Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Sudahkah Anda Jadi Pejuang Literasi? (tagur hari ke 131)

#tantangangurusiana

Kemerdekaan yang diproklamirkan tujuh puluh lima tahun yang lalu adalah hasil dari perjuangan para pejuang bangsa. Pejuang  rela mengorbankan jiwa dan raganya demi  ibu pertiwi tercinta. Kemerdekaan yang telah diperoleh dengan susah payah oleh para pejuang harus diisi dengan pembangunan disegala bidang.

Untuk membangun bangsa ini diperlukan generasi yang cerdas, pintar dan berakhlak.  Generasi yang pintar, cerdas, dan berakhlak tidak akan terlahir kalau mereka tidak memiliki kemampuan literasi yang handal.

Menurut wikipedia  literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari pengertian tersebut kemampuan literasi mencakup membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah.  Dalam kehidupan sehari-hari sebagian orang mengartikan literasi hanya membaca saja. Akibatnya banyak orang berliterasi tetapi hanya membaca saja, berpikir dan menulis dikesampingkan.

Laman kementerian kominfo  menulis  bahwa UNESCO menyebutkan Indonesia berada di  urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Kenyataan ini merupakan PR besar bagi semua pihak termasuk  guru. Guru merupakan pejuang literasi bagi anak didiknya di sekolah dan bagi keluarganya di rumah.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan semangat literasi kepada anak didik. Tetapi sebelum guru menanamkan semangat literasi kepada anak-didik, guru harus memiliki semangat literasi itu lebih dahulu.

Di sekolah ada beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh guru sebagai pejuang literasi, yaitu :

1.    Menyediakan waktu 15 menit sebelum pelajaran dimulai bagi siswa  membaca buku mengenai materi yang akan diajarkan.  Dengan membaca buku terlebih dahulu  siswa akan lebih mudah nantinya memahami materi yang akan diajarkan guru.

2.    Sebagai wali kelas guru bisa memotivasi siswa untuk membaca. Buku yang sudah dibaca  nantinya diminta siswa untuk menuliskan resensinya. Resensi terpilih dibacakan di depan kelas.

3.    Sebagai wali kelas guru juga bisa merancang pojok baca yang menyenangkan di kelas.  Sehingga di waktu luang siswa lebih betah berada di dalam kelas membaca buku.

4.    Guru menyediakan reward kepada siswa yang berprestasi dalam mata pelajarannya  dengan memberikan hadiah berupa buku-buku yang sifatnya mendidik.

5.    Guru bisa memperlihatkan buku yang sudah ditulisnya kepada siswa, sehingga dengan  melihat buku karangannya siswa jadi termotivasi juga untuk menulis.

6.    Guru bisa mengusulkan program baca 15 menit sebelum pelajaran di mulai  sebagai budaya  di sekolah tempat dia mengajar.

Dengan teman sejawatpun guru juga bisa menjadi pejuang literasi.  Dengan  memperlihatkan buku yang sudah ditulisnya,  guru sudah memotivasi guru lain untuk menulis.  Cara ini dipandang sangat ampuh untuk memotivasi  guru menulis. Apalagi menulis buku bisa menambah angka kredit untuk naik pangkat bagi guru yang PNS.

Sebagai orang tua, guru juga pejuang literasi di rumah. Adapun cara yang bisa dilakukan untuk menumbuhan semangat literasi terhadap anak-anak di rumah adalah

1.    Mengurangi interaksi dengan gawai apabila berada di dekat anak. Sediakan waktu lebih banyak dengan mereka untuk bercerita.

2.    Menyediakan sudut baca di rumah. Lengkapi  sudut baca dengan buku-buku yang sesuai dengan usia dan pertumbuhan anak.

3.    Membacakan buku-buku  bagi anak-anak yang belum bisa membaca.

4.    Memberikan hadiah kepada anak-anak berupa buku.  Misalnya memperingati hari lahir anak, orang tua  bisa memberikan hadiah dengan membawanya ke toko buku. Anak dibebaskan mengambil buku yang disukainya.

5.    Mengajak anak-anak berdiskusi mengenai buku yang dibacanya.

6.    Memotivasi anak-anak untuk menulis. Bisa dengan memperlihatkan karya teman-teman mereka yang  sudah menjad buku.

 Demikianlah upaya-upaya yang bisa dilakukan oleh guru sebagai pejuang literasi, di sekolah sebagai guru dan di rumah sebagai orang tua. Semangat buat para guru Indonesia, semangat buat para pejuang literasi. Salam literasi.

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post