Dendam part 1 (T-214)
#tantangangurusiana
.
Kembali aku menatap dua orang yang bersanding di pelaminan itu. Mereka nampak sangat bahagia sekali. Tamu-tamu bergantian menyalami dan mendoakan mereka. Pesta pernikahan berlangsung sangat meriah. Karena yang menikah adalah anak orang terkaya di kampung ini, Juragan Brata. Juragan Brata tidak saja kaya tetapi dia baik hati dan suka menolong.
Ada nyeri dan perih di hatiku melihat sepasang pengantin itu. Harusnya aku yang duduk mendampingi pengantin wanita, tapi nasib berkata lain. Aku harus merelakan Sulis menikah dengan Mas Hendar.
Kedua orang tua Sulis melarang aku berhubungan dengan anaknya setelah mereka tahu bahwa aku hanyalah anak angkat Juragan Brata. Tapi aku tahu itu hanyalah alasan mereka saja. Seluruh penduduk di kampung ini tahu kalau aku memang anak angkat Bapak dan Ibu.
Dari kecil aku di asuh oleh mereka. Aku tidak tahu siapa ayah dan ibuku. Dari bayi suami istri itu sudah merawatku. Juragan Brata dan istrinya sangat menyayangiku. Mereka tidak pernah membedakan antara aku dan anak kandungnya yang lain.
Tabir terkuak, ternyata kedua orang tua Sulis melarang aku berhubungan dengan putri mereka karena Mas Hendar abangku menginginkan Sulis jadi istrinya. Alasan bibit, bobot dan bebet membuat mereka lebih memilih Mas Hendar daripada aku yang hanya anak angkat. Sulis juga tidak nampak berusaha mempertahankan hubungan kami.
Ayah dan ibu pada awalnya tidak menyetujui Mas Hendar melamar Sulis karena mereka tahu aku dekat dengan Sulis. Tapi Mas Hendar memaksa mereka untuk melamarkan Sulis. Mas Hendar mengancam akan meninggalkan ayah dan ibu kalau tidak mau merestui hubungan mereka.
Aku tahu Mas Hendar memang tidak pernah suka denganku. Dia sering mencari permusuhan denganku. Setiap yang aku miliki dia akan berusaha merebutnya. Dari tiga orang anak Juragan Brata, hanya Mas Hendar yang tidak menyukaiku. Mbak Resti dan Mbak Rianti selalu bersikap baik dan sayang kepadaku. Aku tidak tahu apa salahku pada Mas Hendar.
“Mas Bagas kenapa sendirian di sini ?” suara seseorang mengagetkanku. Aku menoleh Lastri putrinya Paklek Dibyo adik Bapak berdiri dibelakangku.
“Mas Bagas tidak berkumpul dengan yang lainnya ?” Gadis itu kembali menegurku.
“Mas Bagas sedih ya ?” Lanjutnya lagi.
“Nggak kok. Mas nggak sedih. Mas hanya mau duduk saja di sini, di dalam panas.” Aku beralasan.
Lastri tahu banyak hubunganku dengan Sulis, karena dia juga temannya Sulis. Bahkan gadis itu dahulu yang mengenalkan aku dengan Sulis.
bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan