Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Sandal Yang Tertukar (T-264)

#tantangangurusiana

Hanif  memandangi sandal yang terletak di pelataran luar mesjid.  Hanif heran, sandalnya kok bisa berubah dalam sekejap. Hanif masih ingat sandal yang dipakainya tadi waktu ke mesjid adalah sandal yang masih baru, karena sandal itu baru dua hari dibelikan bunda. Tapi selesai salat berjamaah tadi sandalnya kok langsung berubah usang. 

Sekali lagi Hanif memperhatikan dengan cermat. Bentuk, ukuran dan warna sandal sama yang membedakan hanya sandal di depan matanya nampak lebih pudar warnanya.

Dengan sedih Hanif memakai sandal itu. Hanif sedih bukan karena sandalnya usang, Hanif sedih karena bunda sudah susah payah membeli sandal itu.

Bunda hanya seorang buruh cuci. Hanif tahu gaji bunda tidak besar. Bunda harus membiayai semua keperluan keluarga sejak Abi sudah menghadap-Nya.

“Hanif kenapa?” Suara lembut bunda menyambut Hanif di rumah.

“Sandal Hanif tertukar, Bunda. Sandal Hanif ditukar dengan yang usang.” Hanif menjawab sedih.

“Nggak usah sedih, itu bukan rejeki kita. Semoga sandal Hanif bermanfaat bagi yang menukarnya. Dan kita tak boleh berburuk sangka, siapa tahu anak yang bawa sandal Hanif tidak segaja menukarnya.” Bunda berkata sambil mengusap kepala bocah tujuh tahun itu.

“Tapi Bunda kan sudah susah payah mengumpul uang untuk beli sandal Hanif.” Hanif menjawab pelan.

“Tidak apa, nanti Allah pasti menggantinya dengan yang lebih besar. Apalagi sandal Hanif kan hilangnya di rumah Allah.” Bunda menjawab sambil  tersenyum.

 

*****

Sudah dua minggu sejak peristiwa itu Hanif tidak ke mesjid. Badannya yang panas membuat Bunda tidak mengizinkan Hanif ke mesjid. 

Sore ini anak itu merengek ke bundanya agar diizinkan salat ke mesjid. Bunda tidak tahan dengan rengekan Hanif.  Alhasil bunda juga ikut salat ke mesjid bersama Hanif. Bunda takut Hanif jatuh dijalan.

Seorang bocah perempuan berumur sekitar sepuluh tahun Hanif nampak menunggu seseorang dengan ibunya. Bunda Hanif menegur anak perempuan  itu, wajahnya sangat cantik. Lesung pipit di pipinya membuat dia nampak semaki menarik.

Hanif yang salat di bagian laki-laki nampak keluar dari pintu samping. Bocah laki-laki itu menyalami bunda.

“Ayo Bunda, kita pulang!” Ajak Hanif. Tangannya menarik tangan bunda.

Hanif menuju ke arah sandalnya. Kaki mungilnya masuk ke dalam sandal itu.

 “Itu sandal kamu?” suara seseoang mengagetkan Hanif. 

Hanif dan bunda menoleh. Anak perempuan dan ibunya berdiri di depan Hanif.

Hanif mengaangguk. Anak perempuan itu mengulurkan sebuah bungkusan. 

“Maafkan adik saya sudah mengambil sandalmu. Dia tidak sengaja. Dia terburu-buru pulang ke rumah karena sakitnya kambuh.” Anak peremuan itu terdiam.

“Sebelum meninggal dia minta tolong ke saya agar menukarkan sandal ini. Dia sudah meninggal sepuluh hari yang lalu. Sudah lima hari saya menunggu kamu di sini. Baru sekarang ketemu.” Anak perempuan itu berkata dengan sedih. Ibunya nampak menangis.

Hanif dan bunda terdiam. Hanif mengambil sandal di kakinya dan menyerahkan ke anak perempuan itu. anak perempuan itu menerimanya.

“Maafkan adik saya, ya.” Mohonnya lagi.

Hanif dan Bunda hanya mengaangguk. Mereka berdua juga larut dalam kesedihan. Anak perempuan  itu dan ibunya pergi meninggalkan bunda dan Hanif yang masih terdiam dalam sedih.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post