Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Adik Iparku (Part 5) T-291

#tantanganRumah terasa sepi setelah ketiga adik iparku pergi. Hafiz berada di kamar papa mertua. Papa membacakan buku cerita buat cucunya. Almarhum papa mertuaku adalah pensiuanan kepala sekolah. dari tiga anaknya hanya Sandy yang mengikutu beliau jadi guru.

Aku, Haifa dan mama mertua berada di taman belakang. Mama mertua punya hobbi merawat tanaman. Halaman belakang yang luas dipenuhi berbagai macam tananam. Haifa nampak senang melihat tanaman neneknya.

“Airin, apa kamu tidak punya rencana untuk mencari pengganti putraku ?” Mama bertanya tiba-tiba.

Jantungku berdetak kuat. Apa maksud mama ? Kenapa mama menanyakan itu ? Aku mau bertanya, tapi lidahku terasa kelu.

“Mama tidak keberatan kamu menikah lagi Airin. Kamu masih muda. Anak-anakmu butuh figur seorang ayah.” Mama mertua menyambung ucapannya.

“Apakah kami memberatkan buat mama dan papa ?” tanyaku terbata.

Aku heran kenapa pertanyaan itu yang keluar dari lidahku. Aku takut mama tersinggung dengan pertanyaanku.

“Tidak Airin. Kamu dan anak-anakmu adalah tanggung jawab kami. Kami tidak pernah merasa berat untuk membiayai kalian.” Mama menjawab cepat.

“Mama kasihan sama kamu, Nak. Kamu masih muda. Jangan larut oleh kesedihan karena ditinggal suamimu. Sudah saatnya kamu membuka diri.” Mama mertua berkata pelan.

“Airin belum kepikiran untuk menikah lagi, Ma.” Aku menjawab pelan.

“Mama tidak memaksa. Kalau kamu mau mama akan mencarikan ayah yang baik buat cucu-cucu mama.” Perempuan yang masih kelihatan cantik diusinya yang sudah lebih setengah abad itu tersenyum padaku.

*****

Langkahku terhenti sewaktu melewati ruang keluarga. Suara mama mertua dan adik-adik iparku yang lagi berbicara membuat rasa kepoku timbul. Apaka sh yang dibicarakan mereka?

Aku menajamkan telingaku. Ternyata mama membicarakan keinginannya unutk mencarikan pengganti Mas Ilham kepada ketiga putranya. Mama meminta ketiga putranya mencarika calon ayah yang baik buat Hafiz dan Haifa.

Aku merasa malu. Aku seperti wanita yang tidak laku saja pakai dicari-carikan calon suami. Jujur aku masih ingin nikah lagi, tapi setidaknya jangan sekarang. Kepergian Mas Ilham saja belum cukup satu tahun. Biarkan aku menata dan mempersiapkan hatiku terlebih dahulu.

*****

“Sekarang kalau hari libur rumah ramai. Semuanya pada betah di rumah. Dulu rumah selalu sepi.” Bik Asih bicara pada Airin swaktu dia menolng ART itu di dapur.

bersambung

gurusiana

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post