Memoar Dari Dumai ke Tanah Suci (Part 1 ) Tagur 202
#tantangangurusiana
Bagian 1
Kelulusanku sebagai CPNS
Berita kelulusanku sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) membuatku sangat gembira. Kegembiraan bukan saja milikku, tapi juga milik keluargaku. Betapa tidak, ditengah susahnya pengangkatan untuk menjadi CPNS waktu itu aku dinyatakan lulus. Test CPNS yang aku ikuti pada bulan September tahun 1998 enam bulan setelah aku wisuda di IKIP Padang diikuti oleh banyak peserta.
Penuh percaya diri itu yang aku tanamkan waktu mengikuti tes. Tes CPNS waktu itu adalah tes pertamaku. Aku diwisuda pada tanggal 7 Maret 1998 dan merupakan lulusan terakhir yang memakai istilah IKIP Padang di Akta IV dan Ijazah. Karena selanjutnya IKIP Padang beralih nama menjadi Universitas Negeri Padang (UNP).
Beberapa kali tidak adanya formasi untuk jurusan fisika membuat tes CPNS tahun 1998 itu diikuti oleh banyak pelamar. Alhamdulillah, usahaku mempersiapkan diri semaksimal mungkin berbuah manis dengan kelulusanku sebagai CPNS.
Di tengah kegembiraanku lulus CPNS ada yang membuatku sedih. Penyebabnya kelulusanku tidak di Provinsi Sumatera Barat, tapi di Provinsi Riau. Itu artinya aku harus bersiap-siap meningalkan daerah kelahiranku. Daerah yang tidak pernah aku tinggalkan selama ini. Meninggalkan keluarga, sahabat dan siswa-siswaku di dua sekolah tempatku mengabdikan diri sebagai guru honorer.
Permintaan terhadap guru mata pelajaran fisika oleh Dinas Pendidikan Dan kebudayaan Provinsi Riau ke pusat membuat mendikbud menempatkan beberapa orang sarjana pendidikan fisika dari Sumatera Barat ke Propinsi Riau. Ada sepuluh orang CPNS yang ditempatkan di Provinsi Riau, aku termasuk salah seorang diantaranya.
Ada keengganan awalnya untuk memenuhi SK CPNS yang aku terima. Tempat yang jauh dan jumlah gaji yang sangat sedikit menjadi alasannya.
Di SK CPNS tertulis aku menerima gaji hanya seratus delapan puluh enam ribu rupiah perbulannya. Jumlah ini sangat jauh dibandingkan dengan gaji yang aku terima di dua sekolah tempatku mengajar. Statusku sebagai guru honorer di SMAN Kampung Dalam dan SMK Surya Utama Pariaman membuatku mendapat pendapatan tiga ratus lima puluh ribu setiap bulannya. Jauh lebih besar dibandingkan dengan gajiku sebagai CPNS.
Semangat dan motivasi dari orang-orang terdekat membuatku mengambil keputusan untuk memenuhi panggilanku sebagai CPNS ke Provinsi Riau.
Dengan dilepas oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumatera Barat pertengahan April kami berangkat menuju Provinsi Riau.
Setelah melapor ke Dinas Pendidikan Provinsi Riau kami diberi surat tugas menuju sekolah tempat kami mengajar sesuai dengan yang tertera di SK pengangkatan kami.
Aku dengan seorang teman di tempatkan di Kabupaten Bengkalis. Sekolah tempatku mengajar bernama SLTPN 2 Bukit Kapur. Menurut informasi dari salah seorang pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau letak sekolah tempatku mengajar berada di jalan lintas Duri-Dumai.
Ketidaktahuanku mengenai dareah ini membuatku menginap di hotel Sinda Pekanbaru. Aku mengira jarak Dumai ke Pekanbaru itu dekat, ternyata perlu waktu hampir enam jam perjalanan dari Pekanbaru ke Dumai. Dengan menggunaan travel Kafilah aku dan temanku berangkat ke Dumai.
Sekitar pukul 13.00 WIB aku sampai di sekolah SLTPN 1 Bukit Kapur. Dari informasi kepala sekolahnya aku mendapat khabar bahwa SLTPN 2 Bukit Kapur tempatku mengajar adalah sekolah baru. Belum ada siswanya. Tetapi bangunan sekolah sudah lengkap. Aku disarankan untuk melapor ke kantor perwakilan dinas pendidikan Kabupaten Bengkalis yang ada di Dumai.
Aku melapor ke kantor UPT Dinas pendidikan Kabupaten Bengkalis oleh pegawai yang ada di sana aku diminta melaporkan diri ke Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkalis di Bengkalis. Jarak anatara Dumai dan Bengkalis sangat jauh harus menggunakan jalan laut. Dan untuk ke sana aku harus menggunakan kapal ferry.
Keadaan ini membuatku kembali ke Pekanbaru. Sesampai di Pekanbaru, aku memutuskan pulang dulu ke Sumatera Barat. Sekitar bulan Mei aku kembali berangkat ke Propinsi Riau. Kali ini aku berangkat langsung dari Pariaman menuju ke Dumai menggunakan bus antar provinsi.
Tujuaanku adalah rumah salah seorang teman satu kosan di Padang. Perlu waktu sekitar 14 jam perjalanan dari Pariaman ke Dumai menggunakan bus.
Aku sampai di rumah temanku. Rezi temanku adalah mahasiswa teknik sipil Universitas Bung Hatta. Kami satu angkatan. Kebetulan jadwal libur semester sehingga Rezi berada di Dumai.
Dengan bantuan Rezi aku membeli tiket kapal ke Bengkalis. Rezi juga mengantarku ke pelabuhan esok harinya. Aku naik kapal fery Batam Jet. Ini adalah pengalaman pertamaku naik kapal ferry.
Sesampai di Bengkalis aku menanyakan kepada petugas pelabuhan kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkalis.
Aku diarahkan oleh petugas pelabuhan naik becak. Dengan becak aku menuju kantor tersebut.
Sesampai di kantor aku menjumpai bagian kepegawaian, disana aku diminta melapor ke SLTPN 4 Dumai, karena SLTPN 2 Bukit Kapur adalah sekolah filialnya SLTPN 4 Dumai. Aku diberi surat pengantar. Setelah urusan di kantor dinas pendidikan dan kebudayaan Bengkalis selesai, aku meninggalkan kantor tersebut.
Hari sudah mulai siang waktu itu. Tiket kapal ferry untuk kembali ke Dumai sudah aku beli. Jadwal keberangkatannyanya pukul 14.00 WIB. Perutku yang kelaparan membuat langkah kakiku memasuki sebuah kedai makanan. Karena aku pendatang aku tidak mengetahui kalau kedai yang aku masuki adalah kedai tempat orang laki-laki biasa mangkal, tidak ada pengunjung perempuan di situ. Pandangan aneh mereka melihatku ketika masuk duduk di kedai itu. Aku bersikap cuek saja.
Selesai aku menyantap makan siang aku segera meninggalkan kedai itu menuju pelabuhan. Karena jadwal keberangkatan di ticket yang aku beli sudah semakin dekat. Sesampainya di pelabuhan Dumai aku sudah ditunggu oleh Rezi. Aku kembali ke rumah Rezi.
Keesokan harinya aku diantar Rezi melapor ke SLTPN 4 Dumai. Bapak kepala sekolah SLTPN 4 Dumai, Bapak Ridwan Tambusai menerimaku. Aku disambut baik oleh beliau. Dan setelah aku menceritakan kalau aku masib berstatus sebagai guru honorer di Pariaman, bapak kepala sekolah memberiku kesempatan untuk menyelesaikan tugasku semeter ini di sekolah lama. Aku disusruh datang di tahun ajaran baru saja.
Aku menanyakan kepada beliau dimana letak SLTPN 2 Bukit Kapur. Bersama dengan Rezi kami naik motor menuju daerah Lubuk Gaung tempat sekolah itu berada.
Letak sekolah yang sangat jauh membuat kami mengurungkan niat ke sekolah tersebut. Jalannya yang masih tanah dan debu yang sangat banyak membuat kami jadi cemas, apalagi Rezi temanku baru sekali ini ke daerah itu.
Kami mampir di rumah salah seorang penduduk yang aku kenal sehari sebelumnya sewaktu ke Bengkalis di atas kapal ferry. Seorang perempuan sebaya kami, keluarga mereka yang ramah menjamu kami makan siang. Dari keluarga mereka kami tahu banyak mengenai sekolah tersebut. Hari yang sudah siang membuat kami mengurungkan niat untuk mengunjungi sekolah tersebut. Kami kembali ke rumah Rezi.
Keesokan sorenya aku kembali ke Pariaman. Dua bulan lagi aku akan kembali ke kota ini, untuk selanjutnya mengabdi di SLTPN 2 Bukit Kapur.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan