Jodohku (T-285)
#tantangangurusiana
Sekali lagi aku memandang wanita itu. Wajahnya nampak kusam. Rambutnya diikat asal-asalan. Baju yang dipakainya nampak lusuh. Rasanya aku mengenal perempuan itu . Tapi apakah benar dia perempuan yang aku kenal ?
“Rastri, cepatlah jalannya sikit.” Seorang perempuan paruh baya berkata dengan suara agak keras. Perempuan yang dipanggil Rastri itu berjalan tergesa menyusul perempuan yang menegurnya tadi.
“Rastri ? Apakah perempuan itu Rastri ?”, batinku.
Aku tak menyangka perempuan itu adalah Rastri. Perempuan yang dulu sangat aku idolakan. Siang malam aku selalu mengimpikan dia. Tapi Rastri terlalu tinggi buatku. Impianku untuk mendapatkannya hanya seperti pungguk merindukan bulan. Sesuatu yang sangat mustahil.
Aku hanya seorang laki-laki miskin. Pekerjaaku hanya sebagai nelayan. Nelayan yang menangkap ikan menggunakan perahu orang. Rastri anak orang berpunya. Bapaknya adalah majikanku. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terucap dari mulut Wan Dulah kalau dia tahu aku menyukai putrinya. Cacian dan makian pasti akan keluar dari mulutnya yang tidak pernah di sekolahkan itu.
Ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Rastri ternyata menyukaiku juga. Aku tidak tahu apa yang membuat perempuan anak majikanku itu tertarik kepadaku. Dengan sembunyi-sembunyi kami menjalani hubungan cinta kami.
Nasib naas menimpa kami sewaktu aku sedang duduk dengan Rastri di pantai sore itu. Anak buah bapaknya memergoki kami. Wan Dulah murka kepadaku. Keluargaku yang tidak bersalah juga menjadi angkaranya. Aku dan keluargaku terpaksa hengkang dari tanah kelahiranku. Karena orang- orang Wan dulah selalu menerorku.
Lima belas tahun sudah berlalu, aku datang ke tanah kelahiranku. Kedatanganku kali ini berbeda. Aku datang sebagai orang yang berhasil. Aku bukan lagi si miskin yang selalu di hina. Tapi aku sekarang adalah orang yang punya uang.
Pahit getir di rantau sudah aku jalani. Alhamdulillah aku sudah sukses punya beberapa mini market. Tidak gampang usahaku untuk memperbaiki hidup. Aku jatuh bangun berjuang. Beruntung keluargaku dan dua orang adik perempuanku selalu mensuport. Sehingga kami sekarang hidup layak.
Kerinduanku akan tanah kelahiran membuaku datang ke sini. Aku hanya pulang seorang diri.
Kepulanganku tanpa memberitahu keluargaku. Karena ibu dan ayah akan marah kalau tahu aku ke sini. Mereka berdua khawatir kepadaku.
Kedua adik perempuanku juga sudah menikah. Mereka sudah punya suami dan anak-anak yang menyayangi mereka. Aku bahagia melihat kehidupan adik-adikku. Aku ? Tidak pernah terpikir oleh ku untuk menikah. Aku hanya ingin seluruh keluargaku bahagia. Aku tidak peduli hidupku. Diumurku yang sudah hampir kepala empat aku masih melajang.
“Kamu Burhan, bukan ?” seorang perempuan setua ibuku menegurku.
Aku mengangguk. Aku mencoba mengingat perempuan tua di depanku. Penat aku mengingat tapi aku tak berhasil. Memoriku tidak ada menyimpan perempuan tua ini.
“Aku teman Ibumu dulu. Namaku Mak Cik Siti.” Perempuan itu mengenalkan diri.
“Ayok mampir ke rumahku.” Perempuan itu mengajak aku ke rumahnya.
Aku mengikuti perempuan itu. Rumah Mak Cik Siti tidak jauh dari tempat aku berdiri. Suasana kampung sudah sangat jauh berubah. Sudah banyak bangunan baru. Pemukiman yang ada di sepanjang pantai ini sebagian besar bangunan baru. Tidak ada lagi rumah-rumah nelayan yang kecil dan sumpek.
Aku sedikit kagum melihat perubahan ini, berarti kehidupan penduduk di tanah kelahiranku sudah membaik.
Mak Cik Siti mempersilahkan aku duduk. Perempuan itu menanyakan khabar ibu dan keluargaku. Dia nampak senang mendengar ceritaku.
Selesai Mak Cik Siti bercerita aku menanyakan tentang keluarga Wan Dulah. Perempuan tua itu terdiam. Lalu cerita itu mengalir dari mulutnya.
Wan Dulah terlibat penyelundupan ilegal loging ke negara tetangga. Dia tertangkap. Hartanya habis untuk membebaskannya. Dia punya utang yang banyak. Tak ada orang yang bersimpati kepadanya. Sikapnya yang jahat membuat orang benci kepadanya.
Masyarakat bersyukur dia tertangkap. Tak ada lagi tengkulak yang suka mempermaikan harga ikan. Kehidupan nelayan menjadi lebih baik.
“Apakah perempuan yang tadi aku lihat itu Rastri, Makcik ?” Aku bertanya hati-hati kepada perempuan itu.
“Ya. Dia Rastri. Kasihan perempuan itu. Dia dijadikan istri ke empat oleh Wan Damuri. Kawan bapaknya. Tapi setelah Wan Damuri meninggal dunia perempuan itu tidak dapat apa-apa. sekarang dia tinggal di rumah istri pertama almarhum suaminya. Jadi pembantu di sana.” Mak Cik Siti berkata sedih.
Aku sedih mendengar cerita keluarga Wan Dulah. Betulkah aku sedih ? Bukankah Wan Dulah sangat zholim kepadaku dan keluargaku ?
“Kau sudah kawin, Burhan?” Suara Mak Cik Siti mengegetkan lamunanku. Aku menggeleng lemah.
“Kalau kau masih ada hati pada perempuan itu. Jemputlah dia Burhan. Aku tahu kenapa Rastri bertahan di rumah madunya. Karena dia tidak punya tempat lain lagi selain di sana. Setelah wan Dulah dan istrinya meninggal, perempuan itu tidak punya siapa-siapa lagi.” Mak Cik Siti berkata pelan.
Aku pergi meninggalkan rumah Mak Cik Siti setelah mendengar seua cerita tentang keluarga Wan Dullah. Aku kembali ke penginapan. Raga dan pikiranku terasa sangat penat.
*****
Sudah hampir tiga jam aku berdiri di ujung jalan ini, tapi tak nampak batang hidung Rastri. Kata Mak Cik Siti setiap pagi dia pasti lewat jalan ini.
Aku hampir putus asa menunggunya. Kenapa Rastri tidak lewat jalan ini ? Kemana Rastri ? Apa yang terjadi denganya ? Kekhawatiran bergelayut di benakku.
Hatiku bersorak gembira ketika dari kejauhan aku melihatnya. Ya, dia Rastri. Dadaku berdegup kencang menunggu dia berjalan menuju ke arahku. Rastri, perempuan itu nampak sangat menderita. Aku sedih melihat Rastri seperti itu. Aku berjanji akan membawa dia jauh dari kampung ini. Aku akan membahagiakanmu Rastri, batinku.
“Rastri ? Kamu masih ingat padaku ?” Aku menegurnya sewaktu dia sudah berada di dekatku.
Perempuan itu nanar menatapku. Tampak keterkejutan di matanya.
“Bang Burhan ?” Perempuan itu berkata seakan tak percaya.
Aku mengangguk. Tiba-tiba cairan bening jatuh di pipinya yang tirus.
“Maafkan Bapakku, Bang. Maafkan Bapak.” Lirih terdengar suara Rastri.
“Aku sudah memaafkan bapakmu, Rastri. Aku ke sini menjemputmu. Aku akan menikahimu. Ikutlah denganku.” Aku berkata pelan.
Aku melihat mata yang sayu itu bercahaya. Rastri aku akan mengembalikan semua hidupmu. Kita akan bahagia Rastri batinku.
*****
Ibu dan ayah sangat kaget melihat kedatanganku dengan Rastri. Ibuku memeluk perempuan itu. aku tahu ibuku sangat menyayangi Rastri.
Kami menikah secara sederhana. Aku merasa sangat bahagia. Di usiaku yang mau kepala empat aku baru menikah. Kehidupanku terasa sempurna sekarang. Akhirnya aku bisa dipertemukan kembali dengan cinta pertamaku. Kalau sudah jodoh pasti akan dipertemukan, walaupunya jalan penuh kelok.
Aku terpana di malam pertama kami. Rastri masih suci. Cerita mengalir dari bibirnya. Satu tahun dinikahi oleh laki-laki yang lebih tua dari ayahnya tapi Rastri belum pernah disentuh suaminya. Tuhan melindung Rastri, Wan Damuri terserang stroke satu hari setelah menikahi Rastri.
tamat
Dumai, 10/01/2021
.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan