Tetangga Baru (Part 2) T ke 190
#tantangangurusiana
#tantangangurusiana
Suara seorang laki-laki siang itu di ruangan inap Jihan membuatku mengurungkan niat memasuki ruangannya. Suara mereka yang berbicara sedikit keras membuatku bisa mendengar pembicaraan mereka.
Lelaki terdengar memarahi Jihan. Dia menyesali kenapa Jihan keluar dari rumah tanpa seizin dia. Seorang istri yang baik tidak akan melakukan itu. Laki-laki itu menyesali perbuatan Jihan. Jihan terdengar menangis terisak. Tapi laki-laki itu masih memarahi Jihan juga. Aku tidak tahan mendengarnya. Tanpa mengetuk pintu aku masuk ke ruangan tersebut.
Laki-laki itu terkejut melihat kedatanganku. Aku menangkap ada ketidaksenangan di wajahnya. Aku tidak peduli. Aku mengambil posisi duduk di sebelah kanan Jihan.
“Anda siapa?” Suaranya terdengar sinis bertanya kepadaku.
“Ini Mbak Rastri tetanggaku. Beliau dan suaminya yang mengantarku ke sini setelah istrimu menyiksaku.” Jihan menjawab pertanyaan laki-laki itu.
“Kalau tidak ada kepentingan lagi, Mas silakan tinggalkan aku. Aku mau istirahat.” Lanjut Jihan lagi.
Laki-laki itu hanya diam. Dia mengeluarkan sebuah amplop dari saku jaketnya.
“Mana tahu kamu memerlukannya.” Laki-laki itu berkata sambil meletakan amplop di samping Jihan.
“Bawa saja. Aku tidak sudi menerima uangmu, Mas.” Jihan berkata ketus.
Laki-laki tu tidak menanggapi penolakan Jihan. Dia berlalu meninggalkan Jihan setelah melihat sekilas kepadaku.
Sepeninggal laki-laki itu kami diam. Aku tidak mau menanyakan tentag kejadian barusan. Sebenarnya kau ingin tahu masalah apa yang dihadapai oleh Jihan. Tapi hati kecilku menahannya. Aku menunggu biar Jihan saja yang menceritakan.
Air mata Jihan mengalir. Aku melihat dia sangat terpukul. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menghiburnya.
“Kalau kamu butuh orang untuk bercerita, Mbak mau mendengar ceritamu. Mungkin dengan bercerita kamu bisa mnegurangkan beban yang kamu pikul.” Aku berkata dengan hati-hati.
“Makasi Mbak, Mbak baik sekali kepadaku.” Jihan berkata pelan.
“Mbak sudah anggap kamu seperti adik, Mbak. Kita tetangga, tetangga adalah saudara terdekat kita.” Aku menjawab pelan.
“Mbak, sudah dari semalam Mbak di sini. Kasihan suami dan anak-anak Mbak. Aku sudah baikan. Mbak boleh pulang. Aku tidak enak sama keluarga, Mbak.” Jihan berkata sambil memegang tanganku.
“Tidak apa, Mbak Jihan. Mas Setyo dan anak-anak tida keberatan. Anak-anak sudah besar, malah Mas Setyo yang menyuruhku menemani Mbak.” Aku menjawab sambil tersenyum.
“Keluarga Mbak baik sekali.” Jihan nampak sangat terharu.
Aku membuka bungkusan yang tadi aku bawa dari luar. Bubur ayam yang aku beli di rumah sakit aku suapkan ke Jihan. Jihan nampak sangat lapar. Bubur yang aku belikan untuknya langsung habis.
“Laki-laki tadi itu Mas Dewa, Mbak. Aku mengenalnya karena dia sering berkunjung di kafe tempatku bekerja.” Pelan cerita meluncur dari mulut Jihan.
bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan