Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Balasan Buat Tetangga Kepo (T-310)

#tantangangurusiana

.

Punya tetangga yang selalu kepingin tahu urusan orang lain selalu buat kesal. Tetapi mau diapakan, tidak mungkin gara-gara mereka aku pindah rumah. Harusnya mereka yang pindah karena mereka hanya mengontrak di rumah itu.

Selalu ada saja yang ditanyakan kalau mereka jumpa denganku. Terkadang aku bisa dengan ramah menjawab pertanyaan mereka. Tapi kalau aku lagi bad mood mau rasanya berkata judes pada mereka, tapi rasanya tak tega berkata kasar dan lagian itu bukan tipeku.

Sebenarnya tidak semua tetanggaku seperti itu. Ada juga yang baik. Tapi yang keterlaluan keponya yang tinggal pas di sebelah rumahku.

Rumah kontrakan di sebelah kanan rumahku ada dua petak. Pemilik rumah adalah seorang pensiunan sebuah kantor BUMN. Aku kenal dengan pemiliknya. Salah seorang anak pemilik rumah satu kantor denganku.

Aku heran dua keluarga yang mengontrak di rumah itu punya sifat yang sama. Hobbi mereka juga sama. Suka bergosip dan mau tahu urusan orang lain.

******

Perpisahanku dengan suamiku akhirnya terhendus juga oleh tetangga “istimewa”ku. Aku terpaksa memilih bercerai karena aku tidak mau dipoligami. Aku bukan penentang poligami. Tetapi aku tidak mau diduakan. Apalagi suamiku menduakan aku tanpa seizinku , istri pertamanya.

Tetangga kepoku mulai nanya-nanya masalah perpisahanku dengan mantan suamiku. Yang buat aku kesal entah darimana dia dapat berita kalau aku yang mengusir suamiku. Intinya aku yang salah dalam perceraian kami. Aku sangat kesal dengan tuduhan mereka.

Aku tidak salah dalam perceraian ini. Aku lebih memilih bercerai daripada batin tersiksa. Selama ini aku sudah berusaha jadi istri yang baik untuk suamiku. Aku menutupi semua kekuranganya. Tapi apa, Mas Doni suamiku bermain api dibelakangku. Dua orang buah hati diantara kami tidak bisa membuatnya mempertahankan mahligai perkawinan kami.

Tia dan Nadia dua orang putri kami tidak bisa menerima pernikahan papa mereka dengan istri barunya. Mereka berdua mendesakku agar meninggalkan papa mereka. Kedua putriku yang sudah mulai merangkak dewasa itu tahu bagaimana kondisi pernikahan orang tua mereka. Perlakuan dan sikap papa mereka padaku sudah menjadi tontonan mereka berdua setiap hari.

Rasa sakit dihatiku juga mempercepat proses perceraian kami. Beruntung semua aset kami atas nama kedua putri kami. Mas Doni meninggalkan rumah hanya dengan pakaian di badan. Tidak ada satupun dari harta kekayaan yang dibawanya. Karena dalam perjanjian pra nikah yang kami buat jelas disebutkan siapa yang berkhianat duluan di antara kami, maka dia tidak berhak atas semua harta pencarian selama menikah.

Tidak ada yang tahu perceraian kami. Karena memang aku jarang berinteraksi dengan tetangga kami. Pekerjaanku di kantor membuatku tidak punya banyak waktu untuk beramah tamah dengan mereka.

Tetapi aku heran dari mana meraka mengetahuinya. Apakah pejabat kelurahan tempat aku minta surat keterangan ada yang memberitahu mereka ? Entahlah.

****

Aku memandangi wajah putriku dengan heran pagi itu. Kenapa Nadia nampak marah? Siapa yang buat putriku marah pagi-pagi ini ? Tia yang datang dari arah kamar juga tampak heran melihat sikap adiknya.

“Nadia benci sama tante-tante yang tinggal di sebelah rumah kita. Setiap hari selalu nanyain Nadia tentang perceraian mama. Bete dech.” Nadia berkata dengan wajah kesal.

“Lagian Nadia ngapain bermain kesana, mbak kan udah larang. Nggak usah ditanggapin.” Tia menghibur adiknya.

“Ya Mbak.” Nadia berlalu menuju kamarnya diikuti oleh Tia. Aku bersyukur punya dua orang anak yang kompak dan saling menyayangi.

Aku terduduk. Aku kesal bukan main. Aku kira mereka berdua selama ini hanya suka kepo dan sering menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan mereka yang tak bermanfaat. Ternyata mereka juga melakukan kepada kedua putriku.

Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus bertindak. Aku tidak mau mereka menggangu putriku. Kalau selama ini mereka menggangguku dengan keingintahuan mereka aku masih bisa menerima. Tapi jagan ganggu putriku. Tunggu pembalasanku, batinku.

*****

Aku melihat kesibukan di rumah petak sebelah rumahku. Mereka sibuk menaikan barang ke truk yang sudah menunggu di depan rumah. Aku keluar melihat mereka.

Ternyata dua orang tetangga istimewaku itu mau pindah kontrakan. Aku sempat bertanya mengapa mereka pindah. Ternyata pemilik rumah meminta mereka meninggalkan kontrakan karena rumah tersebut mau dijual. Pemilik yang baru mau merenovasi rumah tersebut.

Aku mengucapkan selamat jalan kepada mereka. Tak lupa aku mengucapkan semoga mereka kerasan di rumah yang baru.

Kedua truk tersebut melaju meninggalkan rumah kontrakan itu. Aku melambaikan tangan kepada mereka.

Aku masuk kedalam rumah. Aku memandangi sebuah sertifikat rumah yang baru aku beli. Yah.. rumah kontrakan itu menjadi miliku sekarang. Aku tidak mau meninggalkan rumahku sendiri. Biar tetangga kepo itu yang meninggalkan kontrakan mereka. Aku berhasil membujuk Triani agar rumah kontrakan papanya dijual kepadaku. Kondisi keuangan keluarga Triani yang tidak sedang baik-baik saja membuat rumah itu berpindah ke tanganku dengan cepat.

Aku akan merenovasi rumah itu. Aku akan menjadikannya ruko. Aku lega tidak ada lagi tetanggaku yang kerjanya mau tahu urusan orang. Aku tersenyum puas.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post