Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Memoar Dari Dumai ke Tanah Suci Part 3 (T-204)

#tantangangurusiana

Bagian 3

Memulai Tugas di Kota Dumai

Saat untuk meninggalakn kota kelahirannku akhirnya datang juga. Sebelum aku berangkat ke Dumai, ibu mengadakan acara syukuran. Syukuran atas kelulusanku dan doa untukku agar aku bisa melaksanakan tugas dengan baik di sekolah tempat aku ditugaskan.

Berbagai petuah aku terima dari keluargaku. Maklum ini adalah kali pertamaku untuk pergi menetap di negeri orang. Apalagi tempat aku mengajar berada di sebuah daerah yang agak jauh dari pusat kota.

Aku berangkat ke Kota Dumai menggunakan bus pada hari Sabtu tanggal 8 Juli 1999. Ibu dan ayah mengantar keberangkatanku sampai ke terminal bus.

Rasanya sangat sedih berpisah dengan keluargaku. Air mata ini tidak berhenti mengalir. Melihat ibu aku sangat sedih, karena selama ini aku sangat dekat dengan beliau.

Sebagai anak pertama dari tujuh bersaudara aku adalah tempat ibu berbagi cerita. Ibu paling sering curhat denganku. Dan sebagai anak tertua aku juga sangat diandalkan ibu untuk membantu beliau di rumah.

Tapi aku sudah bulatkan tekad, aku yakin keenam orang adik-adikku pasti bisa menggantikan posisiku jika jauh dari keluarga.

Aku datang ke terminal agak terlambat, jadi bus yang seharusnya aku tumpangi sesuai dengan tiket yang aku beli sudah berangkat. Beruntung ada dua armada bus yang beragkat ke Dumai sore itu.

Bus yang beragkat ke Dumai dulu sangat ramai, karena Dumai merupakan kota transit bagi perantau yang mau ke Batam, Tanjung Pinang ataupun Malaysia.

Ketidakberadaan travel dan pesawat seperti sekarang juga penyebab bus sangat banyak penumpangnya.

Bus meninggalkan terminal sudah agak sore, sekitar pukul 16.30 WIB. Sepanjang perjalanan aku selalu menangis. Sangat berat meninggalkan kota kelahiranku. Kota dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Aku kembali menguatkan tekad agar jangan ragu-ragu dengan keputusanku.

Bus yang aku tumpangi memasuki Kota Duri sekitar pukul 07.30 WIB. Sebeum memasuki kota Duri aku kaget melihat bus yang sama dengan bus yang aku naiki tabrakan.

Suasana betul-betul menyedihkan. Banyak korban yang tergelatak, sebagian dari mereka ada yang aku kenal. Bus yang tabrakan adalah bus yang seharusnya aku naiki.

Aku merasa Allah sangat menyayangiku, aku terhindar dari kecelakaan. Ternyata oplet yang aku dan orang tuaku naiki terlambat sampai di terminal bus membawa keberuntungan bagiku.

Tak henti-hentinya bibirku mengucapkan syukur. Aku sadar segala sesuatu pasti ada maknanya. Rahasia Allah kita tidak tahu. Jangan sekali-kali menyesali apa yang terjadi kepada kita, mungkin suatu kegagalan yang Allah berikan ada hikmah setelahnya.

Bus yang aku tumpangi melanjutkan perjalanan ke Dumai. Selama di atas bus dadaku masih berdebar. Aku masih terbayang korban-korban yang tadi, apalagi ada beberapa orang yang masih satu kampung denganku. Tak lupa aku panjatkan doa semoga mereka semuanya selamat.

Pukul 10.00 WIB bus yang aku tumpangi memasuki terminal bus Kota Dumai. Aku segera turun, tujuanku adalah rumah Ajo Nasir. Ajo Nasir adalah seorang pemuka masyarakat Pariaman.

Bagian....

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post