Adik Iparku ( Part (1) T-287
#tantangangurusiana
.
Aku memandangi amplop yang terletak di meja makan. Amplop berwarna putih dan berisi uang. Amplop yang ditinggalkan oleh Mas Deddy adik iparku. Amplop yang isinya adalah jatah bulanan untukku.
Semenjak suamiku meninggal semua kebutuhanku dan anak-anak dipenuhi oleh keluarga Mas Ilham. Aku beruntung jadi menantu di tengah keluarga itu. Mereka sangat perhatian padaku dan anak-anakku.
Tapi jujur aku merasa tidak enak hati. Sampai kapan aku harus bergantung kepada mereka ? apalagi semakin hari kebutuhan anak-anak semakin besar. Aku malu meminta uang tambahan kepada mereka. solusinya aku harus bekerja.
Aku sudah pernah mengutarakan keinginanku pada keluarga almarhum suamiku, tapi ayah dan ibu mertuaku menolak. Mereka beralasan kesibukanku nanti bisa mengakibatkan cucu-cucu mereka tidak terurus. Aku terpaksa mengalah.
Walaupun aku sudah mengalah tetapi aku masih berusaha mencari upaya bagaimana mendapatkan uang sampingan. Aku mencoba membuat kue dan memasarkan secara online. Ternyata jualan online tidak segampang yang aku bayangkan. Persaingan di dunia maya ternyata lebih “hebat” dibandingkan dunia nyata. Aku terpaksa berhenti di jualan online.
Aku teringat Kristin. Temanku semasa kuliah. Kristin gadis cantik turunan Tionghoa itu mengajakku bekerja di perusahaanya. Tawaran Kristin sangat menarik bagiku. Apalagi pekerjaan yang ditawarkan Kristin sesuai dengan ilmu yang aku dapat diperkuliahan. Kristin tahu bahwa aku dulunya adalah mahasiswi yang cerdas dan pintar. Makanya aku ditawari jabatan sebagai staf accountung di kantornya.
Tawaran Kristin terbayang-bayang dipelupuk mataku. Aku bertekad akan meminta izin kepada keluarga mertua. Semoga mereka memberi izin aku untuk bekerja.
*****
Kedua orang tua Mas Ilham memandangku tak berkedip. Aku tahu mereka nampak kecewa dengan permintaanku untuk mohon izin untuk bekerja.
“Apakah uang bulanan yang kami berikan kurang, Airin ?” susra ibu mertua terdengar pelan. “Kalau kurang kamu harus bicara biar kami tambah.” Lanjutnya lagi.
“Uangnya cukup Ma. Cukup. Airin hanya ingin mengisi waktu Airin, Ma.” Aku menjawab dengan hati-hati.
“Cucu-cucu mama masih kecil-kecil. Mama takut nanti kesibukan kamu bekerja membuat kamu abai terhadap perkembangan mereka.” wanita yang masih nampak cantik itu berkata sedih.
Aku terdiam. Tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Aku tahu apa yang dipiiran ibu mertuaku. Mereka takut cucu-cucunya kehilangan kasih sayang dariku
bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan