Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Rejeki di Tengah Malam (Tagur hari ke 157)

#tantangangurusiana

Aku memandangi gerobak nasi gorengku. Sama seperti malam sebelumnya, tidak banyak yang terjual. Bahkan malam ini lebih menyedihkan. Dari sore tadi aku menggelar dagangan, belum ada seporsipun nasi gorengku terjual.

Kondisi pandemi ini membuat orang malas keluar rumah. Di situasi normal aku bisa menjual paling sedikit sepuluh atau lima belas porsi. Tapi selama pandemi susah sekali menjual sebanyak itu.

Perekonomian yang tidak stabil karena banyaknya PHK membuat lebih parah situasi ini.

Aku jadi sedih terbayang wajah istri dan kedua anakku yang melepas kepergianku berjualan sore tadi. Aku melihat istri dan anakku menadahkan tangan memohon kepada Rabb agar jualanku laris. Aktivitas yang selalu mereka lakukan setiap aku mendorong gerobak nasi gorengku.Tapi... Allah nampaknya masih menguji kesabaranku.

“Semoga jualan Ayah nanti laris ya, Ayah.” Celoteh Nurul putriku yang berumur enam tahun masih terngiang di telingaku.

“Rahmad boleh ikut, Ayah?. Rahmad mau menemani Ayah jualan.” Rahmad putra tertuaku memohon.

Aku tersenyum memandang putraku. Anak yang baru berusia dua belas tahun itu sudah dari siang tadi membantu aku dan istriku menyiapkan jualan kami. Aku tidak pernah mengizinkan dia menemaniku jualan. Angin malam tidak baik untuk anak kecil seperti dia. Kadang sekali-kali dia ikut denganku kalau libur sekolah tapi pukul sembilan biasanya istriku sudah menjemput dia agar segera pulang.

“Rahmad dirumah saja, ya. Jaga ibu dan adik.” Aku berkata sambil mengusap kepalanya dengan sayang.

Aku termenung. Kalau malam ini nasi gorengku tidak terjual, aku tidak tahu dari mana harus mengambil uang untuk jualan besok sore. Tadi pagi istriku belanja ke pasar membeli bumbu nasi goreng dan ayam dengan uang tabungan kami yang terakhir. Jualan yang sering bersisa membuat kami sering rugi. Uang tabungan yang kami sisihkan dengan susah payah akhirnya habis untuk modal.

“Ayah harus sabar. Semoga situasi ini cepat berlalu dan pelanggan kita kembali membeli nasi goreng kita.” Istriku selalu memberi semangat setiap aku mengeluh.

Aku bersyukur punya istri yang sholeha seperti dia. Istri yang tidak pernah menuntut macam-macam. Istri yang sangat paham kondisi suaminya. Istri yang selalu mendengar keluhanku dan memberiku semangat.

Sebelum berjualan nasi goreng dua tahun yang lalu aku seorang karyawan di sebuah toko milik warga keturunan. Jam kerja yang padat dan tidak membolehkan karyawannya untuk menjalankan salat lima waktu membuatku terpaksa harus keluar dari pekerjaanku.

Berbekal hobbiku memasak nasi goreng dengan menggunakan tabungan kami, aku membuka usaha ini. Lokasinya di persimpangan jalan yang tak jauh dari rumah kami. Alhamdulillah... usahaku lancar. Pelangganku banyak yang bilang kalau nasi goreng buatanku sangat enak.

Aku bisa mencukupkan kebutuhan keluarga kecilku dan sedikit menabung. Pelangganku cukup banyak, kalau malam minggu biasanya aku bisa menjual sampai lima puluh porsi. Aku bisa menggaji seorang karyawan. Tapi semenjak pendemi pelangganku turun drastis, aku terpaksa memberhentikan karyawanku.

Aku melirik jam di pergelangan tanganku, pukul 23.40 WIB. Aku kembali menatap daganganku yang masih utuh. Aku sedih terbayang nanti bagaimana istri dan anak-anakku tahu kalau nasi gorengku tidak ada yang terjual. Maafkan aku, istri dan anakku. Aku membatin dalam hati.

Aku melirik sekeliling. Jalanan sudah nampak sepi. Hanya ada satu dua motor yang lewat di jalan. Jalan di depanku adalah jalan lintas antar propinsi. Jalan yang biasanya ramai kini lengang. Kondisi pandemi membuat orang jarang bepergian. Beberapa gerobak kuliner yang berjualan sepertiku nampak juga sepi pembeli.

Rizky penjual martabak durian yang tidak jauh dari tempatku sudah mulai berkemas. Pemuda itu baru saja mengeluh kepadaku akan sepinya pembeli. Posisinya sebagai tulang punggung keluarga yang harus memghidupi ibu dan tiga adiknya membuat dia kebingungan dengan situasi ini. Aku berusaha menghiburnya, agar tetap semangat berjualan. Padahal apa yang dirasakan pemuda itu hampir sama demganku. Kami harus saling menguatkan.

Aku menutup Al Quran kecil yang dari tadi menemaniku berjualan. Disela-sela waktuku berjualan kalau tak ada pembeli aku berusaha menambah hapalanku. Dengan membaca Al Quran hatiku sedikit tentram.

Para pedagang yang sudah bersiap mau pulang membuatku juga bersiap untuk mengemas daganganku. Dengan langkah perlahan aku berdiri dari dudukku dan mulai mengemasi daganganku.

Sebuah mobil berwarna putih tiba-tiba parkir di depan gerobakku. Dua orang wanita turun dari mobil dan menghampiriku.

“Nasi gorengnya masih ada, Pak ?” Salah seorang dari wanita itu menegurku.

Aku menghentikan pekerjaanku mengemasi dagangan dan memandang meraka.

“Masih, Bu.” Jawabku ramah.

“Kami mau makan nasi goreng, Pak. Bisa dibuatkan enam porsi ?” Wanita yang satu lagi berkata kepadaku.

Apakah aku salah dengar ? Mereka mau pesan enam porsi nasi goreng. Terima kasih ya Allah. Alhamdulillah, Allah mendengar doaku dari tadi.

“Bisa, Buk. Saya bisa membuatkannya. Silahkan duduk.” Aku menjawab dengan sangat gembira.

Salah seorang dari wanita itu kembali ke mobil dan tak lama kembali dengan beberapa orang temannya. Mereka ada enam orang. Dua laki-laki dan empat perempuan. Dari logat bahasanya aku tahu mereka bukan orang dekat sini.

Dengan cekatan aku membuatkan mereka nasi goreng. Tak menunggu waktu lama enam porsi nasi goreng sudah terhidang untuk mereka.

Suara dering gawai salah seorang mereka terdengar. Aku mendengar ibu yang menerima telepon meminta temannya agar menyusul ke tempatku berjualan. Aku juga mendengar kalau dia mengatakan nasi gorengku enak. Alhamdulilah ya Allah. Tak henti-hentinya aku lafazkan dalam hati.

Dua buah mobil segera menyusul ke tempatku. Dua belas orang turun dari mobil. Semuanya duduk di tendaku. Dua belas porsi lagi nasi goreng pesanan mereka aku siapkan dengan penuh semangat.

“Nasi goreng Bapak sangat enak. Saya sering lewat sini tapi baru sekali ini mampir. Lain kali saya mampir di sini.” Seorang laki-laki yang nampaknya pemimpin rombongan mereka berkomentar setelah mereka selesai makan.

“Terima kasih, Pak.” Aku menjawab dengan senang.

Dari cerita mereka aku tahu, kalau mereka lagi dalam perjalanan jauh. Mereka semua adalah sekelompok guru dari suatu sekolah yang agak jauh dari tempat tinggalku. Mereka baru pulang bertakziah dari rumah salah seorang kolega mereka.

Salah seorang teman mereka meninggal dunia karena sakit. Kondisi pandemi membuat mereka baru sempat bertakziah sekarang. Seharusnya sebelum magrib mereka sudah sampai di rumah mereka. Seringnya pemeriksaan di jalan membuat mereka terlambat sampai di rumah mereka.

Laki-laki yang tadi memuji nasi gorengku mengeluarkan uang dari dompetnya. Dari cerita mereka aku tahu kalau bapak itu adalah kepala sekolah mereka. Lima lembar uang lima puluh ribu keluar dari dompet bapak itu.

“Berapa seporsinya, Pak ?” Bapak itu bertanya kepadaku.

“Dua belas ribu, Pak.” Jawabku pelan.

“Jadi totalnya dua ratus enam belas ribu ya, Pak.” Kata si bapak itu sambil menyerahkan uang yang dipegangnya kepadaku.

Aku menerima uang itu dari Bapak itu. Aku melihat para pedagang semua sudah pulang. Kemana aku mau menukar uang untuk kembaliannya, batinku. Tidak ada sepeserpun uang di kotak uangku. Bagaimana mengembalikan uang mereka, batinku..

“Tidak usah dikembalikan. Kembaliannya untuk Bapak. Semoga berkah.” Bapak itu berkata ramah seakan tahu apa yang aku pikirkan.

Ya Allah... alangkah baiknya mereka. Hatiku bergetar. Mataku mengembun. Rombongan mereka bagaikan malaikat penolong bagiku.

“Terima kasih, Pak. Semoga Allah memudahkan rejeki Bapak dan semua rombongan Bapak. Semoga selamat sampai di tujuan.” Jawabku terharu.

Beberapa dari mereka meng-Aamin-kan doaku. Mereka semua masuk ke mobil dan meninggalkanku yang masih berada dalam keharuan.

Sepeninggal mereka aku bergegas mengemasi daganganku. Badanku yang tadi lemah jadi bersemangat. Terbayang wajah istri dan anakku. Ini doa kalian istri dan anakku, batiku. Alhamdulillah... rejeki tak berpintu. Dia bisa datang kapan saja, asalkan kita selalu berdoa meminta kepadaNya.

Tamat

Dumai, 4-9-2020

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post