Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Senyum Syafa (tamat) T-270

tantangangurusiana

.

Keramaian di rumah Ibu Rummi sepulang kerja membuatku kaget. Kenapa banyak orang di rumah Ibu Rummi ? Apa yang terjadi dengan Ibu Rummi dan Syafa ? Aku turun dari ojek online dan setengah berlari aku menuju rumah Ibu Rummi.

Beberapa teman satu kosan nampak berada diantara keruman orang-orang itu. aku melihat ada polisi diantara orang yang berkeruman. Perasaanku tidak enak. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Dugaanku ternyata tidak melesat.

Ibu Rummi ditemukan tidak bernyawa. Diduga beliau sudah meninggal empat hari sebelumnya. Tetangga yang curiga karena tidak nampak ibu tua itu dan cucunya serta bau yang kurang sedap dari dalam rumah melapor kepada Pak RT. Pak RT dan beberapa warga mendobrak pintu rumah Ibu Rummi.

Syafa ditemukan terkulai lemah sambil memeluk jenazah neneknya. Netraku mencari Syafa. Kemana anak itu ? Dari cerita yang kudengar Syafa sudah dilarikan ke rumah sakit.

*****

Cerita miris aku dapatkan dari teman-teman satu kosan. Ibu Rummi meninggal karena serangan jantung. Beliau meninggal hanya ditungguin oleh Syafa, cucu semata wayangnya.

Warga di sekitar memang merasa aneh karena Ibu rummi sudah dua hari tidak menampakan batang hidungnya. Warga berpikir Ibu Rummi pergi ke tempat anaknya, Ibu Syafa. Karena Ibu Rummi sering juga berkunjung ke sana.

Hal itu dikuatkan karena mereka tidak mendengar teriakan Syafa. Aneh selama empat hari Syafa juga tidak terdengar suaranya. Biasanya gadis kecil itu sering memekik tak jelas. Jadi warga berpikiran mereka pergi ke rumah putrinya, ibunya Syafa.

Aku teringat pertemuan terakhirku dengan nenek dan cucunya itu seminggu yang lalu. Kesibukan di tempat kerja seminggu ini membuatku tidak berinteraksi dengan mereka. Aku berangkat pagi dan kembali ke kosan malam.

*****

Berdua dengan teman satu kosan aku melihat Syafa ke rumah sakit. Seorang wanita aku lihat berada di pinggir tempat tidur Syafa. Wajahnya nampak sangat sedih. Aku yakin dia ibunya Syafa. Wajahnya sangat mirip dengan foto gadis yang berada di dinding rumah almarhum Ibu Rummi.

“Kamu siapa?” suaranya pelan menegur kami.

“Kami tetangganya alamarhum Ibu Rummi.” Aku menjawab pertanyaanya.

“Aku sangat menyesal telah menyia-nyiakan ibu dan anakku. Aku menyesal.” Wajah perempuan itu penuh penyesalan.

Kami semua diam. Semua larut dalam pemikiran masing-masing. Aku menatap Syafa yang terbarig lemas. Aku sedih membayangkan, selama empat hari Syafa berada dekat neneknya yang sudah jadi mayat. Empat hari anak itu tidak ada makan. dehidrasi akut dialaminya sekarang.

Mata Syafa tiba-tiba terbuka. Matanya langsung menatap ke arahku. Bocah kecil itu menatapku. Tatapannya sangat menyentuh.

“Tante...” aku mendengar lirih suaranya kepadaku. sebentuk senyum terkir di bibirnya.

Aku sedikit heran, Syafa begitu fasih menyapaku. Biasanya tidak pernah seperti itu.

Wanita yang ada di samping Syafa memegang tangan anak itu. Tangisnya pecah. Berkali-kali ucapan maaf di ucapakannya kepada Syafa.

Syafa menatap sendu kepada ibunya. Tatapannya beralih kepada kami. Syafa mengenggam tangan ibunya. Sebuah senyum menghias di bibirnya yang pucat. Senyum yang terukir sampai Syafa menutup mata untuk selama-lamanya. Selamat jalan, Syafa. Semoga kamu jumpa nenekmu di sorga, doaku.

tamat

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post