Jodoh Pilihan Ayah (T-227)
#tantangangurusiana
Aku memandang laki-laki yang masih nampak gagah di usianya yang sudah ke lima puluh tahun. Wajahnya yang bersih dengan sepasang mata yang berwibawa membuat dia nampak sangat disegani. Dia adalah ayahku. Laki-laki yang sudah mendidik dan membesarkan aku beserta dua orang adikku. Ayah rela tidak mencari pendamping setelah almarhumah ibu meninggalkan kami untuk selamanya.
Susah mencari perempuan yang bisa menyayangi kami semua, itu adalah alasan ayah tidak mau beristri lagi. Alasan yang selalu diucapkan ayah apabila kakek dan nenek dan saudara ayah yang lain meminta beliau untuk mencari ibu sambung bagi kami.
Tetapi sebagai putri pertama yang sangat dekat dengan beliau aku tahu kenapa ayah tidak mau menikah lagi. Rasa sayang kepada alamarhumah ibu adalah penyebabnya. Sering aku melihat ayah memandang dan mengusap foto ibu yang ada di meja kerjanya dan tak jarang aku melihat kabut bergelayut di matanya sewaktu menatap foto itu. Bahagianya almarhumah ibuku dicintai oleh laki-laki seperti ayahku.
“Bagaimana Ulfa ? Kau menerima usul, Ayah ?” suara lembut ayah mengagetkanku.
“Tapi Ulfa belum ada kepikiran ke sana, Ayah.” Aku menjawab pelan.
“Ayah akan sangat senang kalau kau ada yang melindungi. Jadi ayah tidak risau kalau nanti meninggalkanmu.” Suaranya terdengar lagi. Sangat Pelan.
“Memangnya ayah mau pergi kemana?” Adit adikku yang paling bungsu bertanya kepada ayah. Anak usia dua belas tahun yang tidak pernah melihat langsung wajah almarhumah ibu menatap ayah dengan heran. Ibu meninggalkan kami semua waktu melahirkan Adit.
“Ayah tidak kemana-mana, Adit. Ayah hanya ingin ada yang menjaga Mbakmu. Jadi ayah tidak risau lagi kalau seandainya nanti ada tugas ke luar kota.” Ayah menjawab sambil mengacak rambut Adik.
“Adit sih senang Mbak Ulfa menikah. Tapi harus dengan laki-laki yang baik ya, Mbak. Jangan seperti Mas Nando.” Adit berkata sambil menunjuk rumah yang ada di depan rumah kami.
“Adit tidak boleh ghibah.” Aku menatapanya tajam.
“Iya Mbak. Habis mereka berdua ngesalin. Setiap hari ribut saja. Menggangu ketentraman.” Lanjutnya kesal. Tatapan tajam dariku membuat Adit terdiam.
“Ayah beri kamu waktu berpikir. Kalau kamu sudah punya calon ceritakan kepada ayah. Tapi kalau tidak ayah sudah punya calon untukmu.” Ayah berkata sambi meninggalkan aku dan Adit di ruang keluarga.
“Adit setuju dengan usul ayah, biar Mbak Ulfa tidak jutek lagi kalau sudah menikah.” Anak itu berkata sambil berlari meninggalkanku menuju kamarnya. Masih sempat aku melihat mimiknya yang menggodaku.
Aku menatap kepergian Adit dengan tersenyum. Sepeninggal Adit, aku masih melamun. Permintaan ayah tadi masih terngiang-ngiang di telingaku. Permintaan yang selama ini masih jauh dari pikiranku. Aku merasa diusiaku yang baru dua puluh tiga tahun terlalu dini punya pikiran untuk menikah.
Aku masih ingin menikmati kebebasanku tanpa diribetkan oleh urusan keluarga. Tapi di satu sisi permintaan ayah membebani benakku. Ada perasaan tidak tega menolak perminaan beliau. Apa yang harus aku lakukan ? Tuhan tolonglah aku, batinku.
bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan