Bimbang (Last Part ) Tagur ke 178
#tantangangurusiana
Sudah hampir dua jam Ririn menunggu Pak Arman di kafe ini, tapi laki-laki itu belum nampak juga batang hidungnya. Tidak biasanya Pak Arman seperti ini. Whatsapp yang diirim Ririn tak dibaca. Telponpun tidak diangkat. Ririn muai risau, apa yang terjadi denagan Pak Arman. Ririn mulai mencemaskan laki-laki itu.
Ririn akhirnya memutuskan pulang setelah mengirim pesan via whatsapp kepada Pak Arman. Hari yag sudah mulai sore membuat Ririn harus mengambil keputusan itu.
“Hai Ririn, lagi nunggu siapa?” Suara seorang perempuan mengagetkan Ririn.
Ririn menoleh. Ternyata Amanda, adiknya Pak Arman. Ririn membatalkan niatnya mau pulang karena Amanda duduk di dekat Ririn.
“Tadi janjian sama Mas Arman, Manda. Tapi kayaknya Mas Arman berhalangan deh.” Ririn berkata pelan.
“Kenapa tak ditelpon saja?” Amanda bertanya.
“Udah Manda. Mas Arman taj mengangkat. Manda ngapain ke sini ?” ririn balik bertanya.
“Janjian sama teman. Tuh mereka sudah datang.” Amanda menunjuk kepada tiga orang perempuan yang melambaikan tangan kepadanya.
“Kalau begitu aku permisi dulu ya Manda.” Ririn pamit. Amanda menganggukan kepalanya. Ririn cepat pergi meningglakan tempat itu
*****
Suara ketukan di pintu membuat Ririn, Rindu dan bunda yang lagi menonton televisi jadi saling berpndangan. Refleks mata meraka melihat ke dinding pukul 22.00 WIB. Siapa yang betamu malam begini, batin Ririn.
Ririn dan Rindu menuju ke ruang tengah. Dari jendela Ririn bisa melihat yang datang Pak Arman. Ririn membukakan pintu. Pak Arman masuk wajahnya nampak letih.
“Maafkan Mas, Rin. Mas tadi tak bisa datang. Dita dan Dwi tiba-tiba minta Mas menemani mereka. Rencananya sebentar, ternyata lama. Handphone Mas ketinggalan di rumah tadi jadi tak bisa menghubungimu.” Pak Arman berkata dengan menyesal kepada Ririn.
“Ya nggak apa. Tadi Ririn cuma cemas saja. Takut terjadi apa-apa sama Mas.” Ririn berkata pelan.
“Kalu gitu Mas permisi pulang. Tak enak sudah malam bertamu. Maaf mengganggu waktu istirahatmu.” Pak Arman langsung pulang setalah berpamitan kepada bunda.
*****
Sepeninggal Pak Arman, Ririn lama termenung. Bukan sekali dua kali Pak Arman membatalkan janji mereka, alasannya selalu sama. Dita dan Dwi minta ditemani papanya. Ririn merasa ada yang aneh.
Sebuah notif dari pesan whatsapp masuk ke gawai Ririn, dari nomor yang tidak dikenal Ririn.
[Tante sudah kami peringatkan jangan mendekati Papa lagi. Tante tidak akan bisa menikah dengan papa kami. Kami mau orag tua kami bersatu lagi] sebuah pesan dibaca Ririn. Ririn yakin pengirimnya pasti Dita dan Dwi.
Ririn lama termenung. Dia teringat siang tadi pembicaraan dengan Yessy teman semasa SMAnya. Yessi menikah dengan seorang duda dengan tiga orang anak. Dari cerita Yessi, Ririn tahu bahwa harus siap mental kalau menikah dengan seorang duda yang punya anak.
“Kita harus siap di nomor duakan, Rin. Karena seorang ayah pasti akan sangat menyayangi anak-anaknya. Harus berjjiwa besar, Rin. Apalagi kalau anak sambung kita itu tidak menyukai kita. Kamu harus berpikir ulang Rin jika menikah dengan duda. Cukup aku saja yang mengalami Rin.” Yessy menasehati Ririn.
Ririn teremenung, tiba-tiba dia merasa sangat bimbang untuk menikah dengan Pak Arman. Apakah aku siap untuk dinomor duakan terus? Batin Ririn.
Ririn teringat Dita dan Dwi. Ririn sayang sama kedua anak itu. Ririn membayangkan kalau dia di posisi kedua anak itu. Pasti diapun akan melakukan hal yang sama untuk menyatukan orang tuanya.
“Biar aku yang mengalah. Aku mundur jadi calon istrinya Pak Arman. Aku tidak bisa nanti menikah dengan Pak Arman tapi membuat terluka hati Dita dan Dwi. Aku harus menolak pernikahan ini.” batin Ririn.
Ririn memilih mengistirahatkan raganya. Ririn merasa sangat capek. Semoga besok aku bisa menjelaskan kepada Pak Arman. Aku akan menata hatiku kembali. Pak Arman bukan jodohku, dia milik anak-anaknya, batin Ririn.
Tamat
25-09-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan