Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Maafkan Ririn, Kek (Tagur hari ke 138)

#tantangangutusiana

Setiap pulang kerja Ririn melihat di teras rumah sudah ramai anak-anak berkumpul. Mereka adalah anak tetangga dan beberapa orang anak dari kampung sebelah.  Mereka lagi belajar menggunakan android. Ada yang sedang menulis dan ada yang menonton video pembelajaran .  Beberapa cemilan terletak di tengah mereka.  

“Senang sekali mereka. Diberi cemilan lagi.” Ririn mengguman dengan kesal.

Ririn memang tidak suka melihat anak-anak itu berkumpul setiap sore di rumah ini. Pemandangan yang membuat mata Ririn tidak nyaman.  Terkadang  suara mereka berisik. Tapi apa daya, Ririn tidak kuasa melarang. Anak-anak itu berkumpul di rumah ini karena kakek yang menyuruh. Mereka belajar menggunakan wifi di rumah kakek.

Ririn sebenanya sudah menyampaikan keberatan terhadap kakek. Tapi kakek menasahati Ririn tidak boleh bersikap seperti itu.  Wifi di rumahkan sering tidak terpakai.  Lebih bermanfaat bila digunakan anak-anak untuk belajar, itu alasan kakek.

“Selamat sore Kak Ririn,” anak-anak itu menegur Ririn sewaktu dia melewati mereka.

Ririn tidak menyahut. Dia melengos dan berlalu dari hadapan anak-anak. Sikap Ririn sungguh sangat tidak bersahabat. Anak-anak itu saling pandang. Nampak mereka tidak nyaman melihat sikap Ririn.

“Kak Ririn  tidak senang kelihatannya kita di sini,” Wawan yang rambutnya keriting bicara pelan.

“Biar saja. Kak Ririn memang kayak gitu. Usah dimasukan ke hati. Kan kakek Abdul yang nyuruh kita belajar di sini.” Utari anak perempuan yang paling tua diantara mereka menyahut.

Anak-anak itu  menganggukan kepalanya. Diantara mereka nampak tidak enak hati melihat sikap Ririn. Tapi bagaimana lagi, mereka butuh jaringan internet. Kuota internet yang mahal membuat mereka menumpang  di rumah Kakek Abdullah.

*****

“Kakek, sampai kapan anak-anak itu memakai wifi di rumah kita?” Ririn bertanya kepada kakek sewaktu mereka sarapan pagi.

“Yah ... sampai mereka tidak mebutuhkan lagi.” Kakek menjawab sambil tersenyum.

“Tapi mereka bising, Kek.” Ririn protes. “Suara mereka mengganggu istirahat Ririn.”  Lanjut Ririn.

“Besok biar mereka kakek suruh belajar di ruang belakang saja.” Jawab kakek.  Kamar Ririn yang berada paling depan dekat dengan teras rumah tempat anak-anak berkumpul. Wajar Ririn terganggu, pikir kakek.

“Jangan dong Kek, masa anak-anak itu di suruh masuk rumah.” Ririn kembali protes.

“Ririn aneh deh, jadi harus bagaimana ?” Nana  yang dari tadi diam ikut nimbrung.

Nana adalah kakak perempuan Ririn. Setelah kedua orang tua mereka meninggal  Ririn dan kakaknya dirawat kakek. Sebenarnya mereka punya satu orang saudara lagi, Mas Sandy. Mas sandy kakak tertua mereka kuliah di luar kota.

“Kakek sih terlalu baik pada orang lain.” Ririn menyesalkan tindakan kakek.

“Kasihan anak-anak itu, Rin. Orang tua mereka tidak mampu. Lagian wifi kita kan tak banyak yang makai. Bagus digunakan mereka. Hitung-hitung kita bantu mereka.” Kakek berkata dengan  suara lembut.

“Pokoknya Ririn tidak suka, Ririn tidak mau melihat anak-anak itu.” Ririn berlalu tanpa menghabiskan sarapannya.

Nana dan kakek memandang kepergian Ririn.  Mereka sedih melihat sikap Ririn yang egois.  Salah mereka juga, terlalu memanjakan anak itu. 

“Maafkan  sikap Ririn ya Kek?  Nanti Nana akan tegur Ririn,” Nana berkata pelan.

“Ririn sudah besar, tapi masih kekanakan.” Lanjutnya.

Kakek hanya tersenyum. Sebenarnya dia sedih melihat sikap Ririn, semoga Nana bisa menasehati Ririrn, harapan kakek.

*****

“Mbak  Nana,  ngapain ke sini?” Ririn bertanya ketus sewaktu sore itu Nana menyamperin Ririn di rumah kosnya.

“Kamu sudah buat kakek sedih. Ngapa pakai kos pula?” Nana bertanya lembut pada adiknya.

“Kakek kan lebih memilih anak-anak itu daripada cucunya sendiri.” Jawab Ririn kesal.

“Rin, lihat foto ini. Mbak rasa sudah saatnya kamu tahu.” Nana mengeluarkan selembar foto dari  dalam tasnya.

Foto dua orang anak perempuan yang berdiri di depan sebuah panti asuhan. Sepertinya Ririn kenal wajah di foto itu.

“Ini siapa, Mbak Nana?” rasa ingin tahu Ririn membuat dia bertanya kepada mbaknya.

“Itu foto kita berdua, Rin. Kita adalah dua orang anak panti asuhan. Itu foto kita sebelum diangkat anak oleh mama dan papa. Kakeklah yang menyuruh  mama dan papa mengambil kita dari panti asuhan.  Karena kakek kasihan kepada kita berdua. Kakek sering melihat kita main di depan  panti.” Pelan suara Mbak Nana.

“Kakek orang yang sangat baik dan suka menolong. Mereka baik kepada semua orang. Tindakan kamu sudah buat kakek sedih.” Lanjut Mbak Nana.

Ririn menangis.  Berarti selama ini dia terlalu egois. Ririn menyesal telah bersikap kasar kepada kakek.

“Mbak Nana, Ririn mau pulang. Ririn mau minta maaf sama kakek.” Ririn berkata sambil menarik tangan Nana.

*****

Taksi yang membawa dua orang cucu angkat Kakek Abdul berhenti pas di depan rumah kakek. Dua orang gadis itu melewati anak-anak yang sedang belajar.

“Selamat sore Mbak Nana dan Kak Ririn.” Anak-anak itu menegur serempak.

“Selamat sore adik-adik.” Ririn menjawab  salam anak-anak itu.

Anak-anak itu saling pandang, tak biasanya Ririn menjawab salam mereka. Mereka nampak senang melihat wajah persahabatan dari Ririn.

Tanpa menghiraukan anak-anak itu Ririn dan Nana menuju ruang kerja kakek. Kakek nampak termenung. Dia menatap foto keluarga putrinya. Ada Ririn, Nana, Mas sandi dan  kedua orang tua mereka di foto itu. Laki-laki tua itu nampak sedih.

“Kakek, maafkan Nana. Nana janji tidak marah lagi melihat anak-anak itu belajar di sini.” Nana berkata sambil memeluk kakek.

Kakek menatap cucu bungsunya dengan heran. Ada apa dengan Ririn? Batin kakek.

“Maafkan Nana, Kek. Nana terpaksa menceritakan siapa kami kepada Ririn, Kek.” Nana berkata sambil menundukan wajahnya.

Kakek membalas pelukan cucunya.

“Kakek sayang kepada kalian. Kakek sayang kepada anak-anak itu. Kakek cuma mau membantu mereka. semoga dengan saling berbagi bisa meringankan beban orang tua mereka.”  Laki-laki tua itu tersenyum.

“Kakek senang Ririn sudah berubah.” Lanjut kakek.

Ririn memeluk kakek. Ririn menyadari bahwa sikapnya selama ini salah. Maafkan hamba Ya Allah batin Ririn.

   tamat

 Dumai, 16-08-2020

 

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post