Puisi Untuk Mama (T-263)
#tantangangurusiana
.
Dari tadi aku tidak melihat batang hidung Sisil. Putri cantiku yang sudah duduk di kelas tiga SD itu sejak makan pagi tadi langsung masuk kamar.
Aku penasaran, apa yang membuat dia betah di kamar. Biasanya suara anak itu selalu bising. Tumben, pikirku.
Penuh penasaran aku menuju kamarnya. Pintu kamarnya tidak terkunci. Aku mendorong pintu perlahan nyaris tidak terdengar. Pintu terbuka sedikit. Netraku mengintip ke dalam. Aku melihat Sisil lagi menulis di meja belajarnya.
Sisil nampak sangat serius menulis. Aku heran, tidak biasanya anak itu serajin ini. aku harus adu argumentasi dulu dengan dia kalau menyuruh belajar. Tapi pagi ini ?
Takut menganggu keasyikannya aku kembali menutup pintu perlahan. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku yang tadi sempat aku hentikan.
****
Jam di dinding berdentang dua belas kali. Aku teringat kepada Sisil. Kembali aku menuju kamar putri semata wayangku. Aku melangkah masuk karena pintunya terbuka sedikit. Mungkin Sisil tadi keluar dan lupa mengunci pintu.
Posisi Sisil sudah pindah menulis di lantai kamarnya. Kertas bertebaran di atas permadani yang ada di kamar Sisil. Kertas origami, lem, spidol dan crayon berserakan di sana-sini.
Iseng aku mengambil sebuah kertas yang terletak di lantai. Aku melihat tulisan Sisil di sana. Aku membaca tulisan yang ada di kertas.
Hatiku menghangat melihat tulisan itu. Tulisan yang sangat rapi. Sisil menulis sebuah puisi. Pelan aku membaca puisi itu. Puisi yang ditulis Sisil khusus untukku. Puisi yang membuat hatiku terharu, ada cairan bening mengalir di sudut mataku.
Sebuah catatan aku baca di notes kecil miliknya. “Puisi ini untuk Mama, Selamat hari ibu, Mama. Sisil hanya bisa beri ini untuk Mama. Sisil sayang sama Mama.”
Aku menangis. Terima kasih Sisil, terima kasih kamu sudah sayang sama Mama. Terima kasih sudah menyiapkan kado hari ibu untuk mama.
Walaupun mama bukan mama kandungmu. Aku teringat mama kandungnya Sisil. Sisil adalah anak dari adikku. Adikku yang meninggal waktu melahirkannya. Papanya Sisil menitipkan Sisil kepadaku, karena istri barunya tidak mau menerima anak bawaan suaminya.
Aku, suami dan kedua putra kandungku sangat menyayangi Sisil. Sisil tidak tahu kalau dia keponakanku. Sisil tidak perlu tahu sekarang. Biarlah nanti kalau dia dewasa dia kan mengetahuinya.
Pelan aku cium keningnya. Aku tidak ingin dia terbangun, aku akan berpura-pura tidak tahu tanggal 22 Desember nanti. Aku pura-pura tidak tahu kalau suprais yang mau disiapkannya untukku sudah bocor. “Sisil, Mama sayang kamu, Nak.” Bisikku pelan.
Dumai, 20/12/2020
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan