Jodoh Pilihan Ayah ( Last Part) T - 229
#tantangangurusiana
Ayah mempersilahkan laki-laki itu masuk dan duduk di ruangan tamu. Aku ke belakang mengambilkan minuman dan meletakan buat ayah dan tamunya.
Malas rasanya duduk bergabung dengan ayah dan tamunya. Aku berniat mau ke kamar, tapi ayah memintaku duduk dan bergabung dengan mereka. Aku duduk di kursi yang ada di depan tamu ayah.
Aku memandangi laki- laki yang duduk di depanku. Aku sangat mengenalnya. Dia adalah Om Farhan. Om Farhan adalah teman ayah. Beliau sering main ke rumah. Aku sering di suruh ayah membuatkan kopi untuk beliau. Om Farhan usianya lebih muda sekitar sepuluh tahun dari ayah. Dan aku pernah mendengar cerita dari ayah kalau Om Farhan sudah berpisah dengan istrinya/
“Apa khabar, Ulfa ?” Om Farhan menyapaku ramah.
Aku tak menjawab sapannya. Jujur dihati kecilku tak pernah terbayang akan menjadi istri dari seorang duda. Duda tanpa anak.
“Mungkin Ulfa belum siap dengan perjodohan ini, Bang Ilham. Biarkan dia memikirkannya dulu. Saya juga tak mau memaksa Ulfa, Bang.” Om Farhan berkata kepada ayahku.
Aku menekurkan kepala. Om Farhan benar, semua ini sangat mengejutkan bagiku. Aku ingin rasanya berlari meninggalkan kedua orang ini ke kamarku. Tapi aku masih menahan diri, aku menghormati ayahku.
Tak lama Om Farhan pamit. Aku segera menuju kamarku. Aku duduk termenung di pinggir pembaringan. Butiran bening mengalir di pipiku. Kenapa harus Om Farhan calon yang dicarikan ayah? Apakah tidak ada laki-laki lain di dunia ini ? Berjuta tanya berkecamuk dalam pikiranku.
*****
“Bagaimana Ulfa ? Bagaimana tanggapanmu dengan Om Farhan?” Ayah bertanya waktu kami semua duduk di meja makan.
Aku hanya diam. Tiba-tiba selera makanku jadi hilang. Kepalaku tiba-tiba pusing.
“Wah kalau Adit senang ayah, Om Farhan orangnya baik.” Adit yang tidak ditanya menjawab.
Aku mendelikkan mata kepada Adit. Anak itu tersenyum lucu. Ingin aku menjewer telinga anak itu. Bagas yang duduk di samping Adit hanya tersenyum.
“Kamu tidak harus jawab sekarang. Kamu masih boleh berpikir. Farhan laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Ayah sudah lama mengenalnya. Semoga dia bisa menjadi imam yang baik untukmu.” Ayah berkata bijak.
"Tapi kenapa harus dengan duda ayah?" aku bertanya pelan.
"Lho apa salahnya dengan duda ? Walaupun duda Om Farhan itu duren lho Kak Ulfa. Duda keren." Bagas ikutan nimbrung.
Suara sendok yang aku hentakan agak keras membuat Bagas diam. Dua orang adikku menantapku dengan wajah sedikit takut. Mereka paham kalau aku sudah marah, susah berhentinya.
Kami makan dalam hening. Tiba-tiba aku ingin melaksanakan salat. Aku ingin mengadukan nasibku pada Rabbku. Semoga ada solusi untukku.
“Ayah beri kamu waktu berpikir seminggu ini, Ulfa.” Ayah berkata selesai makan dan berlalu segera ke kamarnya.
*****
Jawaban yang aku berikan menerima pinangan Om Farhan membuat ayah nampak sangat bahagia. Tanpa menunggu waktu lama pernikahan aku dan Om Farhan dilaksanakan. Pernikahan yang mewah. Aku baru tahu kalau Om Farhan sekarang adalah atasan ayah di kantor.
Aku diboyong oleh Om Farhan ke rumahnya setelah menikah. Ternyata ayah benar, Mas Farhan begitu aku sekarang memanggilnya sangat baik. Laki-laki itu pria yang sholeh. Salat dan bacaan Al Quranku sering diperbaikinya kalau salah. Hijabku juga sudah mulai lebih rapi, pakaianku juga sudah banyak yang longgar. Aku bersyukur Allah mengirim laki-laki itu kepadaku lewat tangan ayahku. Laki-laki yang bisa mengarahkanku ke arah yang lebih baik.
Terkadang aku heran kenapa mantan istri beliau mau meninggalkan laki-laki baik ini. Tapi aku tidak mau mencari jawabannya. Biarlah itu menjadi masa lalu suamiku. Masa depannya sekarang adalah aku dan anak yang ada dalam kandunganku.
****
Kepergian ayah untuk selamanya enam bulan setelah pernikahanku betul-betul membuatku shock. Ayah meninggal di depanku. Penyakit jantung yang di deritanya telah merenggut nyawanya. Ayah meninggal menyusul almarhumah ibu sebelum sempat melihat cucunya terlahir ke dunia ini. Mas Frahan sudah berusaha memberikan pengobatan terbaik buat ayah, tapi Allah berkehendak lain.
Laki-laki yang sangat aku kagumi dan hormati itu masih sempat berkata pelan padaku bahwa dia sangat lega meninggalkanku. Karena sudah ada yang menjagaku dan adik-adikku.
Sekali lagi ayah benar. Mas Farhan mengurus semua proses kematian ayah. Beliau selalu menguatkanku. Posisi ayah diambil alih oleh Mas Farhan untuk membiayai sekolah Adit dan Bagas. Mas Farhan menyayangi adiku seperti adiknya sendiri. Mas Farhan juga tidak mengizinkan aku bekerja. Beliau ingin aku fokus mengurus rumah dan merawat anak-anak beliau nanti.
Aku menuruti keinginan suamiku. Aku masih ingat nasehat ayah sorga istri berada pada ridho suaminya. Terima kasih ayah, telah memilihkan jodoh yang sangat baik untukku. Tak sadar ada bening yang bergulir di mataku.
tamat
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan