Enaknya Gulai Jengkol (tagur hari ke -183
#tantangangurusiana
“Ini gulai apa sich, Ma?” Arif putra tertuaku mengaduk-ngaduk gulai jengkol yang tadi saing aku buat. Dari kemari aku sangat kepingin makan gulai jengkol. Biasanya kalau sudah kepingin seperti ini aku tinggal beli di rumah makan langgananku.
Situasi pandemi membuatku lebih suka memakan makanan olahan sendiri. Pagi tadi aku kepasar khusus hanya membeli buah jengkol. Harganya yang mahal membuatku hanya membelinya 30 biji ssja.. Jengkolnya sangat bagus dan besar. Kalau orang Minang biasanya memyebut dengan jengkol “sipulik”
“Ini gulai apa, Ma?” Arif mengulangi lagi pertanyannya.
“Itupun tak tahu. Itu gulai jengkol Bang Arif.” Aida putri bungsuku menjawab.
“Aduh Mama, ngapain buat gulai jengkol. Bau tahu.” Arif protes.
Aku tertawa ngakak. Arif sama dengan papanya. Mereka sangat anti dengan jengkol. Kalau aku sudah membeli gulai ini, mereka paling kesal. Mas Yudha bahkan mengatakan kalau jengkol itu makanan orang hutan.
Aida ? Wah.. Aida turunan aku banget. Putri cantikku paling suka jengkol seperti mamanya. Apalagi kalau kerupuk jengkolnya. Aida paling doyan.
“Bang Arif tu cobain dulu satu keping. Yakin dech pasti nambah.” Aida berkata dengan gaya iklan seperti yang ada di TV.
Arifberlalu meninggalkan kami berdua di ruang makan. Aku dan Aida tertawa-tawa.
*****
Walaupun kami berdua suka makan jengkol tapi bau kamar madi tidak pernah bau. Sewaktu aku KKN di suatu daerah masyarakat setempt pernah mengajarkan kalau memakan jengkol habis kita dari kamar madi tuangakn minyak lampu ke closet. Jadi kamar mandinya tidak ada aroma jengkolnya.
Apakah banya ? tidak.. hanya sedikit. Kira-kira 1 sendok makan. ilmu itu selalu aku pakai sampai sekarang.
Lantas kenapa Arif bilang bau? Yah baunya karena dari mulut kami. Terkadang habis makan agak lambat gosok gigi, Arif dan Mas Yudha sering kesal mencium aroma mulut kami kalau berbicara. Tapi biasanya aku dan Aida hanya tertawa saja menanggapi mereka.
*****
“Mama gulai jengkolnya kok dihabisin?” suara Aida mengagetkan aku yang lagi mengurusin aglonema kesyangannku.
“Mama belum makan Nak.” Jawabku pelan.
“Lho ko nggak ada lagi?” Aida memandangku penuh tanya.
“Kemana perginya?” Aku berkata dan bergegas menuju ruang makan.
Tanganku membuka tudung saji. Mataku melihat piring yang tadi berisi penuh gulai jengkol. Hanya tinggal dua keping yang tersisa. Kemana perginya, batinku heran
“Tu kan mama, Cuma tinggal dua keping.” Wajah Aida nampak sedih.
“Besok mama buat lagi ya Nak.” Aku menghibur putriku.
Aida hanya tersenyum. Tapi aku masih penasaran, kemana perginya gulai jengkol tersebut. Di rumah ini hanya aku dan Aida yang suka jengkola. Apakah ?
Bergegas aku pergi ke ruang kerja Mas Yudha. Mataku menatap piring makan yang terletak masih di meja kerjanya. Tidak nampak bekas gulai jengkol di sana.
Aku naik ke lanta atas. Arif putraku kamarnya dilantai dua rumah kami. Aku masuk ke kamarnya perlahan. Anak itu nampak tertidur pulas. Aku melihat mangkok di bawah meja belajarnya. Mangkok yang masih berisi kuah gulai jengkol.
Waduh, ternyata jengkolnya dimakan Arif. Aku tertawa terbayang kalau Aida mengetahui peristiwa ini, pasti Arif akan diledek mati-matian oleh Aida. Benci dengan jengkol akhirnya menjadi betul-betul cinta. Aku keluar dari kamar putraku dengan tersenyum.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan