Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Buah Keikhlasan Part 2 (Tamat ) Tagur hari ke 159

#tantangangurusiana

Tidak akan ada perempuan di muka bumi ini yang benar-benar ikhlas suaminya menikah lagi. Berbagi suami memang sangat berat. Salma merasakan itu. Tak henti-hentinya air mata mengalir di wajahnya yang nampak sedikit kurus. Istighfar dan doa agar diberi keikhlasan hati selalu dilafazkan wanita itu.

Tujuan pernikahan salah satunya adalah untuk menghasilkan keturunan. Salma sadar akan kekurangan dirinya. Aku tidak bisa memberi keturunan buat suamiku, alangkah egoisnya diriku kalau tidak bisa ikhlas, batin Salma. Aku harus ikhlas. Aku harus patuh kepada suamiku.

Salma berpikir mau minta pisah dengan suaminya. Tapi bukankah cerai adalah suatu yang tidak di sukai Allah ? Tidak... cerai bukan solusi, batin Salma. Cerai memang tidak dilarang oleh Allah. Tapi Allah tidak menyukai perempuan yang memintak cerai kepada suaminya. Aku tidak mau jadi hamba yang tidak disukai Allah. Aku lebih takut Allah dari pada dimadu. Barbagai macam pikiran berkecamuk di kepala Salma. Salma tertidur di kursi kaena lelah oleh pikiranya.

Bunda yang sengaja menemani Salma di rumahnya menangis melihat menantunya. Permpuan itu mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Salma.

“Maafkan Bunda, Salma. Bunda hanya ingin memiliki keturunan dari suamimu.” Bunda berkata pelan sambil mengusap rambut Salma.

*****

Kepergian Mas Rahman dan Hanna berbulan madu keluar negeri betul-betul sangat menyiksa Salma. Setiap malam air mata selalu membanjiri pembaringannya. Janjinya kepada bunda untuk tidak menghubungi suaminya selama bulan madu membuat hatinya sedih. Mas Rahman juga tidak pernah menelponnya. Apakah Mas Rahman sudah melupakan aku ? batin Salma.

“Rahman tidak melupakanmu, Salma. Bunda yang meminta dia untuk tidak menghubungimu selama bulan madu dengan Hanna. Bunda tahu Rahman menyangimu, tapi Bunda tidak ingin untuk saat ini dia membagi perhatiannya. Hanya seminggu ini saja. Bunda akan menemanimu di sini, biar kamu jangan kesepian. Bunda harap kamu tidak keberatan.” Bunda berkata waktu Salma mengeluhkan suaminya yang tidak menghubunginya.

“Kamu harus belajar ikhlas Salma. Kamu bisa mencari beberapa kegiatan positif biar jangan selalu memikirkan suami dan adik madumu. Kamu bisa bantu bunda mengurus beberapa lembaga sosial bunda.” Lanjut Bunda .

*****

Salma mengikuti saran bunda. Salma membantu bunda mengurus lembaga-lembaga sosial yang dikelola mertuanya. Salma begitu kagum kepada bunda. wanita kaya raya itu mempunyai banyak anak asuh dan menjadi donatur dari berbagai panti asuhan. Satu yang selama ini tidak diketahu Salma, ternyata bunda berpisah dengan papanya Mas Rahman karena suaminya itu menikahi perempuan lain.

“Bunda tahu, betapa sakitnya dimadu Salma. Bunda merasa sangat berdosa kepadamu. Tapi Bunda juga ingin punya penerus keluarga bunda. Maafkan bunda” Perempuan itu berkata sewaktu mereka pulang dari suatu kegiatan sosial. Bunda menangis. Salma memeluk perempuan itu. Salma tahu bunda sangat menyayanginya.

*****

Langkah Salma terhenti sewaktu mau memasuki ruang kerja bunda. Suara Bunda dan Mas Rahman terdengar dari dalam ruang kerja. Bunda terdengar marah kepada suaminya. Kenapa Bunda memerahi Mas Rahman ? Rasa ingin tahu membuat Salma mendekatkan telinganya ke daun pintu untuk menguping pembicaraan ibu dan anak itu.

“ Bunda tidak mau kamu berlaku tidak adik kepada Salma.” Suara Bunda terdengar kesal.

“Aku lakukan ini juga demi Bunda. Bundakan yang meminta aku menikahi Hanna?” Suara Mas Rahman terdengar menyahut.

“Iya. Bunda memang kepingin keturunan dari kalian. Bunda yang meminta kamu menikahi Hanna. Tapi kamu juga harus bersikap adil. Dosa kalau kamu berlaku zholim kepada salah seorang istrimu.” Suara bunda kembali terdengar.

“Tapi Salma tak keberatan kok Bunda. Salma maklum kondisi Hanna lagi hamil muda. Makanya dia tak keberatan aku lebih sering bersama Hanna.” Mas Rahman membela diri.

Salma mengurungkan niatnya menemui bunda, dia berjalan tergesa menuju parkiran. Di dalam mobilnya Salma menangis. Mas Rahman bohong. Salma tidak pernah mengizinkan Mas Rahman lebih lama di rumah Hanna dari pada di rumahnya. Mas Rhaman yang memohon agar Salma mengizinkan dia lebih lama di rumah Hanna. Salma tidak bisa menolak. Apalagi Mas Rahman selalu mengatakan itu permintaan calon bayi mereka. Semenjak Hanna hamil dalam sebulah hanya dua hari Mas Rahman bersamanya.

Salma merasa sangat sedih. Salma maklum, Hanna sangat muda dan cantik. Pasti suaminya lebih betah berlama-lama dengan nya dibandingkan dengan dirinya.

Salma membelokakn mobilnya ke salah satu panti asuhan yag dikelola Bunda. Berada diantara anak-anak panti adalah hiburan bagi Salma.

*****

Sikap Mas Rahman berubah setelah mendapat teguran bunda. laki-laki itu kembali bersikap adil kepada Salma. Mas Rahman memeluk Salma dan meminta maaf. Salma tersenyum, dia sekarang merasa lebih tenang. Setiap saat Salma selalu berdoa supaya diberi perasaan ikhlas. Ternyata berusaha mengikhlaskan sesuatu membuat hidup kita terasa lebih indah.

Kedatangan Hanna sore itu kerumah Salma membuat Salma heran. Selama menikah dengan suaminya tidak pernah adik madunya itu berkunjung. Hanya Salma yang sering datang ke rumahnya.

Kandungannya sudah nampak sangat besar. Salma merasa senang melihat kehamilan Hanna. Jujur hatinya sekarang tidak merasa sakit lagi melihat Hanna.

“Kak Salma, aku mohon maaf selama ini aku sudah meminta Mas Rahman lebih sering bersamaku. Aku merasa bersalah kepada Kak Salma.” Hanna berkata pelan.

“Kak, nanti kalau anakku sudah lahir. Aku akan meninggalkan Mas Rahman. Aku akan menyerahkan anankku kepada Kak Salma. Aku ingin kakak nanti yang merawat anakku.” Lanjut Hanna.

“Tidak boleh berkata begitu Hanna. Kita akan merawat anak Mas Rahman bersama-sama. Kamu adalah adik madu, Kakak. Kakak juga menyanyingimu.” Salma menjawab tulus.

“ Terima Kasih, Kakak sudah mau berbagi denganku.” Hanna mememeluk Salma erat.

*****

Telepon dari Bunda yang meminta Salma agar segera ke rumah sakit membuat Salma cemas. Tadi Bunda mengatakan kalau Hanna mau melahirkan. Bukankan masih sebulan lagi ? batin Salma. Salma hapal usia kandungan adik madunya itu. Ada apa dengan Hanna ? Semoga tidak terjadi apa-apa, batin Salma.

Selama perjalanan ke rumah sakit tidak henti-hentinya Salma berdoa buat adik madunya itu. Salma berharap Hanna dan calon bayinya baik-baik saja.

Bunda, Mas Rahman dan orang tua Hanna nampak cemas menunggu di luar kamar persalinan. Ibunya Hanna nampak menangis. Dia menyambut kedatangan Salma.

“Maafkan Hanna, Nak Salma kalau dia ada menyakiti perasaamu.” Perempuan itu memeluk Salma.

“Ibu tidak boleh berkata begitu. Hanna tidak salah. Justru saya yang berterima kasih kepadanya karena sudah mau menjadi istri Mas Rahman dan mengandung anak darinya.” Salma berkata tulus.

Perempuan itu tersenyum. Dia tahu bahwa Hanna sering membujuk Rahman agar lebih mengutamakan dirinya daripada istri pertamanya. Dia tahu bahwa Rahman lebih mengutamkan Hanna dari Salma. Tetapi Salma tidak pernah keberatan. Salma tidak pernah protes. Alangkah baiknya hati kakak madu putriku, batin ibu Hanna.

Pintu ruang operasi yang terbuka membuat semua yang ada berdiri. Semua keluarga dipersilahkan masuk. Seorang bayi mungil nampak berada di dalam infant bed disamping Hanna.

“Bayinya sehat, tapi Ibu kondisinya sangat lemah, Ibu Hanna meminta keluarganya masuk. Ada yang mau disampaikan.” Dokter yang menangani Hanna berkata kepada mereka.

Semua melihat Hanna. Mas Rahman mencium Hanna. Laki-laki itu tak memegang erat jemari Hanna. Hanna membuka matanya. Wajahnya nampak pucat.

“Maafkan Hanna, Kak Salma. Hanna mau Kak Salma merawat bayi Hanna. Hanna mau pergi. Maafkan Hanna semuanya.” Hanna berkata dengan terbata kemudian diam.Hanna pingsan. Semua nampak panik dan menangis.

Dokter meminta semua yang ada di ruangan keluar. Semua yang hadir sedih. Salma, bunda dan ibu Hanna menangis. Mas Rahman nampak sangat tepukul.

Pintu ruangan rawat Hanna kembali terbuka. Dokter dan perawat mendekati mereka. melihat wajah dokter dan perawat yang sedih Salma sudah bisa meramalkan yang terjadi.

“Maafkan kami. Hanna tidak bisa tertolong. Kondisi pisiknya sangat lemah. Post partum yang dialami Hanna sangat susah ditangani.Dokter berkata dengan wajah menyesal.

Semua menangis. Mas Rahman terduduk lemas di lantai rumah sakit. Laki-laki itu menangis. Dia nampak sangat terpukul.

*****

Bayi mungil yang berada dalam gendongan Salma nampak tidur dengan tenang. Dan seperti tahu kalau almarhum mamanya menitipkan dia kepada Salma, bayi itu hanya mau diam dalam gendongan Salma. Orang tua Hanna yang meminta agar bayi itu dibawa ke rumahnya tidak bisa berbuat apa-apa karena bayi itu selalu menangis. Akhirnya mereka kembali mengantarkan bayi merah itu ke rumah Salma.

Salma mencium lembut pipi bayi itu. “ Mama akan menjaga dan mendidikmu seperti anak mama sendiri.” Ucap Salma pelan. “Nanti kalau kamu sudah besar, Mama akan bawa kamu ke makam Ibu kamu,” Lanjutnya.

Bunda mendekati Salma. Dia memeluk menantu dan cucunya.

“Mungkin sudah jalan Allah, Salma. Mereka tidak mau melihat kedua menantu Bunda menderita. Salah seorang dipanggilNya.” Bunda berkata lirih.

“Tetapi kenapa tidak Salma saja, Bunda?” Salma berkata pelan.

“Tidak boleh berkata begitu. Itu namanya kamu menentang takdir Allah. Semua sudah kehendaknya.” Bijak suara Bunda.

Kedatangan Mas Rahman menghentikan percakapan kedua perempuan itu. Salma mencium tangan suaminya. Laki-laki itu mengecup pipi bayi mungil di gendongan Salma. Sebuah kecupan di ubun-ubun Salma tidak lupa dihadiahkannya juga. Salma tersenyum malu melihat suaminya melakukan itu di depan mertuanya. Bunda hanya tersenyum.

Kamu perempuan sholeha Salma. Keihklasan kamu dibalas oleh Allah dengan kehadiran bayi mungil darah daging suamimu, batin perempuan itu.

Tamats

Dumai, **(censored)**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post