Kuterima Lamarannya Demi Almarhum Suamiku (T-334)
#tantangangurusiana
.
Suara notifikasi di gawaiku terdengar. Cepat tanganku mengambil benda pipih itu. Sebuah pesan masuk terlihat di sebuah nama yang sangat aku kenal, dari Bang Danny sahabat almarhum suamiku.
“Maafkan aku Dinda. Aku tidak bisa melarang istriku untuk menemuimu. Aku sudah berusaha agar dia jangan menagih uang itu padamu, tapi Riani tak bisa dicegah.” Tulis Bang Danny di pesan whatsappnya.
Aku terdiam setelah membaca pesan tersebut. Setengah jam yang lalu istri Bang Danny baru saja menemuiku. Kedatangannya membuatku kaget, apalagi setelah dia memperlihatkan surat utang atas nama suamiku. Mas Yogi meminjam uang kepada sahabatnya untuk usaha.
Aku bukannya tidak mengetahui utang itu. Mas Yogi pernah menceritakan dulu kepadaku kalau dia memakai uang Bang Danny untuk modal. Aku tidak tahu kalau uang yang dipinjamkan Bang Danny ke suamiku adalah uang istrinya.
Jumlahnya tidak sedikit, sangat besar menurutku. Mas Yogi meninggal dalam keadaan ekonomi kami tidak dalam keadaan baik-baik saja.. Kalau semua aset kami yang ada dijual, aku yakin tidak bisa melunasi utang kepada Mbak Riani.
“Ya Allah, Mas, kenapa engkau meninggalkan kami dalam keadan seperti ini. Kenapa kau tinggalkan aku dan anak-anak kita dengan warisan setumpuk hutang ?” aku membatin.
Cepat aku tersadar dan istigfar. Aku tahu aku salah. Tidak boleh mengeluhkan takdir yang Allah gariskan untuk kita.
Aku bukan orang yang ahli agama tapi aku tahu bahwa membayar utang itu adalah wajib. Di dalam suatu pengajian aku pernah mendengar membayar atau melunasi hutang adalah sebuah kewajiban yang harus ditunaikan oleh orang yang berhutang.
Bahkan Islam mengajarkan bagi orang yang sudah mampu untuk melunasi hutang, agar sesegera mungkin hutangnya dilunasi. Menunda-nunda pembayaran hutang bagi orang yang telah memiliki kemampuan untuk melunasi dikategorikan sebagai sebuah kedzaliman
Dan aku juga paham jika orang yang berhutang sampai meninggal dunia belum melunasi hutangnya, dan ia meninggalkan harta waris, maka untuk pelunasan hutang diambil dari harta warisnya sebelum dibagikan kepada ahli warisnya.
Mas Yogi hanya meninggalkan warisan rumah yang aku tempati dengan anak-anak. Kalau ini dijual belum tentu cukup untuk membayar utang kepada Mbak Riani dan Bang Danny.
Dan kalau rumah ini aku jual, bagaimana dengan kami ? Dimana aku dan anak-anakku tinggal ?
Pikiranku sangat kacau sekali. Aku menekan nomor handphone Bang Danny, aku akan menelpon Bang Danny untuk mohon pengertiannya.
Bang Danny orang baik. Aku tahu itu, dia bersahabat dengan suamiku sejak sekolah menengah. Aku yakin Bang Danny paham posisiku. Hanya desakkan istrinya yang membuat dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku tidak mau membuat Bang Danny ribut dengan istrinya gara-gara utang suamiku. Aku yakin Mas Yogi juga tidak akan tenang di alam sana. Apa yang harus aku lakukan ? Aku betul-betul tidak tahu harus berbuat apa.
Mengadu pada keluarga ? Aku tahu bagaimana susahnya perekonomian saudara-saudaraku. Aku juga tidak mau menyusahkan mereka.
Aku sedikit lega setelah Bang Danny berjanji kepadaku akan membujuk istrinya untuk memberiku waktu mengganti uangnya.
******
Sore itu aku berjumpa Bang Danny dan istrinya. Mbak Riani memberiku waktu lima bulan untuk melunasi utang Mas Yogi.
Aku sudah berusaha memohon pada Mbak Riani agar aku diberi waktu lebih lama untuk melunasinya. Mbak Riani berkeras hanya memberiku waktu lima bulan saja.
Dalam waktu lima bulan jika aku tidak sanggup melunasinya maka rumah yang aku tempati akan berpindah ke tangannya.
*******
Tiga bulan setelah pertemuanku dengan Mbak Riani dan suaminya, sebuah pesan masuk ke whatsappku. Pesan dari Mbak Riani, dia mengingatkanku akan tempo yang tersisa untuk pelunasan utang.
Waktu yang dijanjikan Mbak Riani hanya tinggal sekitar dua bulan lagi. Aku betul-betul bingung. Jangankan untuk membayar utang Mbak Riani, untuk keperluan sehari-hari saja aku sudah kesulitan.
Lamaran pekerjaan yang aku masukan ke beberapa kantor belum mendapat tanggapan. Aku tidak tahu harus melakukan apa.
Aku hanya bisa mengadu kepada-Nya. Doa yang selalu aku lafazkan agar aku terhindar dari masalah ini.
*****
“Bagaimana Dinda ? Kau menerima lamaranku ?” Laki-laki yang berada di depanku berkata pelan. Tatapan matanya menatapku lembut. Aku menghindari tatapannya.
Laki-laki yang satu bulan terakhir ini hadir di tengah keluargaku memintaku untuk jadi istrinya.
Dia mendekati ketiga anak-anakku. Dia berhasil menarik simpati Yola putriku dan kedua adiknya.
“Kamu sudah lama mengenalku. Kamu tahu bagaiama sifatku. Aku berjanji akan menjagamu dan anak-anakmu. Aku juga akan melunasi utang almarhum suamimu.” Dia berkata sambil manatapku lama.
Om Riswan, dia adalah teman papaku. Seorang duda tanpa anak yang sudah lama ditinggal oleh istrinya. Istri Om Riswan pergi meningalkannya karena menikah dengan laki-laki lain.
Walaupun sebaya dengan papa, Om Riswan nampak lebih muda. Uang punya andil di dalamnya.
Tiga bulan yang lalu aku pernah mendengar rencana Om Riswan akan menjadikan aku sebagai istrinya kepada papa.
Aku yang salah. Aku menceritakan masalahku kepadanya dengan maksud ingin meminjam uang untuk melunasi utang almarhum suamiku.
Om Riswan hanya diam saja waktu itu. Tapi dia berjanji akan mencarikan solusi untukku. Aku tidak tahu kalau solusi yang dia carikan dengan menjadikan aku istrinya.
Empat bulan setelah kematian Mas Yogi, Om Riswan kembali mengutarkan niatnya ingin melamarku pada papa.
Om Riswan meminangku pas masa iddahku habis. Papa tidak memaksaku untuk menerima lamarannya, semua keputusan diserahkan kepadaku.
Om Riswan sangat kaya. Dari segi materi aku yakin aku tidak akan kekurangan. Hartanya sangat banyak. Tapi apakah harta yang banyak jaminan untuk hidup bahagia ? Istri Om Riswan saja pergi meninggalkan Om Riswan, pasti karena ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa bertahan.
Aku juga tidak mencintainya. Aku sudah terlanjur menganggapnya seperti papaku.
“ Bagaimana Dinda ? Aku beri waktu kamu berpikir satu minggu.” Om Riswan berkata lagi.
Laki-laki itu kemudian berdiri mendekati ketiga buah hatiku yang sedang bermain. Menciumi mereka kemudian pamit meninggalkanku.
Aku terdiam setelah kepergiannya. Aku tidak tahu apakah lamaran Om Riswan jawaban atas doa-doaku.
Aku menatap ketiga anak-anakku yang asyik bermain. Mainan baru yang dibelikan Om Riswan membuat mereka sangat senang.
*****
“Aku terima nikahnya Dinda Hapsari binti Suseno dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai.” Ucapan itu lancar keluar dari mulut Om Riswan. Semua yang hadir di mesjid tempat kami menikah mengucapkan Hamdallah.
Hatiku tergetar. Aku resmi jadi istrinya. Aku terima Om Riswan setelah melalui perdebatan batin yang sangat panjang. Munajat kepada-Nya juga membuat aku bulat menerima lamarannya. Aku berharap semoga kebaikannya bisa menghadirkan cinta di hatiku
Sesuai dengan janjinya kepadaku, Om Riswan melunasi semua hutang-hutang suamiku. Hutang yang tidak sedikit. Om Riswan mengajakku dan anak-anak tinggal di rumahnya yang megah.
*****
Aku berdiri untuk terakhir kalinya di ruangan ini. Aku mengalihkan tatapanku ke seluruh ruangan. Kamar yang dulu aku tempati bersama Mas Yogi. Kamar yang akan aku tinggalkan.
Banyak kenangan di dalam kamar ini. Hari ini aku akan meninggalkan rumah ini. Karena aku akan tinggal di rumah suamiku.
Aku berdiri di bawah foto suamiku yang masih terpajang di dinding. Aku usap foto itu perlahan.
“Maafkan aku, Mas. Hanya dengan menikahi Om Riswan aku bisa melunasi hutang-hutangmu. Semoga ini adalah pengabdian terakhirku kepadamu. Aku mau engkau di alam sana bisa beristirahat dengan tenang. ” Batinku.
“Mama.... cepat, Ayah sudah menunggu.” Suara Yola putri tertuaku terdengar. Anak-anak memanggil papa baru mereka dengan sebutan ayah.
Anak berusia tujuh tahun itu terdiam sewaktu melihatku menangsi di bawah foto papanya.
“Papa pasti senang melihat kita sekarang tidak susah lagi. Mama tidak perlu payah-payah lagi mencucikan baju tetangga.” Anak kecil itu berkata perlahan.
Aku memeluknya. Susah mencari pekerjaan membuatku menerima loundry dari tetangga untuk menyambung hidup kami.
“Ayok Mama.” Yola menarik tanganku.
Aku mengikuti putriku keluar. dari kamar. Mas Riswan dan dua orang anakku menyambutku. Ketiga anak-anak itu berebut duduk di bagian belakang mobil Mas Riswan. Mereka nampak sangat senang berada di mobil mewah ayah sambungnya..
Laki-laki itu tertawa melihat ulah anak-anakku. Dia menatapku sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya.
"Aku akan berusaha mencintaimu, Mas." Batinku.
Sekali lagi aku menatap rumah yang akan aku tinggalkan. Juga meninggalkan segala kenangan yang ada di dalamnya. Selamat datang kehidupan baru.
tamat
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan