Menikahlah Denganku, Yasmin (Part 2 tamat) T-213
#tantangangurusiana
.
Sebagai seorang muslim Yasmin paham dan mengerti tentang Rukun Iman. Iman menurut bahasa artinya membenarkan, dan Iman menurut syariat Islam bermaksud mengakui dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan mengamalkannya dengan perbuatan. Sangat tidak boleh seorang muslim menyesali qada dan qadar yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT kepada umatnya.
Yasmin berdiri dari duduknya. Dia melangkahkan kaki menuju ke cermin yang berada di sudut kamarnya. Netranya menatap bayangan wajahnya di cermin. Hidung mancung, alis tebal dan hitam, kulit wajah yang putih mulus tanpa noda. Banyak yang mengatakan kalau dia memiliki wajah yang cantik. Ya Allah kalau memang Engkau sudah menyiapkan jodoh untukku pertemukanlah aku dengannya, Yasmin melafazkan doa dalam hatinya.
*****
Rutinitas pekerjaan siang itu betul-betul membuat Yasmin lelah. Pekerjaannya sebagai seorang manager pemasaran di sebuah perusahaan property menuntut Yasmin untuk bekerja keras. Posisi Yasmin sangat menentukan masa depan dan target yang harus dipenuhi oleh perusahaan. Kesibukan inilah yang merupakan salah satu faktor membuat Yasmin lambat untuk menikah.
Yasmin terlalu asyik dengan pekerjaanya sehingga abai akan masa depannya. Dulu banyak laki-laki yang berusaha mendekatinya. Tapi Yasmin menanggapinya dengan dingin sehingga satu persatu laki-laki itu mundur.
Nada dering dari gawai yang berada di depannya mengagetkan Yasmin. Tangannya menjangkau benda pipih tersebut. Dari Mbak Della, kakak tersayangnya.
“Yasmin, nanti malam datang ya ke rumah Mbak, Mbak ada acara syukuran ulang tahunnya Mas Yoga. Jangan sampai tak datang lho.” Suara Mbak Della terdengar dari seberang.
Yasmin baru saja akan menjawab, tapi Mbak Della sudah memutuskan sambungan. Yasmin tahu, Mbak Della pasti sengaja. Karena Mbak Della pasti tidak ingin mendengar penolakan darinya.
Mbak Della adalah satu-satunya saudara yang dimiliki Yasmin. Mbak Della yang selama ini membiayai kuliah Yasmin. Mbak Della tidak saja kakak bagi Yasmin, tapi juga ayah sekaligus ibu. Mereka berdua ditinggalkan selamanya oleh ibunda tercinta sewaktu Yasmin tamat SMP. Mbak Della yang waktu itu sudah lulus SMA memilih bekerja jadi pelayan kafe.
Dengan gajinya sebagai pelayan kafe, Mbak Della menghidupi mereka berdua dan membiayai sekolah Yasmin. Ayah ? Dari kecil Yasmin tidak mengenal laki-laki itu. Walau almarhum bunda tak pernah cerita, Yasmin tahu dari keluaraga bunda, kalau ayah pergi meninggalkan mereka untuk bekerja. Tapi harta membuat laki-laki itu melupakan istri dan kedua anak perempuannya.
Laki-laki itulah yang membuat Yasmin seperti ini. Yasmin sedih melihat bunda dan Mbak Della harus membanting tulang melawan kerasnya kehidupan. Yasmin benci laki-laki itu. Laki-laki yang menyebabkan hidup mereka susah. Rasa benci membuat Yasmin selama ini menutup hatinya untuk laki-laki. Bertambahnya usia membuat kebekuan di hati Yasmin mulai mencair.
*****
Yasmin memarkir mobilnya di depan rumah kakaknya. Suasana tidak terlalu ramai. Mungkin hanya beberapa orang saja yang diundang Mbak Della, batin Yasmin.
“Tante Yasmin sudah datang?” Sisil ponakanya yang paling besar menyambut Yasmin.
“Ayok masuk tante, acaranya sudah hampir mulai. Tinggal nungguin tante lho.” Sisil menarik tangan tantenya menuju ruang tengah.
Dugaan Yasmin benar, Mbak Della tidak banyak mengundang orang. Hanya adik-adik Mas Yoga dan dirinya yang diundang. Syukuran ulang tahun Mas Yoga berlangsung meriah. Yasmin melihat Mbak Della kakaknya sangat beruntung. Punya suami dan anak-anak yang cantik-cantik. Aku juga ingin seperti Mbak Della punya suami dan anak-anak yang lucu, batin Yasmin.
*****
“Selamat malam Mbak Yasmin. Pesan nasi goreng lagi ?” Mas Pri pemilik restoran langganan Yasmin menegurnya ramah.
Yasmin memandang sekitar. Restoran yang biasanya ramai tampak sepi. Tidak banyak pengunjung malam itu. Yasmin duduk sambil menunggu pesanan nasi gorengnya.
“Tante saya boleh duduk di sini ?” suara seorang anak laki-laki mengagetkan Yasmin.
Yasmin menoleh. Anak laki-laki seumuran anak Mbak Della yang paling kecil memandangnya ramah. Yasmin menganggukan kepala. Kenapa anak ini sendirian ? Mana orang tuanya ? batin Yasmin.
“Aduh Dito dari tadi papa cari, nggak tahunya di sini.” Seorang laki-laki menegur anak tersebut.
Yasmin memandang laki-laki tersebut. Mereka berdua kaget.
“Yasmin ? Kamu Yasmin bukan?” Laki-laki itu menegur Yasmin.
Yasmin memandang laki-laki itu. Dia tidak menyangka akan berjumpa dengan laki-laki itu di sini.
Pria di depannya ini adalah Anton. Sahabatnya sewaktu masih kuliah. Sahabat yang banyak membantu Yasmin. Tapi persahabatannya mereka tidak bisa bertahan, karena Tere tunangan Anton tidak menyukai kedekatan mereka. Tere cemburu pada Yasmin. Keluarga Anton yang banyak hutang budi dengan orang tua Tere terpaksa menerima saran agar Anton pindah kampus, sejak itu Yasmin tidak pernah tahu kabar Anton lagi.
“Ternyata kamu masih ingat aku, Anton. Mana Tere, Anton ?” Yasmin bertanya dengan heran karena tidak melihat wanita itu di samping Anton.
“Kami sudah berpisah Yasmin. Aku tidak tahan dengan sikap egoisnya.” Anton menjawab pelan.
“Kami berpisah tiga tahun yang lalu. Putri pertama kami ikut dengannya. Dan Dito ikut denganku.” Laki-laki itu menjawab sedih.
“Maaf, aku ikut sedih mendengar perceraian kalian.” Yasmin merasa tidak enak.
"Jodoh kami cuma sampai di situ Yasmin. Kami boleh gabung makan malam denganmu, Yasmin?” Anton bertanya penuh harap.
Yasmin mengangguk. Dito anak yang lucu dan mengemaskan. Yasmin tertawa-tawa mendengar cilotehnya. Tingkah bocah tujuh tahun itu selalu memancing tawa. Yasmin merasa sangat senang malam itu. Mereka seperti sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia.
*****
“Yasmin, aku dan Dito di depan rumahmu. Dito mau bertemu denganmu.” Pesan WA yang dikirim Anton masuk ke gawai Yasmin.
Bergegas Yasmin membukakan pintu. Yasmin kaget, Anton nampak menggendong putranya.
“Dito demam, Yasmin. Aku membawanya ke rumah sakit, karena panasnya sangat tinggi. Dia diopname. Dia selalu merengek-rengek minta jumpa denganmu.” Anton berkata pelan. “Maafkan aku karena membawanya kemari. Karena Dito tak sabar menunggumu menjumpainya di rumah sakit. Aku sudah minta izin dokter yang merawatnya untuk membawanya ke sini menjumpaimu” Lanjut laki-laki itu.
Yasmin kaget. Tangannya meraba kening anak itu, terasa panas. Ada sesal di hatinya tidak memenuhi permintaan Anton untuk datang ke rumah sakit melihat putranya. Yasmin berpikir itu hanya akal-akalan laki-laki itu. Yasmin sudah tahu bahwa Anton menyukainya. Yasmin berusaha menghindar. Bagaimanapun juga Yasmin tidak siap menjadi istri Anton. Pasti nanti dia akan berjumpa dengan Tere. Yasmin malas berurusan dengan perempuan sombong itu. Yasmin berpikiran lebih baik menghindari Anton dan putranya.
“Dito menyukaimu. Aku tidak pernah melihat dia menyukai perempuan sepertimu.” Anton berkata pelan.
Yasmin membuka pintu lebih lebar, Anton masuk dan membaringkan putranya di kursi tamu. Anak itu tiba-tiba terbangun. Matanya langsung menatap Yasmin dan memeluk perempuan itu.
“Dito kangen sama tante. Tante kenapa tak mau menjumpai Dito lagi? ” Anak kecil itu memeluk Yasmin. Yasmin merasakan rasa sayang yang luar biasa kepada anak itu. Jujur dia pun kangen sama Dito.
“Maafkan tante sayang, belum sempat melihatmu ke rumah sakit.” Yasmin membelai kepala bocah itu. Ada penyesalan di wajahnya. Yasmin menggendong anak itu.
Dito tertidur di pangkuan Yasmin. Wajahnya nampak tenang. Panasnya dirasakan Yasmin sudah mulai berkurang.
“Yasmin, menikahlah denganku. Aku dan Dito butuh dirimu.” Anton berkata tiba-tiba setelah Yasmin membaringkan Dito di ranjang kamar tamu. Yasmin melihat harapan yang besar di mata laki-laki itu. Harapan agar Yasmin bersedia menjadi istrinya. Yasmin terdiam, apakah ini jawaban dari doa-doaku. Apakah Anton adalah laki-laki yang Engkau kirim untukku ?
“Kamu tidak harus jawab sekarang, Yasmin. Aku akan sabar menunggu jawabannmu.” Laki-laki itu berkata sambil menggenggam tangan perempuan itu. Yasmin merasakan ada getaran yang mengalir dari tangan laki-laki itu ke dadanya. Getaran yang selama ini tak pernah dirasakannya. Getaran yang sangat indah.
"Bagaimana dengan Tere, Anton ? " ragu Yasmin bertanya.
"Kamu tidak perlu khawatir, Yasmin. Tere hanya mantan istriku. Tere sudah punya kehidupan juga. Dia sudah menikah." Anton meyakinkan Yasmin.
Yasmin tersenyum. Anton membalas senyuman itu. Senyuman yang dari dulu sangat disukai dan dikaguminya. Balas budi kepada keluarga Tere membuat dia harus melupakan gadis ini. Tapi sekarang Allah mempertemukan mereka lagi. Terima kasih Tuhan, batin Anton.
Tamat
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan