Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Bimbang (Part 2) Tagur hari ke 176

#tantangangurusiana

Semua mata memandang ke arah pintu sewaktu Pak Arman mengucapkan salam. Ririn merasa sangat grogi mendapat tatapan mata dari orang-orang yang berada di ruangan itu. Genggaman tangan Pak Arman yang erat membuat Ririn sedikit tenang.

“Maaf saya terlambat.” Pak Aman berkata pelan.

“Tak apa Bang Arman acara juga belum di mulai kok.” Seorang perempuan sebaya Ririn menjawab sambil tersenyum.

“Ini siapa, Arman?” Seorang wanita yang sudah agak berumur menegur Pak Arman.

Pak Arman mendekati perempuan tesebut, dia menyalami dan mencium tangannya dengannya hormat.

“Namanya Ririn, Bu. Dia teman wanita Arman.” Pak Arman menjawab dengan sopan. Isyarat matanya meminta Ririn juga menyalami wanita itu. Ririn mendekati perempuan itu. Tangannya terjulur pada Ibunya Pak Arman. wanita itu menyambut hangat

“Kamu cantik sekali, Ririn. Semoga kalian berjodoh.” Perempuan yang sudah nampak tua itu tersenyum sangat ramah.

Acara malam itu adalah acara kumpul keluarga Pak Arman sekalian merayakan hari kelahiran ibundanya. Pak Arman adalah anak laki-laki tertua dalam keluarga. Dia memiliki tiga orang adik perempuan dan seorang adik laki-laki. Semuanya sudah menikah. Pak Arman juga pernah menikah. Tapi dia sudah lama berscerai dengan istrinya.

Mantan istri Pak Arman dan dua anak mereka juga hadir malam itu. Ririn merasa pandangan wanita itu kurang ramah terhadapnya. Ririn berusaha bersikap biasa saja. Pak Arman mengenalkan dua orang putrinya kepada Ririn.

Berada dalam keluarga Pak Arman yang hangat membuat Ririn merasa senang, mereka nampak sangat bersahabat.

“Terima kasih Ririn, kamu sudah menolong saya malam ini.” Pak Arman berkata ramah sewaktu mengantar Ririn pulang.

Ririn turun dari mobil itu tanpa bertanya. Sebenarnya banyak yang mau ditanyakan Ririn, tapi matanya yang mengantuk dan badanya yang capek membuat dia memilih merebahkan raganya di tempat tidur. Tak lama Ririrn terbuai oleh mimpi indahnya.

*****

Sejak peristiwa malam itu Pak Arman jadi semakin dekat dengan Ririn. Ririn juga tak bisa menipu perasaannya kalau dia juga tertarik kepada duda itu. sikap Pak Arman yang dewasa dan pengertian membuat Ririn seakan menemukan sosok almarhum papa yang sudah meninggal.

[Ririn ke ruang saya sebentar] Pesan whatsapp diterima Ririn dari Pak Arman.

Tergesa Ririn menuju ruangan bosnya itu. Ririn tahu Pak arman tidak mau menunggu lama. Bosnya itu orangnya mau serba cepat.

“Duduk, Rin.” Pak Arman mempersilahkan Ririn duduk di kursi yang ada di depannya.

“Ririn, kamu mau menikah dengan saya?” Ucapan Pak Arman yang tiba-tiba membuat Ririn kaget.

Jujur dia sudah mulai menyukai lelaki itu, tapi dia tak pernah membayangkan akan secepat itu laki-laki itu melamarnya.

“Maafkan saya Rin. Ini mungkin terlalu cepat buat kamu. Kamu tak usah menjawabnya sekarang. Saya beri waktu kamu berpikir. Tapi jangan lama-lama ya Rin.” Pak Arman berkata dengan suara lembut.

Ririn terduduk, badannya lemas. Dia merasa tak sanggup berdiri. Lamaran mendadak dari Pak Arman membuatnya syok.

bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post