Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Rasa Yang Tak Pernah Mati ( Tagur hari ke 127)

#tantangangurusian

Lelaki yang berada di depanku masih tetap  mempesona seperti dua puluh tahun yang lalu. Lelaki yang dulu sangat aku cintai. Riando Adiguna. Lelaki yang merupakan cinta pertamaku. Lelaki yang mengenalkan aku akan manisnya cinta. Hubungan kami kandas karena Mas Rian harus menikah dengan anak sahabat orang tuanya.  

Rasa cinta Mas Rian yang besar kepadaku membuat dia nekat mengajaku untuk menikah walaupun orang tuanya tidak merestui.  Jujur aku ingin mengikuti ajakannnya. Karena akupun punya rasa cinta yang sama seperti dirinya.

Tetapi orang tua Mas Rian mendatangiku sebelum niat itu kami terlaksana. Mereka memintaku agar aku rela melepaskan putranya.  Mereka mengancam akan mengeluarkan Mas Rian dari keluarga mereka kalau aku nekat menerima permintaan Mas Rian untuk menikahiku.  Mereka tidak akan memaafkan aku karena aku  telah merebut Mas Rian dari mereka, putra mereka satu-satunya. Mereka menuduhku telah menyebabkan putra mereka jadi anak durhaka.

Pernikahan kakak pertamaku yang kandas karena tidak direstui oleh orang tua kami membuat aku jadi ragu untuk menerima ajakan Mas Rian. Aku melihat begitu terlukanya ayah dan bunda karena perbuatan kakakku.  Ayah kami meninggal dalam kesedihan akibat keputusan kakak menikah dengan kekasihnya.  Aku juga tidak mau orang tua Mas Rian seperti ayah dan bundaku.  Dengan berat hati aku menerima permintaan kedua orang tua Mas Rian untuk meninggalkan anaknya.

 Meninggalkan kota kelahiranku tanpa memberitahu Mas Rian adalah tindakan yang aku pilih. Semua nomor kontak aku ganti. Media sosial aku non aktifkan. Kepada seluruh keluarga aku meminta untuk merahasiakan kepergianku.

Tiga tahun setelah kepergianku, aku mendapat khabar laki-laki itu menikah  dengan putri sahabat orang tuanya.  Hatiku perih sekali. Istri Mas Rian, Diandra adalah teman sekelasku di SMP. Aku tahu  dia menyukai Mas Rian. Tetapi Mas Rian malah memilihku. Dengan kekayaan dan memanfaatkan hubungan baik orangtuanya dengan orang tua Mas Rian dia merebut Mas Rian dariku. Benar-benar licik. Tetapi aku berusaha untuk ikhlas.

Empat tahun setelah pernikahan Mas Rian aku juga menikah dengan seorang duda beranak satu. Mas Doni suamiku sangat mencintaiku. Lelaki yang sudah berumur itu sangat penyayang. 

Putra sambungku juga sangat menghargaiku sebagai istri baru papanya. Rasanya tidak ada yang kurang dari keluargaku.  Tetapi cinta dihatiku tidak juga timbul buat suamiki. Rasa sayang yang  ada di hatiku  pada Mas Rian tidak pernah bisa hilang. Benar kata orang-orang cinta pertama sulit  untuk dilupakan.

Dua  belas tahun setelah menikah dengan Mas  Doni, beliau pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Aku merasa berdosa sekali kepada laki-laki itu, sampai hayatnya tidak pernah tumbuh rasa cinta  di hati ini kepadanya. Sikap sayang dan tulusku kepadanya hanya kepura-puraan belaka. 

Di depan Mas Doni aku tampil sebagai istri yang sempurna. Aku selalu ada untuk dia. Selama dia dirawat di rumah sakit aku selalu mendampinginya. Tapi di lubuk hatiku yang paling dalam cintaku hanya untuk Mas Rian. Aku bak seorang artis yang pandai bermain peran. 

Semua usaha  yang ditingglakan Mas Doni  setelah kepergiann berada di bawah kendaliku. Karena putra satu-satunya beliau memilih menjadi seorang tentara. 

Setelah putra sambungku menikah, aku tinggal sendiri di rumah besar ini. Banyak laki-laki yang mencoba mendekatiku. Tetapi satupun di antara meraka tidak ada yang menarik hatiku. Hatiku sudah tertutup buat laki-laki lain. Hanya ada satu nama di hati ini.  Nama yang mungkin aku bawa sampai mati.

Pertemuan aku dengan Mas Rian terjadi tidak sengaja waktu aku mengunjungi putra sambungku. Aku sedang menunggu jadwal penerbangan ke Irian Jaya di ruang tunggu. Mas Rian menghampiriku. Sinar gembira terpancar dari matanya. dia mengenggam tanganku erat.

Perasaanku tak kalah dari Mas Rian. Getar dijantungku berpacu cepat. Suara panggilan agar penumpang segera menaiki pesawat membuat aku harus meninggalkannya padahal belum ada percakapan di antara kami. Mas Rian meminta nomor kontakku. Entah kenapa aku memberikan nomor kontakku pada lelaki itu.

Sejak saat itu Mas Rian selalu menghubungiku. Pesan wahtsapp darinya selalu mewarnai hari-hariku.  Apalagi setelah dia mengetahui kalau aku seorang janda. Semakin sering dia menghubungiku, tak jarang dia menghubungiku lewat video call.  Jujur aku menikmati semua ini.  Perhatian darinya setiap hari membuatku terhibur.  Hari-hariku jadi bersemangat.

Ajakan Mas Rian  untuk bertemu dengan senang hati aku penuhi, walau hati ini takut. Aku tahu ini tidak benar, tapi aku tidak bisa mencegah rasa yang salah di hatiku. Mas Rian datang ke kotaku, dia rela menempuh perjalanan darat selama 12 jam hanya untuk bertemu denganku. Aku sudah melarang agar jangan ke sinii tapi Mas Rian nekat.

Di sinilah aku sekarang di lobi hotel tempat Mas Rian menginap. Ini adalah pertemuan kedua kami setelah pertemuan di bandara.

“Kenapa melamun, Tyas ?” Mas Rian mengagetkanku. “Kamu tidak kangen kepadaku?” lanjutnya sambil tersenyum.

Tuhan.... Senyumnya membuat jantungku mau copot. Aku merasa kembali seperti anak yang baru mengenal cinta.

“Aku kangen padamu, Tyas. Kamu tahu betapa tersiksanya kau selama ini sejak kau hilang lenyap dariku. Aku mencoba melacakmu. Kamu hilang seperti di telan bumi. Setiap lebaran aku selalu mengintai di rumahmu, mana tahu kamu pulang. Tapi kamu tidak nampak. Waktu bundamu meninggal  aku berharap kamu pulang, tapi tak nampak batang hidungmu.  Kamu seakan  sembunyi dariku.” Laki-laki itu bicara panjang lebar.

Yah... aku ingat waktu bunda meninggal aku harus menunggui Mas Doni di rumah sakit. Mas Doni dalam keadaan kritis. Aku tidak bisa pulang ke kota melepas kepergian bunda. Aku pulang dua hari setelah bunda meninggal pantas Mas Rian tidak menjumpaiku.

"Cintaku tak pernah pudar untukmu, Tyas." Suara laki-laki itu bergetar sambil menatapku.

 

Bersambung

Dumai, **(censored)**

 

 

 

 

 

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post