Dendam (Part 2) T-218
#tantangangurusiana
.
Semenjak Mas Hendar dan Sulis tinggal di rumah Juragan Brata aku jarang berada di rumah. Melihat dua orang itu membuatku jadi tidak nyaman. Aku lebih sering menginap di kebun. Sebuah rumah yang ada di tengah kebun menjadi tempat tinggakku sekarang. Sepasang suami istri penunggu rumah itu, Pak Seman dan istrinya adalah orang keoercayaan Juragan Brata.
Mereka berdua sangat menyayangiku. Apalagi Bu Asih, istri Pak Seman dulu pernah merawatku waktu aku kecil. Dulu aku juga tinggal di rumah ini. Setelah memasuki usia sekolah barulah Juragan Brata mengajak aku tinggal dengan keluarganya.
Suami istri itu tahu bagaimana hubunganku dengan Sulis. Karena aku pernah membawa perempuan itu ke sini. Mereka berdua juga kaget karena akhirnya Sulis menikahnya dengan Mas Hendar bukan denganku.
Tinggal di rumah kebun ini memang tidak terlalu menyenangkan. Beda dengan di rumah Juragan Brata. Di sini tidak ada televisi. Satu-satunya untuk hiburan malam hanyalah sebuah radio butut milik Pak Seman. Radio yang setipa malam selalu mengeluarkan tembang Sunda kesukaan Pak Seman dan istrinya.
Malam itu aku capek sekali, biasanya malam sebelum tidur aku duduk bercerita dengan Pak Seman dan istri sambil menikmati sepiring singkong rebus. Kami duduk di balai-balai yang berada di depan rumah sambil memandang bintang yang bergemerlapan di langit.
Cerita kami bermacam-macam. Mulia dari masalah kebun, pegawai sampai masalah politik. Pak Seman walaupun tidak berpendidikan tinggi wawasannya cukup bagus. Kalau sudah membalas masalah politik Bu Asih biasanyan sudah duluan masuk ke dalam rumah. Pembicaraan yang membosankan, ucap dia ketika itu.
Banyak masalah di perkebunan membuat badanku lelah, selesai makan malam aku memilih masuk ke kamarku. Ragaku yang penat aku rebahkan di balai-balai bambu yang hanya beralas kasur tipis. Capek yang melanda membuat mataku tidak bisa kompromi.
*****
Suara jangkring yang bersahut-sahutan membangunkanku di tengah malam. Netraku menatap jam yang ada di dinding, pukul 23.30 WIB. Aku teringat tidur tadi sebelum shalat Isya. Bergegas aku keluar kamar. Lampu di ruang tengah yang sudah padam menandakan Pak Seman dan istrinya sudah tidur.
Aku melangkahkan kaki dengan perlahan, takut membangunkan kedua suami istri itu. Kasihan, mereka sudah capek seharian bekerja. Aku tidak mau langkahku membuat mereka terbangun.
“Nak Bagas cepat tidurnya ya Buk’e.” Suara Pak Seman terdengar pelan waktu aku lewat di depan kamar mereka.
“Ya, Buk’e sering merasa berdosa melihat Nak Bagas, Pak’e .” Suara Ibu Asih terdengar menjawba.
Langkahku terhenti mendengarnya. Selama ini aku tidak pernah tertarik menguping embicaraan orang tapi sekali ini jiwa kekepoanku berontak. Aku ingin tahu apa maksudpembeicaraan kedua orang kepercayaan Juragan Brata.
Aku menempelkan telingaku ke dinding kamar mereka. dinding kamar semi permanen yang terbuat dari papan bagian atasnya memungkinkan orang untuk menguping pembicaraan.
“Jangan seperti itu, Buk’e. Jangan sampai Nak Bagas tahu rahasia ini. Bisa kacau nanti.” Suara Pak Seman terdengar menasehati istrinya.
Aku tidak mendengar suara lagi dari dalam, pembicaraan mereka menimbulkan tanda tanya besar dalam benakku.
Kenapa Bu Asih merasa bersalah kepadaku ?, apa yang telah mereka perbuat kepadaku ? 1001 pertanyaan menuntut jawaban di kepalaku. Aku harus mencari tahu jawabnnya, tekadku.
bersambung, 04/11/2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan