Maafkan Bunda Aina, Mama (tamat) T-248
#tantangangurusiana
.
Kedatangan Mas Randy sore itu di rumah mengagetkanku. Mantan suamiku itu menatapku dengan wajah yang kusut.
Sebagai mantan istrinya aku tahu ada masalah yang sedang dihadapinya. Tapi aku tidak mau menanyakan masalahnya. Semua itu biarlah jadi urusannya. Karena sekarang tidak ada hubungan apa-apa lag diantara kami.
“Kamu mau menjempu anakmu ?” Aku menegurnya ketus. Mas Randy menatapku. Aku tahu diap pasti heran kenapa aku memangilnya tanpa embel-embel “Mas”.
Aku bersikap cuek. Umurku dengan Mas Randy hampir sebaya, bahkkan aku lebih tua dua bulan darinya. Kalau hubungan pernikahn sudah tidak ada lagi, kenapa aku harus panggil Mas ? batinku.
“Mila, aku ditugaskan perusahaan ke Kalimantan. Ada pembukaan tambang baru disana. Aku diminta mengawasinya. Aku terpaksa menerima. Karena kalau menolak aku harus keluar dari perusahaan. Aku lagi butuh uang banyak Mila.” Laki-laki berkata lirih.
“Kalau kau mau ambilah warisan yang ditinggalkan orang tuamu.” Aku berkata pelan.
“Tidak... itu warisan mama dan papa buat anak-anak. Aku tidak mau mengambilnya. Itu hak anak-anak.” Jawabnya cepat.
“Tapi kamukan memerlukanya.” Jawabku.
“Tidak, Mila. Aku tidak mau mengambilnya. Aku ke sini hanya menitipkan Aina kepadamu. Karena aku percaya kamu adalah perempuan yang sangat baik. Anak-anak akan aman dan terdidik bersamamu. Aku akan kirim biaya anak-anak kita.” Laki-laki itu berkata tegas.
“Susan aku tinggalkan di rumah sakit. Aku percayakan rumah sakit yang merawatnya, “ lanjutnya lirih.
“Aku titip salam sama anak-anak. Aku akan berangkat besok pagi. “ Lanjutnya setelah diam beberapa saat.
Kami berdua diam. Aku paham apa yang berkecamuk di hatinya. Tuntutan akan biaya pengobatan istrinya yang besar menuntut dia terpaksa menerima tugas dari perusahaan. Ada sedih di hati ini melihat penderitaanya. Tapi aku tepis. Masa bodoh... Kamu yang menciptakan ini, silahkan kamu nikmati sendiri, batinku.
“Apa kamu tidak pamit sama anak-anakmu dulu?” Aku berkata memecah keheningan.
“Aku tidak sanggup menatap mereka. Aku titip anak-anak ya.” Aku melihat titik bening di sudut mata laki-laki itu.
Tidak pernah selama ini aku melihat laki-laki itu sesedih ini. Kembali haru menyeruak dihatiku. Andai Kau dulu tidak bertingkah ini tidak akan terjadi Mas, batinku.
“Tidak boleh seperti itu. Kamu harus pamit pada anak-anakmu.” Aku berteriak memanggil anak-anak agar turun ke lantai bawah.
Keempat anak-anak itu berlari turun mereka gembira sekali bertemu dengan papanya. Mas Randy mengutarakan niatnya akan pergi ke Kalimantan. Laki-laki itu berpesan agar anak-anaknya jangan nakal dan menurut kata-kataku.
Anak-anak menganggukkan kepala. Rianda dan Aina bergelayutan ditangan papanya. Mereka seakan berat melepas papa mereka pergi ke Kalimantan.
Jujur lima belas tahun hidup bersamanya ditambah tiga tahun kedekatan kami sebelum menikah rasa sayang dan cinta yang ada selama ini sirna karena sikapnya . Tak ada rasa lagi di hati ini untuknya. Memang betul kalau hati wanita sudah tersakiti susah untuk disembuhkan.
*****
Berita kecelakaan tambang yang ditayangkan di televisi membuat kami yang sedang menonton berita terpaku. Ketiga anakku histeris sewaktu salah seorang korban yang tewas ternyata papanya. Aku terdiam, lidahku kelu. Walauu tak ada lagi rasa di hati ini untuknya dia pernah mengisi relung hatiku. Dia yang selama ini menemani hari-hariku.
Aina kecil yang berada di tengah kakaknya menatap bingung, anak kecil itu heran, kenapa semuanya menangis?.
Mata kecilnya nengerjap-ngerjap. Rianda memeluk erat tubuh adik tirinya. Diam-diam aku keluar dari ruangan itu. Aku merasa ada nyeri di relung hatiku. Memang tidak ada lagi rasa sayang di hati ini buat mantan suamiku, tapi menyaksikan anak-anakku menangis histeris aku jadi sedih. Hubungan darah memang kuat.
Pekikan Rianda membuatku berlari ke ruang tamu. Rianda nampak paling shock diantara ketiga anakku. Dia berteriak histeris. Aina kecil berusaha menenangkan Rianda. Rianda memelukku erat. Aku peluk ketiga anakku. Aku harus memberi mereka kekuatan.
Aina berdiri mendekati kami, mata polosnya kembali menatap kami heran. Rianda menarik tangan adik tirinya. Berlima kami berpelukan.
“Ada apa Kak Ri ?” mulut kecilnya bertanya kepada Rianda.
“Papa kita meninggal, dek.” Rianda menjwab dengan terbata.
Anak itu terpaku. Aku tak melihat ada air mata di matanya. Tapi aku tahu dia sedih. Tuhan... bersihkan hatiku dari sifat dendam. Aku peluk tubuh kecil itu. Dia nampak heran, karena selama ini aku tidak pernah melakukannya.
“Mama tidak marah sama Aina lagi ?” Dia bertanya heran.
Aku menggelangkan kepala. Dia menghambur ke pelukanku. Bocah lima tahun itu menangis di pelukanku.
“Aina tahu, Bundanya Aina sering jahat sama mama. Maafkan Bunda Aina, ya Ma.” Terbata anak kecil itu berkata.
Aku usap kepalanya. Alangkah malangnya nasib Aina. Aku yang ada untuk dia sekarang. Aku harus menyayanginya. Aku harus melupakan kelakuan bundanya kepadaku.
Aku akan rawat keempat anakmu, Mas. Aku akan didik mereka jadi orang baik dan bertanggung jwab, batinku.
Tamat
05/12/2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan