Ibuku Inspirasiku (T-265)
#tantangangurusiana
.
Menulis cerita tentang ibu selalu membuatku terharu. Jujur, bagiku ibuku adalah wanita yang paling hebat di dunia. Ibu sering mengisahkan kisah-kisah beliau di masa kecil kepadaku. Kisah beliau selalu terpatri di memoriku. Kisah yang selalu menjadi inspirasi bagiku.
Ibuku bernama Hj. Miss Elli, A.Md. Beliau terlahir tanggal 31 Desember 1950. Ibuku adalah anak tertua dari empat bersaudara. Ibuku sudah ditinggalkan selamanya oleh ibundanya sewaktu ibuku baru kelas tiga SD, waktu itu adik ibu yang paling kecil baru berusia enam bulan.
Sewaktu ibuku kelas tiga SMP ayahanda beliau, almarhum kakekku juga menyusul almarhum nenekku. Disinilah perjuangan ibuku dimulai. Sebagai anak tertua ibuku sudah mulai memikul tanggung jawab dalam membesarkan ketiga adik-adiknya. Aku tidak bisa membayangkan di usia ibu yang belum lima belas tahun ibu sudah menantang kerasnya kehidupan.
Berbagai usaha dilakukan ibu agar mereka bisa makan. Ibu berternak ayam dan menjual pisang yang ada di kebun untuk kebutuhan sehari-hari. Setiap hari sabtu ibu terpaksa tidak sekolah karena harus berjualan pisang di Pasar Sabtu.
Pasar Sabtu adalah pasar di akhir pekan yang ada di kampungku. Apakah saudara dari nenek dan kakek tidak membantu? Tentu ada. Ibuku cerita kalau untuk beras makan sehari-hari ibuku dan adik-adiknya dibantu oleh keluarga kakek. Keluarga ibuku juga ada membantu, tetapi karena kehidupan mereka juga pas-pasan mereka tidak bisa membantu banyak.
Setamat SMP ibuku melanjutkan pendidikan ke SPG. Aku menangis sewaktu ibu bercerita bahwa keinginan ibu untuk melanjutkan sekolah membuat adik-adik ibu harus terpisah-pisah. Adik-adik ibu ada yang ikut dengan keluarga di pihak kakek dan ada yang ikut dengan saudara sepupu ibu.
Aku tidak bisa membayangkan kalau aku berada di posisi ibuku. Tapi ibuku sangat tegar. Banyak kisah di sini yang diceritakan ibuku. Kisah yang kalau aku ceritakan bisa berupa sebuah novel. Kisah yang mengharu biru. Ada kisah suka dan dukanya.
Selesai ibuku menamatkan pendidikan di SPG, ibuku kembali ke kampung. Adik-adik ibu kembali berkumpul di rumah. Tidak adanya pengangkatan untuk menjadi guru PNS waktu itu menjadikan ibuku jadi guru honorer di sebuah sekolah. Guru honorer tanpa gaji. Untuk keperluan sehari-hari ibuku kembali berjualan dan berternak ayam.
Tiga tahun lamanya ibuku mengabdi sebagai guru honorer tanpa diberi gaji. Sungguh pengorbanan yang luar biasa. Tapi Alhamdulilah ibu dan adik-adiknya tidak pernah berkekurangan. Karena Allah menjadi penjaga mereka. Allah menjadi penjaga bagi ibuku dan adik-adiknya, empat orang anak yatim piatu.
Sebagai seorang kakak, ibuku berhasil mendidik adik-adiknya. Ibuku sangat penyayang kepada adik-adiknya. Dua orang adik ibu berprofesi sebagai PNS dan TNI Polri. Satu orang menjadi ibu rumah tangga dan mengikuti suaminya ke Makasar.
Setelah menikah dengan ayahku kehidupan ibu mulai membaik. Tiga tahun setelah pernikahan, ibuku diangkat jadi PNS. Ibu diangkat jadi PNS sewaktu aku berusia dua tahun. Ibu ditempatkan di Lubuk Minturun. Sebuah tempat yang jauh dari jalan raya. Untuk sampai ke sana menempuh hutan. Disini ketegaran ibu kembali diuji. Ibu harus terpisah dengan ayahku.
Almarhum ayah yang berprofesi sebagai PNS di Departeman Agama Kabupaten Padang Pariaman membuat ayah tidak bisa mendampingi ibuku di tempat mengajar. Sekali seminggu ayah mengunjungi ibu, aku dan adikku ke Lubuk Minturun.
Setelah tiga tahun bertugas di Lubuk Minturun ibu pindah tugas ke SD Inpres Ulu Banda di Tungkal. Alhamdulillah, kami bisa berkumpul lagi dengan ayah.
Aku tidak pernah melihat ibu mengeluh dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Kehidupan guru dan PNS tidak seperti sekarang. Gaji ibu sebagai guru dan almarhum ayak sebagai pegawai di Depag hanya pas-pasan.
Tapi Ibu tidak pernah berkeluh-kesah. Aku tahu ibu sering gali lubang tutup lubang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Aku tahu SK PNS ibu lebih sering di bank daripada di rumah. Tapi ibu tidak pernah menyesal. Ibu nampak sangat ikhlas.
Motivasi ibu untuk menguliahkan kami juga luar biasa. Ibu pernah berkata kepadaku, kehidupan kami adik beradik harus lebih baik dari kehidupan ibu dan ayah. Ibu dan ayah tidak memilki harta pusaka yang banyak, hanya bekal pendidikanlah yang bisa mereka usahakan. Itu yang sering ibu ucapkan kepadaku. Itulah yang melecutku untuk selalu jadi terbaik di sekolah.
Bagiku keberhasilan di sekolah merupakan hadiah terindah untuk ibuku. Selalu ingin berhasil selalu aku tanamkan ke diriku. Karena ibuku pernah berkata, adik-adikku akan sukses kalau aku berhasil. Karena aku adalah anak pertama, anak yang jadi panutan bagi adik-adiknya.
Aku masih ingat diwaktu ayah hampir menyerah membiayai kuliah kami, ibu selalu memberi semangat. Ibu selalu berkata, rejeki anak-anak pasti ada. Alhamdulillah enam dari tujuh anak ibu semua sarjana, dua orang diantaranya sudah Magister.
Empat orang diantara kami melanjutkan cita-cita ibu sebagai pendidik. Alhamdulillah, sudah PNS semua. Dua orang laki-laki wiraswata. Dan yang paling bungsu sekarang berstatus masih Ibu Bayangkari, semoga bisa tercapai keinginan jadi dosen ya , Dek.
Semua yang kami raih berkat ibu dan ayah. Ibu yang selalu gigih dan selalu mendoakan kami. Doa ibu adalah berkah bagi kami. Selamat Hari Ibu, ibuku sayang. Terima kasih ibu, karena sudah mendidik dan membesarkan kami, sehingga kami bisa seperti ini. Semoga ibu selalu sehat dan bahagia selamanya. Aamiin.
.
Dumai, 22 Desember 2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan