Orang Tua Siswaku (T-296)
#tantangangurusiana
.
Amara membaca pesan yang dikirim ke gawainya. Pesan dari seseorang yang akhir-akhir ini sering menganggu pikirannya. Pak Dennis, orang tua dari Farel salah seorang anak didiknya. Kenakalan dari Farel membuat Amara harus berurusan dengan orang tuanya. Bocah kelas tiga SD itu sering berulah di kelas. Ada-ada saja kelakuannya yang membuat teman sekelasnya menjerit-jerit.
Ternyata Farel hanya tinggal berdua dengan papanya. Kesibukan papanya mengurus toko membuat laki-laki itu abai dengan anak satu-satunya. Farel diurus oleh seorang ART. Farel dibesarkan dengan limpahan materi tetapi miskin kasih sayang. Jadilah Farel bersikap sesuka hatinya.
Sikap dan kelakuan Farel mulai berubah sejak Amara sering koordinasi dengan papanya. Anak itu sudah mulai rajin belajar. Setiap sore anak itu di antar oleh orang suruhan Pak Dennis untuk belajar ke rumah Amara. Farel anak yang cerdas, setiap penjelasan yang disampaikan Amara dapat di cernanya dengan cepat. Kecanduanya terhadap gadget sudah mulai berkurang. Kedua orang tua Amara juga sayang kepada Farel.
Amara anak tunggal. Kehadiran Farel di rumah itu membuat ayah dan ibu Amara jadi senang. Sewaktu papanya pergi ke luar kota karena urusan pekerjaan, Farel pernah dititipkan di rumah Amara. Farel malah tidak mau pulang. anak laki-laki itu minta izin agar tinggal di rumah Amara.
“Bagaimana Amara ?” Kembali chat masuk ke gawai Amara.
Amara mematikan telponya. Amara tahu, Pak Dennis pasti akan menelponnya kalau chatnya tidak di jawab.
Amara serba salah. Jujur sedikitpun dia tidak ada perasaan suka kepada papanya Farel. Perhatiannya kepada Farel hanya karena dia kasihan kepada anak itu, Farel adalah siswanya. Amara ingin Farel jadi siswa yang lebih baik. Harapan dari Pak Dennis agar dia bisa jadi ibu sambungnya Farel membuat dia bingung. Amara sudah beberapa kali menolak bahwa dia tidak bersedia menjadi istrinya, tapi laki-laki itu semakin gencar mengejarnya.
“Amara, Nak Dennis menelponmu.” Ibu berkata kepada Amara. Amara menoleh ke pintu. Ibu berdiri di depan pintu. Ibu melangkah mendekati Amara dan menyerahkan gawainya kepada Amara. Tapi Amara diam dan membiarkan gawai itu tetap di tangan ibunya.
“Handphonemu mana, Amara ? Kenapa Nak Dennis bicara lewat HP ibu ?” Perempuan itu menatap Amara heran.
“Amara lagi tak mood menjawab telepon dia, Ibu. Amara lagi malas bicara.” Amara berkata malas.
Ibu menatap Amara. Dia tahu kalau putri semata wayangnya itu tidak menyukai laki-laki itu. Ibu keluar dari kamar Amara. Dari luar kamar Amara mendengar ibunya berbicara dengan Pak Dennis. Amara tak ambil pusing dengan pecakapan ibunya dengan laki-laki itu.
bersambung
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan