Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Anak Berkebutuhan Khusus (T-306)

#tantangangurusiana

.

Aku menatap tiga orang yang duduk di depanku waktu atrian di bank. Anak laki-laki yang berada diantara mereka paling menarik perhatianku. Yah... seorang Anak Berkebutuhan Khusus. Memiliki kandung yang juga ABK membuatku sering membuatku pingin kenal orang tuanya.

Bagiku bercerita dengan orang tuanya membuat hatiku lapang. Aku mrasa tidak sendiri di dunia ini. Banyak orang tua-orang tua lain sepertiku. Dan tentunya membuat aku menjadi lebih bersyukur kepada-Nya.

Menjumpai orang tua dengan membawa ABK nya di tenga keramaian sangat jarang. Karena ada sebagian orang tua yang malu “memarken” anak mereka. Bagi mereka punya ABK adalah aib.

ABK bukanlah aib. Mereka anak istimewa, dan tidak semu orang tua diberi kesempatan untuk merwat mereka. hanya orang tu terpilihlah yang dipercayai oleh-Nya untuk merawatnya.

Pelan aku pindah dududk kedekat tiga orang tersebut. Memakai masker membuat senyum persahabatan yang aku berikan tidak terlihat. Aku membuka sedikit maskerku dan tersenyum kepada Sang Ibu.

Alhamdulillah, ternyata mereka sangat ramah. Sang ibu bertanya aku mengajar dimana? Mungkin aktivitasku dari tadi yang sambil antri mengorekasi LKPD siswa di Google Clasroom diamatinya.

Aku menebutkan tempat tugasku. Ternyata sang ibu mengenal salah seorang rekan kerjaku. Tanpa kau tanya sang ibu bercerita bahwa rekan kerjaku itu teman almarhum suaminya semasa dinas di SMPN 6 Dumai.

Aku kaget, karena SMPN 6 Dumai dulu juga tempat tugasku. Kalau temanku itu amarhum suaminya kenal, tentu aku kenal.

Aku menanyakan siapa nama suami beliau. Nama yang disebutkannya membuat aku kaget. Sosok yang sangat baik. Aku tiak tahu kalau beliau sudah berpulang. Sang Ibu bercerita bahwa suami beliau dimakamkan dengan standar covid, karena terakhir beliau terdiagnosa covid. Padahal sebelumnya almarhum sudah lama di rawat karena penyakit komplikasi yang dideritanya.

Hatiku sangat sedih, panggillan natrian di CS membuat cerita kami terputus. Si ibu dengan anak gadisnya segera antri di bank.

Anak laki-laki almarhum temanku yang merupakan ABK duduk bersamaku. Aku mengajak anak itu bercakap, ternyata dia sangat antusias bercerita. Cerita yang sangat susah mengartikan maknanya. Dengan sedikit pengetahuan yang kau milki aku berusaha mengartikan setiap kata yang keluar dari bibirnya..

Hatiku sedih, anak yang berusia sekitar tujuh tahun itu sepertinya tidak tahu kalau bapaknya sudah tiada. Karena dari ceritanya aku menangkap bahwa baginya papanya sedang pergi berobat. Satu yang jelas aku memaknai ceritanya dan membuat ada bening di sudut mataku sewaktu dia berucap, “Kata Bapak tak boleh bersedih. Semangat...Semangat.” Bocah itu berkata sambil mengepalkan tangannya.

Anak laki-laki yang pintar dan cerdas. Dia pamit kepadaku sambil mencium tanganku sewaktu sang ibu dan kakak perempuannya buru-buru pulang, karena mereka diminta CS bank untuk melengkapi berkas.

Aku menatap kepergiannya dengan hati yang pilu. Doa terbaik aku lafazkan dalam hati buat dia dan keluargnya juga buat almarhum bapaknya yang juga rekan sesama mengajarku dulu.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post