Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Dendam part 3 (T-219)

#tantangangurusiana

 

Pagi itu aku terbangun dengan badan yang sedikit lemas. Kurang tidur semalamam memikirkan jawaban dari percakapan Pak Seman dan istrinya membuat tidurku terganggu. Aku merasa ada yang mereka sembunyikan tentang diriku. Dari semalam aku memikirkan cara bagaimana mengoreksi informasi dari dua orang kepercayaan ayah angkatku.

Dengan langkah lunglai aku menuju meja makan. Sarapan pagi yang disedikan istri Pak Seman pagi ini tidak membuatku berselera.

“Nak Bagas sakit ya?” perempuan itu menatapku heran. Tidak biasanya aku sarapan pagi itu dalam diam. Aku hanya mengaanggukan kepala.

“Semalam saya kurang tidur, Bu.” Aku menjawab pelan.

“Kalau Nak Bagas kurang sehat istrirahat saja dulu di rumah.”  Ibu Asih melarangku untuk ke perkebunan pagi ini.

“Nggak apa-apa kok Bu. Ntar juga baikan.” Aku menjawab pasti.

 Selesai menyantap sarapan yang disediakan Bu Asih aku  beranjak dari meja makan. aku melihat Pak Seman sudah tidak ada di rumah. Mungkin dia sudah sampai di kebun. Pak Seman memang pegawai Juragan Brata yang sangat rajin dan disiplin.

Dengan mengendarai sepeda motor milikku aku menuju perkebunan Juragan Brata, ayah angkatku.  Desa tempatku tinggal adalah desa yang sangat indah dan sejuk. Lokasi desa yang berda di bawah pegunungan membuat desa ini berhawa sejuk.

Perkebunan teh milik Juragan Brata membelah di kiri kanan jalan. Perkebunan teh yang luas tersebut menjadi tumpuan sebagian penduduk untuk mencari nafkah.

Para pekerja di kebun  teh mengangguk kepala kepadaku sewaktu aku berhenti dan memarkirkan motorku dibawah pohon dipinggir jalan.

Aku tersenyum kepada mereka semua. Bagiku mereka merupakan orang yang berjasa membesarkan perkebunan ini. Tanpa mereka semua perkebunan ini tidak akan berkembang.

“Den Bagas sangat baik, ganteng lagi. Sifatnya seperti Juragan Brata.” Aku mendengar seorang ibu-ibu berbicara dengan rekannya.

Aku pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka dan meneruskan memeriksa bagian kebun yang lain.

Pandanganku tertuju ke seorang pekerja yang sedang mencangkul rumput diantara kebun teh. Aku rasanya tidak pernah melihat pekerja ini sebelumnya. Usianya yang nampak lebih tua darinyang lain membuat aku kasihan. Orang setua ini masih harus mencari  nafkah. Kasihan, batinku. Kemana anak-anak mereka? Kenapa membiarkan orang tua mereka yang sudah tua masih mencari nfakah?

Aku mendekati pak tua tersebut. Aku memperhatikan wajahnya. Terasa ada yang berdesir di wajahku melihat wajahnya yang sudah keriput. Rasanya aku pernah mengenalnya tetapi dimana?

Pak tua itu menghentikan aktifitasnya sewaktu aku berdiri di depannya.  Sekilas aku melihat kekagetan di wajahnya ketika menatapku.

 

besambung

 

 

 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post