Membudayakan Minat Baca Dalam Keluarga (tagur hari ke 163)
#tantangangurusiana
Keluarga merupakan tempat berlangsungnya pendidikan pertama bagi anak. Di dalam keluarga anak belajar berkomunikasi. Secara tidak langsung kemampuan anak berliterasi diawali dari keluarga karena literasi itu tidak hanya membaca. Dilansir dari wikipedia literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa.
Pemerintah melalui Kemendikbud berusaha meningkatkan kemampuan literasi masyarakat dengan mencanangkan program Gerakan Literasi Nasional (GLN). Salah satu program yang berada dalam Gerakan Literasi Nasional adalah Gerakan Literasi Keluarga (GLK). Gerakan Literasi Keluarga adalah sebuah program pemberdayaan keluarga dalam meningkatkan minat baca anak. Program yang diluncurkan tahun 2017 ini diharapkan dapat menjadi pendongkrak minat baca dalam keluarga.
Menumbuhkan minat baca dikalangan keluarga terutama anak-anak bukan suatu yang gampang. Pengaruh gadget atau android menjadi salah satu penyebabnya. Tidak mudah untuk membujuk mereka agar cinta membaca. Tetapi orang tua tidak boleh menyerah. Orang tua harus menanamkan budaya baca kepada anak. Budaya membaca adalah keterampilan seseorang yang diperoleh setelah seseorang dilahirkan, bukan keterampilan bawaan. Oleh karena itu budaya baca dapat dipupuk, dibina dan dikembangkan.
Berbagai upaya bisa dilakukan untuk meningkatkan budaya baca kepada anak. Diantara upaya tersebut adalah :
1. Membacakan cerita sebelum tidur kepada anak . Buat anak-anak yang masih batita dongeng sebelum tidur merupakan salah satu cara yang efektif. Pengalaman penulis dengan tiga orang anak membuktikan hal ini. Jarak anak pertama dan kedua yang dekat membuat penulis tidak bisa penuh mendampingi tumbuh kembang mereka. Ditambah lagi kesibukan mengajar dan menyelesaikan pendidikan di pasca sarjana.
Anak ketiga penulis lahir di saat penulis sudah menyelesaikan pendidikan. Penulis punya banyak waktu untuk perkembangannya. Menjelang tidur penulis membiasakan membacakan cerita untuknya. Di usianya yang belum empat tahun dia sudah bisa membaca. Buku cerita bergambar membuat dia cepat memahami huruf dan membacanya. Sekarang pada usianya yang belum genap tujuh tahun dia sudah bisa merangkai beberapa kalimat jadi sebuah cerita.
2. Menulis atau mengetik di dekat anak-anak. Membiasakan menulis atau mengetik cerita di dekat anak juga dapat menumbuhkan budaya literasi dalam keluarga. Tantangan menulis di guru siana membuat penulis setiap malam selalu menulis. Aktifitas yang penulis lakukan membuat anak ketiga penulis jadi tertarik untuk menulis juga. Di saat laptop tidak penulis gunakan, tangan-tangan mungilnya menari-nari di atas laptop. Rangkaian kalimat yang dibuatnya menjadi sebuah cerita, cerita yang terkadang membuat penulis tersenyum-senyum membacanya.
3. Untuk anak-anak yang sudah agak besar menyediakan buku-buku cerita kesukaan mereka merupakan suatu upaya meningkatkan minat baca. Masing-masing anak mempunyai ketertarikan terhadap bacaan. Anak penulis yang tertua punya ketertarikan suka membaca cerita detektif. Alhamdulillah, dengan adanya buku-buku cerita detektif dia sudah mau membagi waktunya bermain game di android dengan membaca.
4. Menulis buku. Kedatangan buku antologi cerpen penulis yang pertama membawa angin segar untuk meningkatkan minat baca di keluarga penulis. Buku antologi cerpen penulis terbitan Media Guru dengan judul Bias Kabut di Tengah Corona mendapat apresiasi yang sangat baik di tengah anak-anak. “Ratu mau punya buku seperti Mama.” Si bungsu berucap waktu buku itu baru sampai di rumah. Ucapannya membuat penulis semakin bersemangat untuk memotivasinya menulis.
Memiliki keluarga literat adalah idaman setiap orang tua. Suport anak untuk gemar membaca. Siapkan tempat dan suasana nyaman bagi mereka untuk membaca. Dan yang terpenting orang tua harus memberkan contoh di rumah. Jangan menyuruh anak membaca tetapi orang tua malah asik dengan gawainya. Menyuruh anak membaca bukan dengan memaksa mereka, Memaksa mereka untuk membaca tidak akan membuahkan hasil, sebab aspek terpenting dalam membaca adalah kenyamanan anak dalam melakukannya.
Dumai, 10-09-2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan