Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Bimbang (Tagur hari ke 174)

#tantangangurusiana

Suara notifikasi whatsapp mengagetkan lamunan Ririn. Perempuan cantik itu nampak bingung memegang sebuah paket tanpa pengirim yang baru saja diterimanya. Ririn tadi sempat bersitegang dengan kurir tidak mau menerima. Tapi yang tertulis di paket jelas nama dan alamat Ririn. Dengan penuh tanda tanya akhirnya Ririn menerima paket tersebut. Paket yng sangat cantik dengan pita merah jambu warna kesukaan Ririn.

Refleks tangan Ririn menjangkau gawainya yang terletak di atas meja tamu. Sebuah pesan tertulis dari nomor yang sangat dikenalnya.

[Sudah terima paket dari saya, Rin?] pesan WA Pak Arman, bosnya.

Ririn mengerinyitkan dahinya. Kenapa Pak Arman mengirimnya paket ?

[Semoga kamu senang, Ririn] pesan berikutnya menyusul.

Ririn membuka pembungkus paket tersebut. Ririn kaget sebuah gaun yang sangat indah keluaran terbaru dengan warna pink lembut berada di dalamnya.

“Gaun yang sangat indah dan mahal. Untuk apa Pak Arman memberi ini kepadaku ?” Batin Ririn penuh tanda tanya.

[Ririn kamu pakai gaun itu malam ini ya, pukul setengah delapan malam aku jemput kamu] pesan kembali masuk.

Rasa penasaran membuat Ririn menekan nomor kontak Pak Arman.

“Kamu nggak sabaran banget sih, Rin. Ngapain nelpon segala.” Suara bass bosnya terdengar.

“Pak Arman ? Apa maksudnya ini Pak ? Kenapa saya harus memakai baju ini ?” Ririn memberondong Armand bosnya itu dengan pertanyaan.

“Kamu lupa Rin, tadi pagi kamu sudah mengacaukan meeting saya dengan calon rekanan saya. Dan tadi kamu sudah berjanji akan mengabulkan permintaan saya sebagai rasa bersalah. Nah sekarang saya menagih janji kamu. Pakai pakaian itu dan pukul setengah delapan kamu saya jemput.” Arman menutup telepon tanpa memberi kesempatan Ririn untuk bertanya lagi.

Ririn menepuk jidatnya. Gadis itu teringat kejadian tadi siang, gara-gara tingkah konyolnya yang menumpahkan saus di baju teman wanita Pak Arman rekan bisnisnya, meeting mereka jadi berantakan. Wanita pemilik perusahaan yang mau menanamkan saham di perusahaan Pak Arman itu jadi marah dan meningglakan acara makan siang mereka. Pak Arman sangat kesal kepadanya. Ririn hanya diam dan tanpa sadar dia mengucapkan akan mengabulkan permintaan Pak Arman sebagai rasa bersalah.

“Tuhan, apa yang diinginkan oleh Pak Arman? Kenapa aku harus memakai baju ini ? Dan kemana Pak Arman membawa aku nanti malam? Sejuta tanya berkecamuk di benak Ririn

Pak Arman adalah bos Ririn. Ririn bekerja di perusahaan Pak Arman karena bantuan sahabat mamanya. Pekerjaan Ririn sebagai sekretaris Pak Arman menuntut dia harus bekerja cepat dan cekatan. Tak pernah Ririn mengecewakan bosnya itu. Kejadian siang tadi adalah kesalahan pertama yang dibuat Ririn. Kesalahan yang harus dibayar Ririn dengan mengabulkan permintaan bosnya malam ini. Ririn tidak tahu apa permintaan yang akan diajukan bosnya.

*****

“Cie... cie... Kak Ririn cantik sekali.” Rindu adiknya yang masih di SMA meledek Ririn sewaktu dia memakai baju itu.

“Bunda, kesini deh Bun. Lihat Kak Ririn nih bunda pakai gaun. Cantik.” Rindu berteriak memanggil bunda.

“Kamu mau kemana, Rin ?” Bunda yang mendengar teriakan Rindu sudah berada di kamar Ririn.

Mata bunda menatap Ririn tak berkedip. Anak gadisnya yang terkenal tomboy nampak sangat cantik dan feminim sekali dengan balutan gaun yang indah.

“Kamu cantik sekali, lho Rin. Baju itu sangat cocok untukmu.” Bunda berkata dengan gembira.

“Apa in sih Bunda. Ini gara-gara Pak Armand nih mama. Tadi Ririn membuat meeting dia gagal sama kliennya. Jadi sebagai permintaan maaf Ririn harus memakai baju ini, sebentar lagi dia mau menjemput Ririn tak tahu mau ngajak kemana.” Ririn menjawab kesal.

“Jadi... Kak Ririn mau pergi sama Om Arman. Idih.. kok ngedatenya sama laki-laki tua sih kak ?” Rindu tertawa ngakak.

“Bawel....” Ririn berkata sambil menjitak kepala Rindu.

“Makanya lain kali bekerja yang benar. Jangan buat kesalahan. Cari kerja zaman sekarag susah. Mama kan jadi malu sama Om Arman kalau kamu buat kesalahan.” Mama menasehati Ririn.

Suara klason mobil mengegetkan mereka. Ririn menatap jam di dinding pukul tujuh lima menit. Dengan tergesa Ririn menyapukan bedak dan lipstik di wajahnya yang cantik. Mama geleng-geleng kepala melihat kelakuan Ririn. Tangan mama merebut peralatan make up di tangan Ririn dan menyuruh Ririn duduk. Ririn tak bisa membantah. Lincah tangan mama membantu Ririn menggunakan make up. Sempurna. Ririn nampak sangat cantik sekali.

“Udah siap. Kamu silahkan temui Om Arman.” Mama memerintah Ririn.

Dengan wajah yang masih kesal Ririn keluar menjumpai Pak Arman. Rindu nampak bercerita dengan laki-laki itu. Mereka nampak sangat akrab sekali.

Kedatangan Ririn menghentikan percakapan mereka. Pak Arman dan Rindu memandnag tak berkedip kepada Ririn.

“Kak Ririn cantik banget.” Rindu berdecak kagum.

“Apaan sih Rindu.” Ririn mendengus kesal.

Setelah berpamitan kepada Bunda, Pak Armad dan Ririn meninggalkan rumah. Mobil putih Pak Arman melaju dengan gagah menerobos hati yang sudah mulai malam.

*****

Mobil berhenti di sebuah rumah yang sangat besar. Beberapa mobil-mobil mewahl nampak berjejar di halaman rumah. Suara alunan musik terdengar pelan dari dalam rumah.

Pak Arman tiba-tiba memegang tangan Ririn. Sontak Ririn menarik tangannya.

“Bapak jangan kurang ajar ya.” Suara Ririn terdengar ketus.

“Ingat Ririn janjimu. Kamu sudah berjanji mengabulkan permintaan saya. Perimintaan saya adalah kamu berlaku manislah selama di samping saya. Jangan membantah.” Suara Pak Arman terdengar tegas.

Ririn terdiam. Dia hanya menunduk. Dadanya berdebar menahan marah. Ingin dia berlari meninggalkan laki-laki ini. Tapi resikonya dia bisa kehilangan pekerjaan. Sementara dia membutuhkan pekerjaan ini. Tidak mudah mencari pekerjaan sekarang. Semenjak papa meninggal tanggung jawab keluarga jatuh dipundaknya.

Ririn mebiarkan jemarinya digenggam oleh Pak Arman. Jarak Pak Arman yang dekat dengannya membuar Ririn risih, dia berusaha bersikap setenang mungkin.

Semua mata memandang ke arah pintu sewaktu Pak Arman mengucapkan salam. Ririn merasa sangat grogi mendapat tatapan mata dari orang-orang yang berada di ruangan itu. Genggaman tangan Pak Arman yang erat membuat Ririn sedikit tenang.

Bersambung,

Dumai, 21-09-2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post