Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Memoar Dari Dumai ke Tanah Suci Part 6 (tagurs 209)

#tantangangrusiana

 

 

Bagian 6

 

Bahagia di Tengah Mereka

 

Mengajar anak-anak berseragam putih biru berbeda dengan  seragam putih abu-abu. Perlu kesabaran menghadapi mereka. Sifat mereka masih ke kanak-kanakan. Menghadapi mereka tidak bisa terlalu tegas. Apalagi siswa yang kelas 1. 

 Mengajar anak-anak SLTP seperti menarik tali layang-layang.  Jangan  di sentak, karena layang-layangnya bisa putus. Tapi jangan pula terlalu diulur talinya. Karena apabila talinya kendor, layang-layang susah naiknya. Harus pandai-pandai. Lembut tapi tegas. Ketegasan diperlukan untuk membentuk sikap disiplin mereka.

 

 

 

Aku banyak belajar dari  rekan-rekan guru yang lain. Persaudaraan antara sesama rekan guru sangat kuat.  Perasaan sama-sama “perantau” membuat kami jadi dekat. Kami saling membantu dan memberi dukungan.

 

Kepala sekolah kami, Bapak Drs Adroni adalah seorang pemimpin yang sangat baik. Beliau adalah kepala sekolah termuda untuk SLTP yang ada di Kota Dumai waktu itu.

 

Muda bukan berarti minim pengalaman. Beliau memiliki pengalaman yang sangat banyak. Arahan dan bimbingan kepada kami para bawahannya sangat bermnfaat bagi kami.

 

Beliau menganggap kami adalah adik beliau sendiri. Tipe kepemimipinan yang demokratis menjadi ciri khas beliau. Satu nasehat beliau yang aku ingat, “ jangan mengurus yang bukan urusan kita. Kerjakan tugas kita dengan penuh tanggung jawab.”

 

Siswa-siswapun sangat ramah. Kami tidak pernah merasa sepi di sekolah . Anak-anak suka main ke tempat kami  setelah pulang sekolah. Di sore hari kegiatan kami isi dengan berkebun di halaman belakang sekolah yang luas.

 

Tanah di belakang sekolah dikapling. Setiap kelas mendapat satu kapling. Perlombaan antar kelas diadakan, termasuk lingkungan sekitar kelas. Wali kelas dan siswa bersemangat berkebun dan menata taman di depan kelas. Aku sangat senang, apalgi melihat siswa binaanku bekerja dengan semangat.

 

Ternyata mengajar anak-anak setingkat SLTP punya keasyikan tersendiri. Tingkah polah mereka yang lucu dan kekanakan merupakan obat rindu bagiku terhadapa keluarga dan kampung halaman.

 

Penduduk di lingkungan sekitar sekolah juga sangat ramah. Hampir 80 persen mereka Suku Jawa. Sifat gotong royong dan suasana kekerabatan sangat terasa di sini.

 

Aku bukan orang yang gila kehormatan, tapi aku merasa haru karena masyarakat menegurku dengan sapaan  “ibu guru”. Suatu hal yang jarang aku jumpai di kampungku. Mengajar di sekolah yang tak jauh dari rumah, membuat siswaku kebanyakan anak-anak di sekitar rumah.  Orang tua dan anak-anak  sudah aku kenal. Bahkan banyak diantara mereka yang keluargaku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post