Julia terdengar putus asa.
“Ibu... Roy sangat bangga dan kagum kepada Ibu. Karena Ibu selalu memberi motivasi dan semangat Roy. Kayaknya Ibu tidak seperti yang Roy kenal. Mana Ibu Julia yang penuh semangat.” Roy berkata pelan.
Ibu Julia menekurkan kepalanya. Menasehati dan memotivasi orang memang lebih gampang. Tapi kalau menasehati dan memotivasi diri sendiri lebih susah, batin Ibu Julia. Ibu Julia menatap Roy, ternyata anaknya ini bisa bersikap lebih dewasa.
“Mereka siapa, Bu ? dan kalau Roy boleh tahu berapa utang Ibu kepada mereka. Roy akan tepati janji untuk melunasinya.” Roy bertanya hati-hati kepada ibu gurunya.
Ibu Julia hanya diam. Dia tidak mau membebankan masalahya kepada orang lain. Apalagi orang lain itu siswanya sendiri. Roy belum bekerja, anak itu baru tamat SMA. Apa yang bisa diperbuat oleh anak itu. Dari mana dia akan mendapatkan uang untuk membayar hutang yang harus ditanggungnya.
Ibu Julia tahu Roy tidak punya orang tua lagi. semua biaya anak itu ditanggung oleh kakaknya. Bertemu beberapa kali dengan Anton dan Airin kedua kakaknya membuat dia banyak thu mengenai anak ini.
“Ibu... izinkan saya berbuat baik untuk membantu Ibu. Ceritakanlah Bu. Saya akan akan menolong ibu.” Suara Roy mengagetkan Ibu Julia.
“Roy urungkanlah niat kamu mau membantu Ibu. Utangnya terlalu besar. Kamukan baru lulus SMA. Lebih baik kamu gunakan uangnya untuk kuliah dan masa depanmu.” Ibu Julia menjawab pelan.
“Ibu Julia kan tahu, saya tidak betah duduk lama-lama di kelas untuk belajar. Saya tidak bodoh. Bu. Saya hanya malas belajar di kelas, makanya saya sering tinggal kelas. Belajar di kelas hanya akan menghabiskan waktu saya saja. Saya tidak ada niat mau kuliah. Saya akan bekerja, Bu.” Roy menjawab pasti.
Ibu Julia menatap anak di depannya. Prestasi akademik Roy memang tidak terlalu bagus. Bukan karena anak ini tidak pintar. Roy benar. Dia tidak tertarik belajar di bangku formal. Makanya nilai raportnya dibawah standar. Hanya enam bulan terakhir ini saja anak itu nampak semangat belajar. Di umurnya yang ke dua puluh tahun saat teman-teman seumurannya sudah kuliah dia baru menamatkan SMAnya.
"Ibu jawablah pertanyaan saya, Bu. siapa mereka dan berapa utang Ibu kepada mereka ? " Roy kembali mengulangi pertanyaanya.
"Roy... Ibu mohon biarlah ibu yang meyelesaikan masalah ibu. Masa depanmu masih panjang. Kamu harus kosentrasi ke masa depanmu, Roy." Ibu Julia berkata pelan.
"Ibu... Masa depan saya adalah Ibu. Saya menyukai Ibu, bukan suka seorang siswa kepada guru. Tapi rasa suka seorang laki-laki kepada wanita. Izinkan saya untuk membantu, Ibu." Roy berkata dengan suara pelan.
Perkataan Roy membuat Ibu Julia terdiam. Apa yang dikhawatirkannya selama ini ternyata benar. Ternyata anak ini menyukai dirinya. Ya Tuhan..., bantu aku untuk menjawab ini semua, batiin Ibu Julia.
bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan