Tetangga Baru (T-189)
#tantanganguru siana Rumah yang ada di sebelah rumahku sudah lama kosong. Banyak yang berminat tinggal disitu. Tapi sewanya yang mahal membuat setiap yang mau mengontrak jadi mundur.
Tetapi siang ini ada kesibukan di rumah itu. Beberapa perabotan diturunkan dari sebuah mobil pick up. Aku mengintip dari jendela rumahku seorang perempuan sebaya adiku yang bungsu nampak mengatur barang-barang yang diturunkan dari mobil.
Wajahnya sangat cantik. Kulitnya putih, hidungnya mancung. Melihat wajahnya mengingatkanku pada artis Wulan Guritno.
*****
“Bu Rastri, sudah punya tetangga baru ya ?” Bu Dino biang gosip di kompleks ini menegurku waktu aku mampir di warung Bik Jum.
“Udah kenal, Bu ? Cantik ya Bu. Hati-hati lho Bu Rastri, khabarnya dia janda lo. Dia suka ganggu rumah tangga orang.” Bu Dini nyerocos terus tanpa berhenti.
Aku hanya tersenyum tidak menanggapi ocehan si biang gosip. Entah darimana dia dapat cerita seperti itu. Setelah membayar belanjaan aku buru-buru meninggalkan kedai Bik Jum.
*****
Suara ketukan di sore itu menghentikan aktivitasku yang sedang menonton televisi. Bergegas aku membukakan pintu. Tetangga baru itu tersenyum ramah padaku. Aku mempersilahkan dia masuk.
“Nama saya Jihan, Bu. Saya mengontrak di rumah sebelah.” Suaranya ramah memperkenalkan diri.
Dia mengulurkan tangannya. Aku menyambut hangat. Bagiku dia datang memperkenalkan diri artinya dia sudah punya itikad baik.
Dari ceritanya aku mengetahui kalau dia tinggal sendiri di rumah itu. Bagiku Jihan sosok yang baik. Cara dia bertutur kata terlihat sangat berpendidikan. Entah mengapa aku merasa cepat akrab dengan dia. Feelingku mengatakan kalau dia perempuan baik-baik, tidak seperti yang dituduhkan Bu Dion.
*****
Suara ribut-ribut di rumah sebelah membuat aku dan suamiku terpancing untuk melihat keluar. Sebuah mobil mewah nampak berhenti di rumah Jihan, suara teriakan minta tolong dari Jihan membuat beberapa tetangga keluar dan menatap ke rumah itu. Tapi tak satupun yang nampak berani mendekati.
Aku menarik tangan suamiku. Teriakan Jihan membuatku terhipnotis menuju ke sana. Beberapa tetangga mengikut ketika melihatku ke sana.
Pemandangan di depan kami membuat kami kaget. Jihan nampak dipukul oleh dua orang wanita. Perempuan itu tidak bisa membalas karena seorang laki-laki memegangi tangannya. Kondisi Jihan sungguh memprihatinkan. Kedua perempuan itu nampak beringas memukuli Jihan. Salah seorang memukulinya menggunakan sepatu.
“Hentikan. Kami akan memanggil polisi kalau kalian tidak menghentikannya.” Mas Dayat suamiku berteriak.
Ketiga orang yang berada di ruangan tamu rumah Jihan menatap kami.
“Jangan ikut campur!” salah seorang dari mereka membentak kami.
Laki-laki yang memegang Jihan melapaskan Jihan. Ketiga orang itu bergegas menaiki mobilnya dan meninggalkan rumah Jihan.
Aku dan suamiku mengambil mobil dan mengantarkan Jihan ke klinik yang tidak jauh dari rumah kami.
Luka yang di derita membuat Jihan harus diopname. Malam itu aku izin pada suamiku untuk menemaninya di rumah sakit. Entah mengapa aku kasihan padanya.
Aku menyarankan agar Jihan melaporkan peristiwa ini ke kantor polisi. Tapi perempuan itu menggeleng.
bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan