Jodoh Pilihan Ayah Part 2 (T-228)
#tantangangurusiana
.
Telepon dari salah seorang rekan kerja ayah yang megabarkan kalau ayah dilarikan ke rumah sakit membuatku kaget. Dengan penuh kecemasan aku menyusul ayah ke rumah sakit. Beberapa teman sekantor ayah nampak berjaga di depan ruang ICU. Mereka menyambut kedatanganku. Aku belum bisa menjumpai ayah karena ayah sedang dalam penanganan dokter. Aku menangis. Rekan-rekan kerja ayah menyabarkanku.
Aku bergegas menuju ke depan pintu kamar sewaktu dokter yang menangani ayah keluar dari ruang ICU. Aku diizinkan masuk. Aku sangat sedih melihat tubuh ayah terbaring lemas. Selang infus terpasang di tubuhnya. Ayah nampak tertidur. Aku usap pelan wajah ayah. Aku pegang dan cium tangannya. Seorang suster memperingatkanku agar jangan menganggu beliau.
Aku diajak oleh salah seorang rekan kerja ayah untuk menemui dokter yang tadi menangani ayah. Keterangan dari dokter membuatku kaget. Dokter mengatakan kalau ayahku terkena serangan jantung. Dokter mengatakan kalau ayahku sudah lama mengidap penyakit ini. Aku tergugu, selama ini aku tidak mengetahu kalau ayah menderita jantung koroner. Beliau menyembunyikan dari kami, anak-anaknya.
****
Seminggu ayah dirawat di rumah sakit. Aku bergantian dengan Bagas adik laki-laki yang nomor dua merawat beliau. Kebetulan Bagas sedang libur kuliah. Hari ini ayah diizinkan pulang oleh dokter. Dokter berpesan agar kami semua harus pandai menjaga persaan ayah dan memperhatikan pola makanan beliau.
Ada seminggu ayah istirahat di rumah. Karena kondisi kesehatan ayah sudah berangsur pulih, ayah memutuskan untuk masuk kantor. Kami sudah berusaha untuk melarang. Ayah tetap berkeras mau masuk kerja. Ayah tidak enak dengan atasannya. Dengan diantar Bagas ayah berangkat ke kantor.
****
Mencari pekerjaan sekarang sangat susah. Semenjak aku selesai diwisuda sudah banyak berkas lamaran yang aku masukan ke kantor dan perusahaan-perusahaan. Tapi tidak ada satupun yang menanggapi lamaran yang aku masukan.
Aku ingin bekerja. Aku ingin membantu ayah. Aku ingin mengumpulkan uang yang banyak agar bisa memberikan perawatan yang lebih baik untuk penyakit ayah.
Tapi... bagaimana aku mau membantu ayah kalau pekerjaan belum aku dapatkan. Aku merasa menjadi anak yang tidak berguna.
“Bagaimana Ulfa? Bagaimana dengan pertanyaan Ayah beberapa waktu yang lalu. “ Suara ayah mengagetkanku yang sedang duduk termenung di taman belakang.
“Ulfa belum punya calon Ayah. Lagian ULfa mau bekerja dulu.” Aku menjawab nyaris dengan suara yang tak terdengar.
“Ulfa kalau kamu menikah nanti kamu masih bisa kok mencari pekerjaan. Ayah ingin melihat kamu menikah sebelum ayah pergi." Ayah menatapku.
"Ayah tidak boleh bicara seperti itu." Aku menjawab dengan sedih.
"Ayah merasa umur ayah tidak lama lagi Ulfa. Ayah mau meninggalkan kamu dengan adik-adikmu dengan tenang." Laki-laki yang sangat aku sayangi itu bicara pelan.
"Tapi Ulfa belum ada calon, Ayah." Aku menjawab lirih.
"Kalau begitu kamu harus terima calon yang ayah carikan. Ayah yakin kamu suka dengan dia. Orangnya sangat baik dan bertanggung jawab. Besok ayah undang dia kesini,ya?" Ayah berkata dengan semangat.
****
Sore itu aku duduk dengan jantung berdebar. Tadi pagi sebelum bekerja ayah sudah berpesan bahwa dia akan membawa calon yang akan dikenalkan kepadaku sepulang kerja nanti. Seperti apakah calon pilihan ayahku? Apakah dia laki-laki baik? Berjuta tanya berkecamuk di kepalaku. Aku jadi serba salah. Tak pernah aku mersa segrogi ini.
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. Aku bergegas menuju pintu utama dan membukanya. Ayah berdiri dengan seorang laki-laki yang tidak asing bagiku. Apakah laki-laki ini calon yang dicarikan ayah untukku? Kenapa harus dia? Aku berdoa semoga bukan dia calon yang dicarikan ayah.
bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan