Rasa Yang Tak pernah Mati (tamat ) Tagur hari ke 128
#tantangangurusiana
Di sinilah aku sekarang di lobi hotel tempat Mas Rian menginap. Ini adalah pertemuan kedua kami setelah pertemuan di bandara.
“Kenapa melamun, Tyas ?” Mas Rian mengagetkanku. “Kamu tidak kangen kepadaku?” lanjutnya sambil tersenyum.
Tuhan.... Senyumnya membuat jantungku mau copot. Aku merasa kembali seperti anak yang baru mengenal cinta.
“Aku kangen padamu, Tyas. Kamu tahu betapa tersiksanya kau selama ini sejak kau hilang lenyap dariku. Aku mencoba melacakmu. Kamu hilang seperti di telan bumi. Setiap lebaran aku selalu mengintai di rumahmu, mana tahu kamu pulang. Tapi kamu tidak nampak. Waktu a bundamu meninggal aku mengintai siapa tahu kamu pulang, tapi tak nampak batang hidungmu. Kamu sembunyi dariku.” Laki-laki itu bicara panjang lebar.
Yah... aku ingat waktu bunda meninggal aku harus menunggui Mas Doni di rumah saki. Mas Doni dalam keadaan kritis. Aku tidak bisa pulang ke kota melepas kepergian bunda. aku pulang dua hari setelah bunda meninggal pantas Mas Rian tidak menjumpaiku.
“Tyas kalau kamu tidak keberatan aku mau menyambung hubungan kita yang terputus.” Mas Rian menatapku penuh harap.
Aku hanya diam mematung. Aku tidak tahu harus menjawab apa. hati kecilku ingin menerima tawarannya, bagaimanapun juga rasa di hatiku terhadap pria ini tidak pernah hilang. Tapi bagaimana dengan Diandra ? Bagaimana perasaanya kalau aku menikah dengan suaminya.
“Bagaimana Tyas ?” Laki-laki itu kembali menatapku. Tatapan yang meminta jawaban.
“Tyas diammu berarti menerima tawaranku kan?” Mas Rian tersenyum. “Aku tahu kamu perlu waktu untuk berpikir, aku tunggu jawabanmu ya, Tyas.” Mas Rian menatapku.
*****
Aku mengajak Mas Rian berkeliling kota tempat tinggalku. Aku merasa sangat bahagia berada di samping laki-laki itu. Aku merasa dunia sangat indah. Mas Rian juga. Dari ceritanya aku mengetahui kalau pernikahannya tidak bahagia. Diandra seorang istri yang egois. Mas Rian bertahan di samping perempuan itu karena ada dua orang anaknya dari perempuan itu.
Setiap hari pertengkaran yang terjadi di rumah tangga mereka. Mas Rian merasa sangat tertekan. Aku mendengar cerita laki-laki itu. Aku yakin tidak ada dusta di ceritanya. Dua belas tahun hubungan kami cukup bagiku untuk mengenal sikapnya.
Malam itu aku kembali bertemu dengan Mas Rian. Malam ini adalah malam terakhir Mas Rian di sini. Besok pagi Mas Rian harus kembali pulang. Ada perasaan kehilangan dalam diriku. Aku ingin dia di sini, tapi diakan punya keluarga.
“Tyas, aku mennggu jawabanmu.” Kembali Mas Rian mengingatkaku akan permintaanya untuk menikahiku.
“Bagaimana dengan Diandra, Mas?” Aku menatap ragu pada laki-laki itu.
“Aku akan menceraikannya, Tyas. Tujuh belas tahun sudah aku mendampinginya, tak ada kecocokan diantara kami.” Mas Rian menjawab pasti.
“Tapi aku tidak mau disebut perebut suami orang, Mas.” Aku menjawab pelan.
“Kamu tidak salah Tyas, yang salah itu Diandra, dia telah memisahkan cinta kita. Sejak kematian kedua orang tuaku, aku merasa terbebas dari Diandra, Tyas . selama ini aku bertahan karena ada papa dan mama. Beliau sangat menyayangi Tyas. Tyas sangat pandai mencari muka kepada orang tuaku. “ Mas Rian bercerita dengan nada suara yang sangat kesal.
“Aku akan mengurus secepatnya perceraian kami. Kedua anakku sudah besar. Mereka pasti mengerti keadaan kami.” Lanjut Mas Rian pasti.
“Kamu tidak merebutku, Tyas. Kamu bukan pelakor. Karena aku yang memintamu. Aku menikahimu setelah aku menceraikan istriku.” Mas Rian berkata dengan mata berbinar.
“Tapi kalian bercerai karena Mas jumoa denganku.” Aku menjawab pelan.
“Tidak Tyas, ada atau tidak kamu , aku memang berencana menceraikan perempuan egois itu.” Mas Rian menjawab cepat.
"Bagaimana dengan anak-anakmu, Mas? Apa kamu tak kasihan dengan mereka?" Aku menatap Mas Rian denga ragu.
"Anak-anakku sudah besar, Tyas. Mereka tahu bagaiman Diandra memperlakuanku selama ini. Aku rasa mereka tidak keberatan dengan keputusanku." Laki-laki itu menjawab yakin.
Aku hanya diam. Aku hanya berdoa kalau memang laki-laki itu jodohku, semoga Tuhan menyatukan kami.
Malam itu aku diantar Mas Rian pulang. Kecupan pelan di keningku membuat aku rasa melambung , jantungku berdebar kencang. Cepat aku turun dari mobil Mas Rian, aku takut tidak dapat mengontrol perassanku.
*****
Kedatangan Diandra siang itu di kantorku membuaku kaget. Dia datang dengan seorang anak perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan Mas Rian. Wajah Diandra nampak sangat sinis. Pandangannya penuh kebencian padaku.
“Apa kamu tidak bisa mencari laki-laki lain selain suamiku, Tyas?” suara Diandra terdengar sangat ketus.
“Apa maksudmu, Diandra?” Aku balik bertanya kepada perempuan itu.
“Kau merebut suamiku. Jangan berlagak sok suci, Tyas.” Diandra menjawab masih dengan suara yang ketus.
“Apa bukan kamu yang merebut Mas Rian dariku dulu ? Dan kalau suamimu mau meninggalkamu sebaiknya kamu introfeksi diri. Jangan menyalahkan aku, dong.” Aku menjawab masih dengan tenang.
“Aku minta kamu jangan dekati suamiku. Kalau tidak kau akan menyesal.” Suara Diandra terdengan arogan.
“Kau jangan coba-coba mengancamku. Aku bukan Tyas yang dulu. Tyas yang berasal dari keluarga miskin sehingga gampang kau injak. Kau lihat aku punya segalanya.” Aku menjawab dengan sedikit sombong
.
‘Kau balik pulang. Pertahankan suamimu. Jangan menyalahkan aku kalau kalian bercerai. “ Lanjutku.
Wajah Diandra nampak memerah menahan marah. Dia beranjak menuju ke arahku. Aku tahu apa yang akan dilakukannya dengan cepat aku segera menekan intercom memanggil satpam. Perempuan itu mengurungkan niatnya mau mendekatiku.
“Kamu tahu pintu keluar, bukan? Silahkan tinggalkan kantorku.” Aku berkata sambil menujuk pintu keluar.
Perempuan itu dan putrinya meningalkan kantorku. Masih kulihat pandangan matanya yang seakan menerkamku.
****
Perceraian Mas Rian dan Diandra akhirnya terjadi juga. Tiga bulan setelah perceraiannya Mas Rian menyusulku ke kotaku. Laki-laki itu datang tanpa membawa apa-apa. Semua harta yang mereka miliki direbut oleh Diandra.
Aku tahu walaupun Mas Rian tidak membawa apa-apa, aku tahu dia membawa sesuatu yang sangat berharga untukku. Cinta. Cinta yang besar seperti besarnya cintaku padanya.
Aku akhirnya menikah dengan Mas Rian. Kalau ada perempuan yang paling berharga di dunia ini akulah orangnya. Aku tidak peduli bagaiman marahnya Diandra kepadaku.
Aku merasa aku juga berhak bahagia. Dua puluh tahun sudah cukup buat Diandra untuk mendampingi Rian. Sekarang giliranku. Yudha putraku tidak keberatan aku menikah lagi, bahkan dia sangat mendukung, biar aku ada yang menjaga katanya.
Di kamar ini aku tersenyum menatap Mas Rian yang sekarang sudah menjadi suamiku. Aku berjanji akan mendampingi Mas Rian. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untuknya. Mas Rian menatapku juga. Kami sama-sama tersenyum, perjalanan cinta kami sungguh sangat berliku. Tapi akhirnya Tuhan mempertemukan kami, walaupun mungkin ada yang terluka oleh pernikahan kami. Aku tidak peduli. Karena aku juga berhak bahagia.
Tamat
Dumai, **(censored)**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan