Adik Ipar (part 6) T-292
#tantangangurusiana
Selesai membantu Bik Asih dan menata sarapan di meja, aku membangunkan anak-anakku. Hafiz dan Haifa aku biasakan salat subuh. Kemudian mereka mandi dan aku pasangankan pakaian. Kedua balita itu ikut sarapan pagi bersama nenek dan paman-pamanya.
“Masakan Kakak Ipar betul-betul lezat,” Sandi mulai mengomentari sarapan pagi ini.
“Bukan kakak yang masak, Sandi. Tapi Bik Asih.” Aku mencoba mengelak.
“Nggak ah, aku hapal masakan Bik Asih.” Sandi menjawab sambil terkekeh.
“Kakak, aku siang ini dibuatkan bekal ya Kak. Biar hemat. Kan tak payah makan di kantin. Uangnya bisa ditabung nanti buat modal menikah.” Yudhi yang bungsu berkata sambil terkekeh.
“Tak sabar amat kamu, Yud. Tuh yang tua belum. Tak boleh melangkahi.” Sandi berkata sambil matanya menoleh ke arah Deddy.
“Kapan nunggu Bang Deddy, cewek aja tak punya.” Yudhi menjawab tak kalah sengit.
Suara sendok dihentakan ke piring membuat percakapan dua adik kakak itu terhenti. Semua mata menoleh ke arah Deddy. Deddy memandang tak senang kepada kedua adiknya. Tiba-tiba dia menyudahi makan. Dia berpamitan kepada mama, papa dan aku. Sebelum pergi dia mengusap kepala kedua anakku.
“Kalian berdua itu jangan buat abang kalian kesal.” Mama mertuaku menasahati kedua putranya.
“Bang Deddy aja yang baperan. Gitu aja marah.” Yudhi berkata sambil monyongkan bibirnya.
“Lagian Mama, tak pernah menyuruh dia menikah. Kan kita berdua jadi terhambat. Atau mama membolehkan kami melangkahi si “gunung es” itu ?” Yudhi kembali ngerocos.
“Sudah... sudah. Kalian pergi kerja sana nanti terlambat.” Papa yang dari tadi diam menengahi diskusi kecil di pagi itu.
*****
Rumah terasa sepi setelah ketiga adik iparku pergi. Hafiz berada di kamar papa mertua. Papa membacakan buku cerita buat cucunya. Almarhum papa mertuaku adalah pensiuanan kepala sekolah. dari tiga anaknya hanya Sandy yang mengikutu beliau jadi guru.
Aku, Haifa dan mama mertua berada di taman belakang. Mama mertua punya hobbi merawat tanaman. Halaman belakang yang luas dipenuhi berbagai macam tananam. Haifa nampak senang melihat tanaman neneknya.
“Airin, apa kamu tidak punya rencana untuk mencari pengganti putraku ?” Mama bertanya tiba-tiba.
Jantungku berdetak kuat. Apa maksud mama ? Kenapa mama menanyakan itu ? Aku mau bertanya, tapi lidahku terasa kelu.
“Mama tidak keberatan kamu menikah lagi Airin. Kamu masih muda. Anak-anakmu butuh figur seorang ayah.” Mama mertua menyambung ucapannya.
“Apakah kami memberatkan buat mama dan papa ?” tanyaku terbata.
Aku heran kenapa pertanyaan itu yang keluar dari lidahku. Aku takut mama tersinggung dengan pertanyaanku.
“Tidak Airin. Kamu dan anak-anakmu adalah tanggung jawab kami. Kami tidak pernah merasa berat untuk membiayai kalian.” Mama menjawab cepat.
“Mama kasihan sama kamu, Nak. Kamu masih muda. Jangan larut oleh kesedihan karena ditinggal suamimu. Sudah saatnya kamu membuka diri.” Mama mertua berkata pelan.
“Airin belum kepikiran untuk menikah lagi, Ma.” Aku menjawab pelan.
“Mama tidak memaksa. Kalau kamu mau mama akan mencarikan ayah yang baik buat cucu-cucu mama.” Perempuan yang masih kelihatan cantik diusinya yang sudah lebih setengah abad itu tersenyum padaku.
*****
Langkahku terhenti sewaktu melewati ruang keluarga. Suara mama mertua dan adik-adik iparku yang lagi berbicara membuat rasa kepoku timbul. Apaka sh yang dibicarakan mereka?
Aku menajamkan telingaku. Ternyata mama membicarakan keinginannya unutk mencarikan pengganti Mas Ilham kepada ketiga putranya. Mama meminta ketiga putranya mencarika calon ayah yang baik buat Hafiz dan Haifa.
Aku merasa malu. Aku seperti wanita yang tidak laku saja pakai dicari-carikan calon suami. Jujur aku masih ingin nikah lagi, tapi setidaknya jangan sekarang. Kepergian Mas Ilham saja belum cukup satu tahun. Biarkan aku menata dan mempersiapkan hatiku terlebih dahulu.
*****
“Sekarang kalau hari libur rumah ramai. Semuanya pada betah di rumah. Dulu rumah selalu sepi.” Bik Asih bicara pada Airin sewaktu dia menolong ART itu di dapur.
bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan