Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Memoar Dari Dumai ke Tanah Suci (Part 2) T-203

#tantangangurusiana

Bagian 2

Meninggalkan Orang-Orang Tercinta

Aku kembalikan melanjutkan tugasku sebagai guru honorer di SMAN Kampung Dalam dan di STM Surya Utama. Sesuai dengan janjiku kepada Bapak Ridwan Tambusai kepala sekolah SLTPN 4 Dumai, selesaikan semester ini, dan segera ke Dumai kalau nilai semester siswa sudah diselesaikan.

Mengajar bagiku adalah hal yang menyenangkan. Aku menyayangi siswa-siswaku. Membayangkan akan meninggalkan mereka untuk tugas ke Kota Dumai membuatku merasa sangat sedih. Mereka adalah anak-anak yang lucu dan menyenangkan.

SMAN Kampung Dalam adalah sebuah sekolah menengah yang berada dekat dengan rumahku. Staf pengajarnya sebagian besar adalah orang-orang yang aku kenal.

Kekerabatan sangat terasa di sani. Sebagai guru muda dan tenaga honorer mereka sangat menyayangiku. Tak jarang kalau bulan baru sehabis gajian sebagian dari mereka memberiku uang. Istilah mereka “uang dengar”. Uang dengar karena aku mendengar mereka gajian. Terkadang uang dengar yang aku peroleh lebih dari seratus ribu rupiah. Jumlah yang sangat besar waktu itu, mendekati gajiku sebulan di SMAN Kampung Dalam.

Selain gaji bulanan yang aku terima aku juga menerima uang GTT, jumlahnya cukup besar bagiku. Uang itu aku terima sekali triwulan.

STM Surya Utama adalah sebuah sekolah STM swasta. Aku mengajar disini karena kebetulan kepala sekolahnya, Bapak Kendari adalah keponakan jauh ayahku. Kekurangan guru Fisika Kimia membuat kepala sekolah mencari guru. Kebetulan aku jurusan fisika dan diajak bergabung di sekolah yang belia pimpin.

Siswa yang sekolah di sini adalah kebanyakan siswa-siswa bermasalah. Kebanyakan siswanya adalah anak-anak yang tidak diterima di sekolah negeri dan anak-anak pindahan dari sekolah STM Negeri. Biasanya mereka pindah karena tidak naik kelas atau membuat kasus.

Pertama kali mengajar aku hampir menangis melihat kelakuan mereka. Setiap pergantian guru mereka menghilang ke kedai-kedai yang ada di sekitar sekolah.

Aku memasuki kelas mereka, tapi tidak satupun siswa yang ada di dalam.

Aku menunggu mereka, satu persatu mereka muncul, dan setiap muncum mereka memandangku dengan sorot aneh.

Aku mencoba mendekati mereka, aku bersyukur dilahirkan sebagai anak pertama dengan enam orang adik. Aku berusaha menerapakan penedekatan kepada anak seusia itu. Alhamdulillah... mereka bisa menerimaku.

Pernah mereka mengajaku ke pantai. Aku ikuti keinginan mereka. ternyata tidak susah mengahadapi mereka. Kita masuki dunia mereka. Jadikan mereka kawan atau adik.

Kembali aku bersedih membayangkan akan meninggalkan mereka. Sedihnya hati ini.

Menjadi guru bagiku adalah panggilan jiwa. Bagiku guru adalah profesi yang sangat mulia. Terlahir dari anak seorang guru membuatku sangat menghayati profesi ini.

Kedekatan dengan anak-anak membuat hidupku lebih bermakna. Aku merasa ada kebahagian jika berada di tengah mereka. Siapkah aku meninggalkan mereka? Tapi keptusan sudah aku ambil. Aku harus siap meninggalkan mereka semua.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post