Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Penambah Nafsu Makan (tagur hari ke130)

#tantangangurusiana

“Bu, beli jengkolnya. Murah kok. 15 biji cuma sepuluh ribu rupiah.” Seorang penjual menawarkan jengkol kepadaku sewaktu ke pasar tadi pagi.

Mataku menatap jengkol yang ada di depan ibu sang penjual tersebut. Jengkolnya sangat bagus. Besar dan bulat, aku menyebutnya dengan jengkok “sipuluik”.

Sebelum menikah aku paling suka jengkol. Mau diapakan saja bagiku jengkol tetap enak. Kalau nafsu makan hilang buatlah gulai jengkol, langsung semangat makan timbul kembali.

Semenjak menikah aku tidak pernah mengolah jengkol. Makannya sih pernah. Kalau lagi makan di luar ada menu jengkol aku langsung sikat. He...he. Kenapa aku tidak pernah masak jengkol? Karena aku tahu suamiku tidak menyukainya.

Waktu kami masih penjajakan dia pernah mengajakku makan di restoran, kebetulan ada menu jengkol. Aku langsung mengambilnya dan memakannya dengan lahap. Calon suamiku tersebut melongo melihatku. Dan langsung nyelutuk, “Enak emangnya?” tanya dia waktu itu

“Ini makanan yang paling enak di dunia,” jawabku sambil tersenyum

“Saya tidak suka katanya.” Aku tersenyum mendengar jawabannya.

Setelah menikah aku ingat perkataannya jenis makan yang satu itu tidak pernah menghias meja makan kami.

“Jadi bu, beli jengkolnya?” pejual tasi mengagetkanku.

“Jadi 30 biji aja.” Jawabku. Setelah membayar aku berlalu dari hadapan si ibu.

****

Sesampai di rumah aku langsung memasak jengkol. Jengkolnya aku gulai dicampur dengan cumi. Sebagai antisipasi untuk anak-anak takut tidak suka makan ikan cumi karena dicampur jengkol aku membuat ayam bumbu untuk mereka.

Sewaktu suami pulang sholat jumat, gulai jengkol, tumis kangkung pakai cabe, dan ayam bumbu sudah terhidang.

Suamiku menatap jengkol yang aku sajikan, aku melihat denga sudut mata. Ternyata suamiku mengambil beberapa jengkol di priring dan dipindahkannya ke piring makannya. Suamiku menyantap dengan lahap jengkolnya.

“Luar biasa, Mama. Enak sekali.” Komentarnya embuatku kaget.

“Papa suka memangnya?,” aku menatapnya heran.

“Suka Ma, jengkolkan banyak khasiatnya.” Dia menjawab sambil tersenyum.

“Nanti dimasak lagi ya Ma.” Ucapan suamiku menambah kekagetanku. Tumben, batinku.

Sorenya aku berselancar di dunia maya mencari thu tentang jengkol.Sebuah media online merilis, sebuah lembaga penelitian di Swedia Institute of Health Sciences juga membenarkan bahwa senyawa dalam jengkol 10.000 kali lebih baik dari produk adriamycin, obat kemoterapi.

Jengkol terbukti secara sains memiliki dua manfaat untuk manusia dalam menghadapi sel kanker.

Pertama, jengkol bisa memperlambat pertumbuhan sel kanker.Hal ini bisa menjadi alternatif pengobatan untuk kanker.

Hingga saat ini, manfaat jengkol untuk alternatif pengobatan untuk kanker pun masih terus dikembangkan oleh para peneliti.

Tak hanya melawan kanker, jengkol juga sangat baik dikonsumsi untuk penderita penyakit lainnya.

Misalnya peradangan pada lambung, penyakit infeksi cacing di saluran pencernaan, diabetes hingga mencegah anemia.

Namun perlu diingat, meskipun memiliki sejumlah manfaat tetapi konsumsi jengkol juga tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

Harus diikuti dengan konsumsi air putih yang banyak karena jengkol mengandung asam, yang dapat mempengaruhi kinerja ginjal jika terlalu banyak.

Tulisan di artikel membuatku tambah semangat untuk mengolah makanan yang satu ini.

Dumai, 07082929

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post