Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Pulang Part 3 (T-239)

#tantanagngurusiana

.Ada yang berbeda dengan wajah Bang Sofyan. Aku lihat ada kilat kemarahan di matanya. Aku sudah bisa membayangkan ucapan apa yang akan keluar dari mulutnya. Yang aku pikirkan sesuai dengan kenyataannnya laki-laki itu memakiku di depan anak-anak. Bang Sofyan menyalahkan aku karena aku berterus terang keadaanya kepada kakaknya.

Aku berusaha menahan emosi. Aku takut jika menjawab makiannya Bang Sofyan bisa semakin menjadi-jadi. Diam lebih baik daripada melayani amarahnya.

Anak-anak memelukku. Aku membawa anak-anak segera ke kamar. Aku sedih melihat mereka ketakutan. Dito dan Dika masih balita. Tidak seharusnya Bang Sofyan berkata kasar di depan kedua putranya. Bang Sofyan benar-benar keterlaluan.

Malam itu aku tidur di kamar anak-anak. Entah mengapa hatiku sakit sekali kalau teringat makian Bang Sofyan. Enam tahun berumah tangga tidak pernah dia seperti itu. Aku paham kalau dia stres karena belum juga mendapat pekerjaan. Tapi bukan berarti dia harus memaki-makiku. Aku merasa sangat kesal. Aku tertidur dengan pikiran dan raga yang lelah.

*****

Karena tidur yang telat malamnya, aku kesiangan esok harinya. Terburu-buru pagi itu aku menyiapkan sarapan. Setelah itu ke kamar anak-anak. Aku merapikan mereka. Aktivitasku utin setiap pagi yang harus akau jalani. Tidak ada keinginan dari Bang Sofyan untuk membantu. Laki-laki itu masih tidur nyenyak. Aku tidak tahu jam berapa bangunnya. Dulu aku pernah mencoba membangunkannya tapi dia malah memarahiku. Malu ribut pagi-pagi membuat aku malas membangunkannya lagi.

Setelah semua beres, aku mengantarkan kedua putraku ke Tempat Penitipan Anak. Bersyukur TPA ini tidak jauh dari rumah dan baby sitter yang bekerha di sana adalah baby sitter terlatih, jadi aku tidak pernah risau meningglakan kedua buah hatiku disini.

*****

Pesan dari Bang Sofyan agar aku mencarikan ongkosnya untuk pulang kampung membuatku harus meminjam uang kepada teman kerja. Aku terpaksa melakukannya, karena aku paham sifat suamiku. Menolak itu artinya akan ribut lagi, aku tidak mau anak-anak meyaksikan lagi kemarahannya.

*****

Berbekal uang pinjaman Bang Sofyan membeli tiket untuk pulang kampung. Pagi itu dia pamit padaku dan kedua anaknya. Bang Sofyan memeluk lama kedua putranya. Aku mencium tangannya. Walaupun aku masih kesal, tapi aku masih menghormatinya sebagai suami.

bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post