Lili Herawati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Cermin Yang Retak (T-315)

#tantangangurusiana

.

Aku memandangi saldo di buku tabungan. Jumlah rupiah yang tertera di sana membuatku terseyum miris. Nominal yang hanya mungkin bisa membuatku dan dua orang putri kecilku bertahan hidup paling lama satu bulan. Kalau uang ini diambil terus untuk keperluan sehari-hari tentu akan habis. Bagaimana hidup kami selanjutnya ? Butiran bening mengalir di sudut mataku.

Dulu kehidupan rumah tanggaku baik-baik saja. Aku adalah seorang ibu umah tangga dengan dua orang anak. Farid suamiku adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Aku mencintainya. Banyak rintangan yang aku hadapi agar kedua orang tuaku dapat menerimanya jadi suamiku.

Tapi semuanya berubah. Suamiku tergoda oleh salah seorang teman lamanya. Perempuan yang dulu adalah mantan kekasihnya di SMA. Aku tidak menyangka Mas Farid terbujuk oleh perempuan itu. Padahal dari segi pisik aku lebih cantik dari dia. Aku juga berpendidikan. Tapi kenapa suamiku memilih wanita itu ? Suamiku rela meninggalkan aku dan kedua anaknya demi perempuan itu.

Sedikitpun aku tidak pernah membayangkan kalau kisah seperti sinetron di sebuah televisi swasta terjadi di rumah tanggaku Suamiku rela menjandakan aku demi membantu janda yang lain.

Hatiku terasa teriris. Tak kusangka delapan tahun kebersamaan kami setelah menikah ditambah empat tahun sebelumnya seperti tidak berarti baginya.

Aku berdiri dari temoat tidur dan beranjak menuju lemari. Dokumen berisi surat-surat penting termasuk ijazah sarjanaku di dalamnya aku keluarkan. Aku usap ijazah tersebut. Terbayang wajah almarhum ayahku. Ternyata beliau benar. Sebelum menikah ayah selalu memintaku agar aku bekerja.

Beliau serinng menasehatiku agar aku mencari pekerjaan. Ayah ingin agar aku punya pegangan hidup. Beliau tidak ingin aku terlantar kalau sesuatu terjadi dengan suamiku. Nasehat ayah yang tidak aku indahkan. Ayah sudah menguliahkan aku sampai sarjana. Tapi tidak pernah kau mempergunakan ijazah sarjanaku ini untuk mencari pekerjaan.

Mas Farid dulu melarang aku bekerja. Dia ingin agar aku di rumah saja mengurus rumah dan keluarga. Bujukan dia yang mengatakan mengurus keluarga lebih mulia bagi seorang istri membuatku mematuhi perkataanya untuk jadi ibu rumah tangga.

Sekarang aku baru menyesal. Almarhum ayah benar. Kalau aku bekerja tentu aku punya pegangan hidup. Harta gono gini yang kau dapat dari percerain dengan Mas Farid tidak banyak. Aku hanya mendapat rumah dan sejumlah uang dari tabungan kami. Mobil di bawa oleh Mas Farid.

Beruntung aku punya ibu mertua dan ipar-ipar yang memihak padaku. Merekalah yang memperjuangkan rumah ini untukku. Keluarga mantan suamiku sangat baik padaku. Selama ini aku banyak mendapat bantuan dari mereka.

Tapi aku tidak mungkin menggantungkan hidup dari mereka. mereka semua punya tanggungan hidup. Bagiku meraka sudah mau memperjuangkan rumah ini untukku dan anak-anak sudah sesuatu yang sangat berarti.

Aku menatap transkrip nilai di tanganku. Nilai yang sangat bagus. Dulu aku wisuda barengan dengan Mas Farid. Nilai akdemisku jauh di atasnya. Aku dahulu adalah mahasiwi yang berprestasi. Aku memegang kuat ijazah itu. Aku harus bangkit, tekadku. Aku harus bangkit demi masa depanku dan anak-anakku.

Bersambung

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post